Ilustrasi perempuan (Image by Monica ly from Pixabay)

Ada yang nonton video Ningsih Tinampi nggak, yang menyalahkan korban perkosaan? Di video itu, dia berkata secara gamblang alias cetho welo-welo seperti ini:

“Orang diperkosa itu, jangan menyalahkan orang yang merkosa. Bapak ibu yang punya anak-anak perempuan, orang yang merkosa, jangan menyalahkan orang yang merkosa. Karena apa, orang yang merkosa itu nafsunya datang dari orang yang diperkosa. Jadi, semua itu salahnya wonge, salahnya wedoke. Dia selalu pakai baju yang mini-mini, dan dia selalu genit-genit di depan orang. Jadi itu yang membuat muncul pemerkosaan, jadi pemerkosaan bukan berarti orang yang merkosa sing salah, tidak, bagi aku, orang yang salah itu orang yang diperkosa. Bene lecek, wong ancene dipamer-pamerno, yo pora?”

Gemes nggak sih denger ada perempuan yang notabene seorang ibu, tega ngomong begitu? Terlebih di video itu, banyak laki-laki dan perempuan yang mengamini omongan pengobat alternatif yang sedang naik daun tersebut. Hiks.

Baca juga: Wahai Suami, kok Ngebet Banget Sampai Istri Sendiri Diperkosa?

Padahal, kita ngomongin korban loh, yang nggak cuma perempuan dewasa. Banyak juga anak-anak yang jadi korban perilaku cabul orang dewasa, bahkan orangtua sendiri. Apa iya, bocah-bocah itu paham bagaimana caranya bergenit-genit ria?

Mau genit gimana coba, semisal kasus pemerkosaan seorang anak perempuan oleh ayah tirinya di Jakarta Selatan, belum lama ini. Anak perempuan ini baru berumur 9 tahun, pemerkosaan berlangsung selama 2 tahun, itu berarti adik kecil kita ini pertama kali diperkosa ketika usianya 7 tahun.

APA IYA, ANAK TUJUH TAHUN NGERTI GIMANA BERGENIT RIA, MENGGODA AYAH TIRINYA?!!

Maap, capslock-nya memang sengaja dipencet. Ya gimana coba, kasus-kasus seperti itu nggak sedikit jumlahnya, ada pula anak yang baru berusia 10 tahun di Tabalong, Kalsel, yang juga diperkosa oleh ayah tiri. Itu berarti kejadiannya ketika sang anak baru kelas V SD.

Saya punya anak seumuran para korban. Palingan mereka masih ngobrolin gimana caranya bikin mainan bernama slime. Kalau yang usia 12-13 tahun, paling poll ngobrolin K-Pop. Boro-boro bergenit ria, wong organ seksualnya saja belum tumbuh sempurna.

Baca juga: Kepada Lelaki Nusantara yang Masih Nafsu dan Nyinyirin Pakaian Seksi

Dengan kondisi seperti itu, apa sih yang merepresentasikan sex appeal mereka, sehingga bisa memancing hasrat lelaki dewasa? Nggak ada, kan?

Dan, kita belum ngomongin tentang para penyintas kejahatan seksual di lokasi gempa, semisal di Sulawesi Tengah, beberapa waktu lalu. Bayangkan, dalam situasi sulit, kok masih ada yang sempet-sempetnya melakukan kejahatan seksual?

Menurut catatan Kelompok Perjuangan Kesetaraan Perempuan Sulawesi Tengah (KPKP-ST), terdapat lebih dari 20 kasus kejahatan seksual yang dialami oleh pengungsi anak-anak perempuan juga perempuan muda.

Coba bayangkan lagi, apa mungkin para perempuan muda ini sempat berpikir untuk bergenit-genit ria di tengah suasana bencana, agar dilirik para lelaki hidung belang? Mereka korban bencana alam loh, harus pula jadi korban kejahatan seksual.

Baru-baru ini, muncul berita bahwa Indonesia menduduki peringkat dua dalam hal “The Most Dangerous Country for Women” di kawasan Asia Pasifik menurut Value Champion. Wow, peringkat dua!

Negeri kita tercinta ini hanya satu peringkat di bawah India yang memang ranking satu sebagai negara paling tidak aman untuk ditinggali oleh perempuan. India bukan hanya ranking satu di Asia Pasifik, tapi juga di dunia.

Baca juga: Kamu Bilang Perempuan di Rumah Saja Biar Aman, tapi Nyatanya Tidak

Menurut Value Champion, posisi Indonesia sebagai negara kedua paling tidak aman bagi perempuan untuk kawasan Asia Pasifik ini berdasarkan data penanganan kesehatan, keamanan, dan lain-lain, serta kesetaraan gender terhadap perempuan di negeri ini.

Hal-hal lain yang membuat Indonesia menduduki peringkat adalah, catatan dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yang menyebutkan bahwa satu dari tiga perempuan di Indonesia (tak terbatas usia, baik anak-anak, remaja, maupun dewasa) pernah menjadi korban kekerasan fisik maupun seksual sepanjang hidupnya.

Makanya, siapa yang nggak jengkel mendengar pernyataan dari Ningsih Tinampi yang dengan entengnya menyalahkan korban perkosaan karena berpakaian mini dan ‘bergenit-genit ria memprovokasi nafsu berahi laki-laki’.

Tolong dicatat ya, menurut catatan Lentera Sintas Indonesia bahwa dari 62.224 responden, tercatat 18% korban pelecehan seksual memakai rok/celana panjang, 17% memakai hijab, 16% memakai baju lengan panjang, 14% memakai seragam sekolah, dan 14% memakai baju longgar.

Artikel populer: Salah Paham soal Selaput Dara

Diketahui juga waktu kejadian pelecehan seksual banyak terjadi pada siang hari. Ini juga membantah mitos-mitos bahwa pelecehan seksual sering terjadi pada malam hari. Faktanya, pelecehan seksual pada siang hari sebesar 35%, sore 25%, pagi 16%, dan malam 3%. Bentuknya bisa bermacam-macam, paling banyak verbal di tempat umum seperti komentar atas tubuh.

Begini ya, sesama perempuan bukannya ikut memperjuangkan hak-hak perempuan, eh malah nyalah-nyalahin sesama perempuan. Yang disalahin korban kejahatan seksual pula. Itu apa namanya coba, kalau bukan ‘budaya memerkosa’ (rape culture)?

Nah, teruntuk kamu-kamu yang membaca artikel saya sebelumnya berjudul “Suami Perkosa Istri Diketawain, Apakah Kita Hidup di Negara ‘Rape Public’?”, nggak usah nyinyirin saya lagi ya. Kita ini memang hidup di negara rape public, kok.

2 KOMENTAR

  1. Dari awal saya nggak percaya sama sekali sama segala perkataan ibu itu, dan siapapun orang sejenisnya.
    Berpikir logis lah, ini sudah 2019 bukan 1980, koq bisa orang2 masih percaya dengan orang “halu” yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit, termasuk penyakit fisik ganas dan spiritual ?

    Kalau ilmu kedokteran diakui seluruh dunia, terus diperbaharui puluhan tahun, itu yang harus dipercaya, bukannya ibu2 tanpa dasar yang jelas.

    Saya seorang psikolog semakin lama semakin muak melihat indigo, dukun, orang yang mengaku penyembuh kangker, tumor, bahkan HIV, dll yang mendapatkan “ilmunya” dari mimpi ketemu kakek2 berbaju putih. Apalagi di 2019 ini semakin menjamur orang2 seperti ini.

    Orang seperti ini memang memiliki gangguan pemikiran, biasanya mereka dari kalangan pendidikan rendah yang dari kecil sudah di doktrin oleh orang tuanya bahwa dia punya kemampuan khusus, sampai dewasa dia akan tumbuh dengan pemikiran itu, otaknya menciptakan sendiri hal2 yang tidak ada.

    Sayangnya banyak orang nge-fans sama ibu itu. Dan pendapat orang itu bahwa tindakan perkosaan yang bersalah adalah wanita, itu berbahaya karena bisa membuat fans-nya terutama yang dari pendidikan rendah juga akan percaya, dan akhirnya memiliki pemikiran yang sama karena mengira itu sesuatu yang benar.

    Yang lebih mengerikannya, bisa jadi sebuah excuse/dalih oleh pelaku pemerkosaan, dan dampak negatif untuk korban perkosaannya adalah disalahkan oleh pihak keluarga, padahal sang korban membutuhkan support.

    Saya beberapa kali menemukan kasus seperti ini, korban perkosaan malah di kucilkan orangtuanya, diperlakukan seperti sampah yang dibuang.

    Saya sendiri juga saat kecil menjadi korban pelecehan seksual oleh tetangga, dan saya malah disalahkan oleh orangtua saya, bahkan sampai dipukuli, katanya ini pasti saya berbohong dan durhaka, karena si pelaku itu orang terpandang dan religius di kampung saya. Orangtua saya hanya lulusan SD, jadi pemikirannya terbatas. Saat itu saya masih SD kelas 2, tidak bisa melalukan apapun.

    Mau apapun yang terjadi, apapun alasannya, korban perkosaan atau pelecehan adalah KORBAN!, dan pelaku harus dihukum seberat beratnya!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini