Orang kok Bisa-bisanya Bilang Tiket Pesawat Tidak Mahal?

Orang kok Bisa-bisanya Bilang Tiket Pesawat Tidak Mahal?

Ilustrasi (Photo by Ken Yam on Unsplash)

Harga tiket pesawat tidak mahal kembali menjadi perbincangan panas. Konon, inilah harga aslinya. Sementara, harga tiket sebelumnya merupakan bagian dari taktik promosi. Kemudian, ada asumsi bahwa harga tiket promosi itu membebani finansial maskapai penerbangan. Mereka pun kesulitan membiayai operasional pesawat.

Pertanyaannya, beberapa orang yang cuap-cuap meramaikan #TiketPesawatTidakMahal dengan keyakinan penuh itu tahu dari mana? Apakah mereka pernah bicara setidaknya dengan humas salah satu maskapai? Atau, jangan-jangan hanya berasumsi? Apalagi, mereka sama sekali tidak pernah menyebutkan referensinya dari mana.

Memang sih, terlalu mudah dan murah untuk menyebarkan asumsi yang aneh-aneh di internet. Yang penting viral dulu. Peduli amat dengan sobat misqueen. Tapi, tahu tidak, betapa sesaknya dada ketika mengabarkan kepada orangtua bahwa kali ini tak bisa pulang kampung gara-gara harga tiket pesawat mahal?

Sementara, jarak yang terbentang jauhhh tak mungkin ditempuh dengan moda transportasi lain. Ya, Indonesia memang luas, tetapi menggunakan argumentasi tersebut sebagai dasar bahwa harga tiket pesawat tidak mahal, tentu tak masuk logika.

Baca juga: Soal Kelakuan Aneh Penumpang MRT, Tolong, Jangan Dipermalukan di Media Sosial

Jadi, begini. Harga tiket dari Jakarta ke Kuala Lumpur pada waktu normal hanya Rp 500 ribu. Bahkan, terkadang bisa setengahnya kalau penerbangan ke Ibu Kota Malaysia itu lagi sepi. Sementara, dari Jakarta ke Medan, yang hanya dipisahkan oleh Selat Malaka dan Kuala Lumpur, bisa menghabiskan biaya hampir tiga kali lipat untuk tanggal-tanggal yang bukan tanggal libur.

Jadi, uang untuk membeli tiket pesawat dari Jakarta ke Medan bisa digunakan untuk membeli tiket pulang pergi Jakarta-Bangkok. Padahal, jaraknya jauhan mana, sih? Jarak antara Jakarta dan Bangkok itu sekitar 2.328 km, dengan rata-rata waktu penerbangan selama 3 jam 31 menit. Sedangkan jarak Jakarta-Medan sekitar 1.421 km dengan rata-rata durasi penerbangan sekitar 2 jam 5 menit.

Coba cek daerah lain di Indonesia deh, lalu bandingkan dengan penerbangan ke luar negeri, maka kita bisa temukan beragam kasus serupa. Apa iya, gara-gara ini, saya harus memindahkan kampung halaman ke luar negeri biar murah? Memang cuma Ibu Kota aja yang bisa dipindahin? Eh, nggak ding, bercanda. Hehe.

Baca juga: Ibu Kota Mau Pindah? Jangan Abaikan 7 Hal Ini

Persoalan kedua dari harga tiket pesawat ini adalah naiknya mendadak. Kalender berganti tahun 2019, dan tanpa komunikasi yang efektif dan tanpa negosiasi, harganya naik hampir dua kali lipat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Ya, semoga saja maskapai segera menurunkan harga tiket, seiring langkah pemerintah memangkas tarif batas atas.

Kalaupun harga naik, kalau bisa sih jangan tinggi-tinggi, harus diimbangi dengan peningkatan kualitas pelayanan. Sayangnya, kualitas pelayanan ya gitu-gitu aja. Kebijakan kargo gratis 15 kilogram pun dihilangkan oleh sejumlah maskapai penerbangan.

Pemegang kartu eksklusif juga harus kehilangan atau dikurangi sejumlah privilesenya, walaupun sudah bayar mahal. Ini tentu saja belum berbicara soal pengalaman di bandara terkait pelayanan pegawai maskapai.

Masalah-masalah soal tiket ini kemudian berdampak serius. Bandara menjadi sepi, kecuali saat libur panjang atau musim mudik. Setidaknya ada lima bandara yang mengalami itu, yakni Bandara Ngurah Rai, Halim Perdanakusuma, Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Kualanamu, dan Minangkabau.

Baca juga: Angkutan ‘Online’ adalah Tanda-tanda Kemunduran Sebuah Kota

Ada yang bilang kalau maskapai domestik itu hanya ‘jago kandang’, mahal di negeri sendiri, tapi murah kalau ke luar negeri karena harus bersaing ketat dengan maskapai asing.

Alhasil, harga tiket pesawat domestik yang mahal itu ikut menurunkan kunjungan wisatawan lokal. Kata Menteri Pariwisata Arief Yahya, kenaikan harga tiket mengakibatkan kunjungan wisatawan domestik selama Januari-Maret 2019 turun rata-rata 30%. Tuh kan, dampaknya ke mana-mana.

Kalau secara umum, mahalnya harga tiket pesawat bikin jumlah penumpang domestik anjlok. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penurunan hingga 1,45 juta orang. Pada Oktober 2018, jumlahnya mencapai 8,11 juta, kemudian angkanya terus menurun hingga menjadi 7,93 juta pada Desember 2018 dan 6,66 juta pada Januari 2019.

Itu fakta ya, bukan asumsi gezz!

Lantas, bisakah tiket murah (alias promosi) membunuh maskapai penerbangan seperti yang dikhawatirkan? Bisa, kalau maskapai tersebut sering lalai terhadap aturan atau buruk secara manajemen, seperti yang terjadi di sejumlah maskapai yang gulung tikar.

Artikel populer: Hidup Ini Dimulai dari Kisah LDR, maka Berhenti Menyalahkannya

Apakah ada maskapai penerbangan yang bangkrut hanya gara-gara tiket murah? Sepertinya tidak ada yang faktor tunggal begitu, karena lebih disebabkan oleh buruknya tata kelola perusahaan dan ketidakpatuhan terhadap aturan.

Jadi, intinya, harga tiket pesawat memang mahal. Pertanyaannya, kok ada orang yang bilang bahwa tiket pesawat tidak mahal? Mirisnya, malah menyalahkan sesama pelanggan. Solusinya tidak semudah “kalau suka pakai, kalau tidak tinggalkan”.

Lha, bagaimana kalau ada orang yang tidak punya pilihan lain selain naik pesawat? Ya, inilah yang tidak dipahami mereka yang sibuk berkoar bahwa tiket pesawat tidak mahal. Tolong ya, mindset-nya.

2 COMMENTS

  1. Ngakak aku mas bacanya
    Penutupmu itu aja asumsi ko hahaha. Jadi tulisan mu ini ya kurang bisa di nalar.
    Tambahin ya datanya

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.