Ilustrasi anak dan orangtua (Photo by Albert Rafael from Pexels)

“Kau larang suami poligami, datanglah pelakor. Kau lawan pelakor, suamimu malah jajan sama jablay. Kau larang suamimu jajan sama cewek, eh akhirnya dia jajan sama cowok.”

Meme semacam itu selalu berseliweran di media sosial sebagai propaganda soal poligami. Saya sih cuma cekikikan, begitu juga dengan teman saya yang kebetulan seorang nyai yang lahir, besar, dan tumbuh di lingkungan pesantren milik abahnya. Sebenarnya dia ngenes juga karena agama selalu dijadikan dalih untuk perkara yang ujung-ujungnya cuma urusan kebutuhan seksual.

Ngomong-ngomong soal kehidupan seksual, tentunya kami sebagai perempuan kadang ngobrolin juga kalau lagi ngumpul. Wajar lah, itu kan basic need sebagai manusia. Yang penting jangan sampai ada pihak yang dirugikan dalam praktiknya.

Suatu hari, obrolan menyinggung masalah orgasme. Ternyata masih ada loh yang nggak ngerti orgasme itu apa dan bagaimana. Lalu, ada juga yang menjawab, masa nggak ngerti orgasme tapi kok bisa hamil?

Begini ya, sekarang kan dokter Obgyn udah banyak, teknologi juga semakin maju, semua pegang gawai, google tersedia 24 jam, tapi masih ada yang gagap dengan masalah tubuh sendiri. Kenapa?

Sebetulnya nggak heran-heran amat sih, karena sumber masalahnya amat sederhana: perempuan ditabukan berbicara soal seksualitas. Makanya, masih banyak perempuan yang awam sekali dan gagap menghadapi kehidupan seksualitas, bahkan setelah menikah.

Baca juga: Akun Dakwah tapi Suka Julid ke Perempuan, Akutu Nggak Bisa Diginiin!

Jangankan ngomongin perkara multiple orgasm, ngomongin soal consent aja belum tentu paham. Tahunya, bersenggama sebatas kewajiban seorang istri yang harus melayani suaminya.

Padahal, bersenggama itu hak segala bangsa, eh hak setiap individu. Nggak cuma berlaku untuk laki-laki atau perempuan saja. Yang penting, kamu dan dia saling menikmati atau istilahnya ‘it takes two to tango‘ alias take and give. Nggak cuma manut aja kalau diajak wikwik, padahal lagi nggak pengen.

Jadi, persenggamaan harus terjadi atas persetujuan. Kalau satu pihak maksa, namanya perkosaan. Itu berlaku bagi semua pasangan, meski dalam ikatan pernikahan sekalipun. Makanya, ada istilah marital rape. Itu bukan istilah kaleng-kaleng sok keren lho ya.

Sebenarnya salah para orangtua juga sih yang selalu mendoktrin anak-anak perempuannya agar selalu wajib bin nurut dengan suami, terutama perkara ranjang. Apapun kondisinya. Sebab, kalau nggak nurut, katanya bisa-bisa si suami nyari perempuan lain di luar. Mirip meme yang tadi, kan?

Doktrin semacam itu kemudian diwariskan ke generasi-generasi selanjutnya. Alhasil, ya itu tadi, bersenggama hanya sebatas kewajiban seorang istri untuk melayani suami. Para perempuan diharuskan untuk mengesampingkan perasaannya sendiri ketika berhadapan dengan suami.

Belum lagi, para orangtua juga selalu mengajarkan bahwa posisi perempuan hanya boleh menerima, tanpa boleh meminta. Katanya saru, tabu, kalau minta sama suami. Bisa-bisa dianggap perempuan nakal, gatal, dan tak tahu tata krama.

Baca juga: Perempuan juga Berhak Blak-blakan soal Seks

Duh, kalau dipikir-pikir, cengkeraman budaya patriarki di masyarakat kita sudah mengakar kuat ya. Makanya, doktrin para orangtua dulu dan meme yang katanya kekinian itu sama saja intinya. Dan, akan terus berulang di kemudian hari. Nyaris tak ada pendidikan seks yang diteruskan dari generasi ke generasi. Belum apa-apa sudah dilabeli tabu, saru.

Coba deh, ingat-ingat lagi, dulu sempat nanya ke emak-emak kita soal seksualitas, nggak? Pasti jawabannya kira-kira begini: “Husss, jangan ngomongin yang saru-saru, malu, malu-maluin.”

Lah?!

Padahal, perkara seksualitas ini lebar banget lho bahasannya. Nggak cuma sekitaran bin seputaran ranjang dan selangkangan doang. Coba cek KBBI, apa arti kata seksualitas? Jawabannya, segala sesuatu yang berhubungan dengan ciri, sifat, peranan, dorongan, serta kehidupan seks. See… nggak sesederhana ranjang dan selangkangan doang.

Perkara tabu, malu, malu-maluin yang selama ini ditanamkan di masyarakat kita telah menyebabkan banyak perempuan menahan diri untuk mencari tahu tentang seksualitas. Bahkan, banyak juga yang langsung menghindar.

Akibatnya, banyak anak-anak gadis yang kebingungan saat mendapatkan menstruasi pertama. Bukan hanya kesulitan menghadapi emosi yang tak terkontrol, tapi ada juga yang ketakutan melihat darah keluar dari vagina.

Dulu, saat anak saya yang besar duduk di kelas IV SD, teman-teman perempuannya sudah mulai ada yang mendapatkan menstruasi. Sebagian besar dari mereka tidak paham sama sekali apa yang terjadi dengan tubuh mereka. Gagap dengan kenyataan bahwa mereka bakal mengalami apa yang namanya menstruasi. Akibatnya, para guru pun kesulitan menghadapi anak-anak yang tak tahu apa-apa itu.

Baca juga: Kenapa Harus Malu ketika Sedang Menstruasi?

Padahal, menstruasi ini salah satu pengetahuan dasar seksualitas, yang seharusnya sudah dikenalkan oleh para orangtua kepada putri-putrinya. Sama halnya dengan sunat, juga mimpi basah, untuk anak-anak lelaki.

Tapi sayangnya, berbeda dengan anak laki-laki yang sering dikenalkan oleh para orangtua mereka mengenai sunat, anak-anak perempuan jarang banget diberi pengetahuan dasar tentang menstruasi. Kebanyakan diberi tahu justru saat si anak sudah mendapatkan menstruasi pertama.

Lebih miris lagi, setelah anak-anak perempuan mendapat menstruasi pertamanya, para orangtua justru sibuk mewanti-wanti anaknya bahwa kalau sudah mens, berarti bisa hamil kalau pacaran dengan anak laki-laki. Tapi itu tak disertai penjelasan lebih lanjut, apa dan bagaimana ceritanya kok pacaran bisa bikin hamil?

Para orangtua bukannya membahas apa itu menstruasi, bagaimana efeknya ke perubahan tubuh, emosi, hormon, eh malah sibuk membahas perkara pacaran. Pokoknya nggak boleh pacaran kalau belum dewasa, belum cukup umur, nanti bisa hamil. Malu-maluin keluarga aja.

Nah, yang begitu-begitu sering banget kita jumpai dalam keseharian. Padahal, proses kehamilan, reproduksi, nggak sesimpel itu: pacaran doang terus hamil. Kalau pacarannya ala bocah-bocah kencur yang ketemu di sekolah saja sudah bahagia sejahtera, tanpa perlu pelukan atau ciuman, terus seminggu kemudian putus, gimana judulnya bisa hamil?

Ya kecuali mereka berenang bareng di kolam renang, eh, hihihihihi.

Para orangtua yang suka gugup menghadapi anak perempuannya ketika tumbuh menjadi remaja kadang-kadang juga bikin gemes lho. Banyak yang heboh sendiri, terus stres saat tahu anak perempuannya yang masih duduk di SMP atau SMU jatuh hati sama seseorang dan mengenal kata pacaran. Hebohnya ya sama aja, takut pada hamil. Hadeuh…

Artikel: Pendidikan Seks Memang Harus ‘Cabul’

Padahal, pacaran adalah salah satu proses penjajakan tentang seksualitas mereka sendiri. Anak-anak ini mulai mengenali orientasi seksual mereka. Ini lho, yang luput dari perhatian para orangtua. Alih-alih mereka senang karena si anak sudah mulai mengenali orientasi seksual mereka, justru para orangtua malah ketakutan dengan ancaman kehamilan.

Mbok ya diajarin, diajak ngobrol, dikenalin tentang pacaran sehat, bisa kan? Ketimbang dilarang-larang, terus pada pacaran sembunyi-sembunyi, minim pengetahuan, kan malah repot?

Toh, para orangtua ini juga pernah muda. Pernah mengalami yang namanya jatuh cinta, uhuk. Masa iya nggak paham kalau sudah jatuh cinta?? Apa bisa efektif kalau dilarang-larang?!

Nggak usah pakai alasan kalau jamannya sudah beda deh. Justru karena jamannya sudah beda, maka pendekatannya harus berbeda. Anak-anak sekarang kan nggak sama dengan anak-anak jaman feodal yang gak kenal gadget dan minim arus informasi.

Anak-anak sekarang lebih kritis dan lebih terbuka untuk diajak ngobrol masalah mereka. Tinggal orangtua pintar-pintar menempatkan diri saja. Tak melulu sebagai orangtua yang suka memerintah ini-itu, tapi sebagai kawan atau teman bicara.

Terlebih, di era disrupsi saat ini, aihh, kalau nggak didampingi sejak dini soal seksualitas, bisa-bisa mereka cari informasi sendiri yang belum tentu benar. Terus, kalau sampai tahu si anak ‘belajar’ dari konten porno gimana?

Marah-marah lagi? Marah teroooosss…

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini