Nyinyirin Perempuan Berotot? Jangan-jangan Itu Ketakutan Imajinermu Saja

Nyinyirin Perempuan Berotot? Jangan-jangan Itu Ketakutan Imajinermu Saja

Pevita Pearce (Instagram)

Adik perempuan saya yang paling bungsu kerap gembira saat menonton potongan video berisi aksi-aksi ciamik Puteri Merida memainkan anak panah dalam Brave (2012). Ia tak punya pretensi politis – tentu saja, satu-satunya alasan ia lebih mengidolakan Merida ketimbang Cinderella karena Merida memiliki bentuk rambut yang sama; keriting. Sebagaimana anak-anak pada umumnya, ia memang menggemaskan, kecuali saat ngoceh minta dibelikan Kinderjoy.

Sebab itulah, saat nobar beberapa film Princess besutan Disney, saya tak berharap ia mengajukan pertanyaan kritis – seperti yang pernah dilakukan The Washington Post dalam Researchers have found a major problem with ‘The Little Mermaid’ and other Disney movies semisal, mengapa sih Cinderella nggak punya bakat dan hobi? Atau, kenapa Aurora – dalam Sleeping Beauty – seolah-olah hanya mampu tertidur sambil menunggu juru selamat?

Di satu sisi, saya tak bisa mencegah rasa haru atas pujaan adik saya. Bagi saya, ia tak keliru memilih. Sebagai film pertama yang ditulis dan disutradarai oleh perempuan, yakni Brenda Chapman, Brave paling tidak telah berhasil mengencingi nilai-nilai misoginik yang kerap menganggap perempuan sebagai sosok yang tak berdaya tanpa pangeran dan ‘pedangnya’ – seperti di film pendahulunya.

Baca juga: ‘Maleficent: Mistress of Evil’, Ya Begitulah Seharusnya Cinta

Tapi di sisi lain, secepat mungkin ia harus segera memahami bahwa perempuan yang ‘kuat’ seperti Merida tak jarang dianggap tabu dan menakutkan. Bagaimanapun, manusia tumbuh dan berkembang dengan ketakutan imajiner.

Beberapa dari kita pernah misuh-misuh saat melihat buku dengan sampul janggut Karl Marx, dan mempercayai adagium “Ada hantu bergentayangan di Eropa Indonesia… Hantu komunis”. Dengan alasan ketakutan itu, mereka membakar dan menyita buku-buku.

Sebagian lain percaya bahwa menikah, beranak, dan berbahagia adalah cara tercepat menuju masyarakat madani. Lalu, merisak orang-orang yang nyaman dengan status lajang, seolah-olah mereka adalah wabah penyakit berbahaya yang harus segera ditumpas.

Dan, tak sedikit pula kelompok yang menyudutkan kaum perempuan yang memilih menjadi kuat – baik dalam arti harfiah atau tidak – dan berotot. Pikir mereka, perempuan yang berotot akan menjadi buas dan liar, berbahaya dan bisa mengedarkan kecemasan. Sebagaimana ketakutan imajiner, semuanya bekerja dalam lingkup yang tak bisa dibuktikan.

Bayangin deh, Lur, karena ketakutan imajiner pada perempuan ‘kuat’ diidap secara kolektif, sampai-sampai kita mengenal istilah Gymtimidation untuk mereka yang pernah diintimidasi di pusat kebugaran.

Baca juga: Wahai Pemuja Ilusi Maskulinitas, Apalah Artinya Penis kalau Isi Kepala Rapuh?

Bahkan, dalam survei Cosmopolitan, sebesar 14% perempuan di Inggris enggan kembali ke tempat gym karena menerima beragam tekanan dari laki-laki. Atau, coba baca penelitian yang dilakukan di Amerika sepanjang Maret-September untuk mengetahui presentasi ketimpangan dalam aktivitas fisik antara laki-laki dan perempuan.

Di Indonesia, baru-baru ini dalam kolom komentar akun Instagram milik Pevita Pearce kena efek “maaf sekedar mengingatkan” dari netizen, karena aktris beken itu men-share fotonya di gym, dengan tubuh yang tampak berotot.

Ada netizen yang bilang, “Bukan bermaksud apa-apa ya Pev, tapi cowok biasanya lebih suka cewek yang bodynya feminim. Bentuk tubuh yang wanita yang seharusnya, bukan berotot.” Tapi untunglah, Pevita kelewat tangkas dan membalas dengan lugas, “Bukan bermaksud apa-apa tetapi apa yang saya lakukan untuk diri saya sendiri bukan untuk cowok seperti anda.”

Ujung-ujungnya, apalagi kalau bukan sekelumit ‘tuntutan’. Perempuan berotot dianggap sebagai yang lian dan ‘selera kebanyakan laki-laki’ dijadikan justifikasi bahwa bentuk tubuh perempuan harus mengikuti nilai ideal mereka.

Anggapan tak berdasar bahwa perempuan dan olahraga adalah dua hal yang bersinggungan seolah-olah terus diedarkan di ruang publik. Padahal seharusnya, akses untuk memperoleh hak hidup sehat tidak perlu disekat oleh pertanyaan konyol seperti “apa jenis kelaminmu”, bukan?

Baca juga: Kamu Bercandanya Seksis dan Itu Nggak Ada Lucu-lucunya

Rasa-rasanya, kita patut mengenang “Lift For Planned Parenthood” sebagai acara pertama yang digagas oleh Women’s Strength Coalition. Kelompok yang mempercayai bahwa akses terhadap kebugaran adalah isu sosial menggelar kompetisi angkat besi khusus untuk perempuan dan mereka yang memiliki latar belakang gender non-biner.

Selain menjadi ruang berkumpul bagi insan terdzalimi, acara ini berangkat dari pengalaman buruk Gymtimidation para anggotanya. Dalam sebuah wawancara, Sayeeda Chowdhury berkata, “Saya berharap saya bisa mendapat keberanian untuk pergi menuju ruang kardio suatu hari nanti, tetapi tidak pernah membayangkan pergi ke tempat yang penuh dengan testosteron dan orang-orang yang tak henti-hentinya memberi tatapan.”

Di Indonesia sendiri, kompetisi olahraga untuk perempuan masih belum mendapat porsi yang memuaskan atau belum diberi perhatian lebih.

Liga 1 Putri telah memasuki series ketiga. Tapi sayang, gaungnya tidak seheboh ulah Gubernur Kalimantan Tengah yang melempar botol ke tengah Stadion Tuah Pahoe, saat kesebelasan Kalteng Putra melawan Persib Bandung.

Padahal, gelaran olah si kulit bundar untuk para perempuan ini sangat menarik. Pertama, ia menjadi bukti bahwa sepak bola bukan hanya milik laki-laki. Kedua, kompetisi ini adalah opsi yang sejajar – bahkan jauh lebih ciamik – untuk diperbincangkan di kedai kopi, ketimbang klub semenjana dari liga Inggris yang selalu jadi bahan cemooh para warganet. Itu loh, klub yang inisialnya M sama U, wqwq.

Artikel populer: Selamat Datang Rezim ‘Influencer’! Kami Memang Tak Punya Kuasa, tapi Kami Menolak Derita

Memang ada orang yang peduli terhadap nasib kompetisi ini, tapi jumlahnya begitu timpang ketimbang orang-orang yang tak acuh, apalagi dibanding dengan individu yang hanya menjadikan atlet sepak bola perempuan sebagai objektifikasi.

Coba deh kamu ketik “atlet sepak bola liga 1 putri” di mesin pencari, niscaya yang muncul paling atas adalah kenyataan bahwa kebanyakan media daring senang betul mengeksploitasi tubuh perempuan.

Alih-alih memberi kabar menggembirakan perihal prestasi para binaragawati, misalnya, mereka justru membuat headline besar-besar seperti: “Wow… Ini Dia 5 Atlet Berwajah Cantik” atau “Paras Pesepakbola Ini Membuat Anda Betah Menonton”. Ngejar trafik sih ngejar trafik, tapi jangan seksis juga, keleus.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.