Orang Boleh Pintar, tapi Selama Tidak Baca Fiksi, Mereka akan Merugi

Orang Boleh Pintar, tapi Selama Tidak Baca Fiksi, Mereka akan Merugi

Ilustrasi (Min An via Pexels)

Saya pernah mengerjakan tugas menganalisis buku, saat pelajaran Bahasa Indonesia semasa SMA dulu. Ketika itu, saya memilih buku Harry Potter and the Order of the Phoenix sebagai bahan kajian.

Namun, tak disangka, guru Bahasa Indonesia mengembalikan tugas saya dengan memberi nilai 0 sambil berkata, “Kamu tidak akan dapat apa-apa dari buku Harry Potter.”

Ah, mengapa demikian? Benarkah buku fiksi serendah itu?

Sebetulnya tidak.

Selama ini, memang banyak kalangan yang menilai buku fiksi sebagai buku yang tidak mencerdaskan. Membaca buku fiksi sering dianggap sebagai kegiatan yang membuang-buang waktu dibandingkan mereka yang membaca buku diktat atau buku motivasi.

Membaca novel, misalnya, dibilang tidak praktikal. Tapi, mari kita lihat lebih dalam lagi. Apa memang benar seperti itu ataupun kalau tidak, apa untungnya?

Keputusan saya memilih novel Harry Potter sebagai bahan kajian waktu sekolah dulu sebetulnya ingin menganalisis perkembangan karakter remaja dan hubungannya dengan orang lain, dengan menganalisis kondisi psikologis dan logika berpikir mereka.

Baca juga: Delapan Buku Fiksi Wajib Baca sebelum Usia 30

Analisis tersebut juga mencakup hubungan antar-kata yang bisa diurai dengan ilmu linguistik. Nah, hal-hal itu bisa didapatkan dengan membaca satu novel saja.

Sementara, dalam satu buku non-fiksi, belum tentu bisa menemukan dua aspek keilmuan sekaligus. Tapi, ketika membaca novel, terutama saat terjadi dialog antar-karakter, kita bisa mengambil ilmu dari apa yang mereka ucapkan.

Belum lagi emosi yang teraduk, serta logika dan imajinasi yang begitu meletup-letup, memangnya bisa didapat dari apa? Tiga aspek tambahan yang juga spesial itu tidak bisa diperoleh dari buku non-fiksi, misalnya biografi.

Apakah pembaca biografi George Orwell akan dianggap lebih pintar daripada penikmat Animal Farm? Saya rasa tidak.

Dalam biografi, penulis membeberkan kisah hidup seseorang dengan komplit. Tentang masa lalu seorang tokoh, gejolak yang terjadi selama mereka hidup, sudut pandang mereka, sampai dengan meninggalnya tokoh tersebut. Dalam hal ini, George Orwell.

Baca juga: Bedah Status Lebih Penting daripada Bedah Buku

Sementara itu, karyanya yang berjudul Animal Farm berisi tentang pola pikir Orwell yang tajam dan cerdas, dibungkus dengan keindahan alegori dalam narasinya, serta dapat memicu banyak implikasi yang kemudian mengarah pada penelitian dan keilmuan yang lebih lanjut. Misalnya, politik dan imperialisme.

Biografi menawarkan fakta yang saklek dan tidak bisa diganti-ganti, sedangkan novel mengajak kita berpikir dan berdiskusi tentang kemungkinan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Dalam hal ini, novel lebih unggul dalam melatih pola pikir kita, bahkan bisa memunculkan ide baru yang sama hebatnya.

Contoh lain adalah membaca buku astrofisika karya Neil deGrasse Tyson. Di dalamnya, terdapat hal-hal brilian tentang kosmos dan hukum-hukum alam yang njelimet. Fakta bahwa bumi terbentuk dari ledakan Big Bang, bahwa blackhole itu ada dan dia memiliki gravitasi kuat yang bisa menyerap apa saja termasuk cahaya, dan sebagainya.

Yang kita dapatkan dari buku tersebut adalah apa yang kita baca. Dalam hal ini, ilmu astrofisika yang disuapkan kepada kita.

Artikel populer: Seberapa Banyak Beli Buku, Ujung-ujungnya Tidak Dibaca

Namun, saat kita membaca novel Leviathan Wakes karya James S.A. Corey, kita tidak hanya disuguhi fakta-fakta hebat luar angkasa. Kita juga bisa melihat intrik politik dan kolonialisme antara komunitas masyarakat Bumi, Mars, dan Belter (penduduk yang tinggal di Sabuk Asteroid).

Dari situ, kita bisa melihat kondisi psikologis seseorang yang berada dalam tekanan dan dalam pilihan-pilihan sulit. Kita bahkan bisa mengkhayalkan bagaimana jika dunia dan tatanan masyarakat dalam Leviathan Wakes benar-benar ada.

Seperti yang diutarakan Mark Twain, “Truth is stranger than fiction, but it is Fiction is obliged to possibilities; Truth isn’t.”

Dunia fiksi adalah dunia kemungkinan-kemungkinan yang menarik dan dapat ‘menyulut’ kognitif maupun emosi seseorang. Secara tidak langsung, fiksi menawarkan banyak hal dan dapat mengajarkan berbagai hal sekaligus dalam satu buku. Dan, jangan lupakan faktor entertainment yang bisa didapatkan dari membaca buku fiksi.

Jadi, jika suatu hari ada orang yang merasa pintar bertanya apakah kalian suka baca buku fiksi, iyakan saja dengan bangga. Sebab, kalian tidak kalah pintar.

Tapi sebaliknya, mereka boleh pintar setinggi langit, tapi selama tidak membaca buku fiksi, mereka termasuk golongan orang-orang yang merugi.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.