Baik dan Santun di Dunia Nyata, tapi Jahat di Dunia Maya

Baik dan Santun di Dunia Nyata, tapi Jahat di Dunia Maya

Ilustrasi (Ryan McGuire/pixabay.com)

Soal kesantunan, orang-orang Indonesia seharusnya tak perlu diajari lagi. Sejak kecil, kita selalu diberi tahu orang tua tentang mana yang boleh, mana yang tidak. Belum lagi lingkaran sosial yang mengingatkan kita soal etika. Mulai dari sekolah, kampus, kantor, hingga bisik-bisik tetangga.

Namun, kenyataan terkadang berseberangan dengan apa yang diharapkan. Boleh jadi persoalan kesantunan tak menjadi masalah di dunia nyata. Selalu mudah menemukan mereka yang menegur dan tersenyum kepada kita.

Tapi itu menjadi masalah betul di dunia maya. Di internet, orang-orang baik nan santun – kita anggap saja semuanya begitu – bisa mendadak jadi jahat.

Mengacu data Unicef pada 2016, sekitar 41-50% remaja Indonesia pada rentang usia 13-15 tahun pernah mengalami perisakan atau bullying, terutama di dunia maya.

Salah satu orang yang merasakan kejamnya perisakan digital adalah Asa Firda Inayah. Pada 2017, gadis yang akrab disapa Afi itu dihujat akibat tulisan-tulisan viralnya seperti “Warisan” – yang bercerita tentang pentingnya menghargai pemeluk agama lain – atau “Belas Kasih dalam Agama Kita” – yang mengajak pembaca memerangi terorisme dengan cinta kasih – diduga plagiat.

Sesungguhnya , tak masalah jika ia mendapatkan kritik yang jelas perihal kesalahannya. Namun, orang-orang Indonesia yang begitu ramai di kolom komentar akun Facebook-nya Afi terlampau malas untuk mendefinisikan mengapa mereka tak suka dengan Afi.

Maka, kata-kata kasar dari orang-orang baik pun terlontar di dunia maya. Dan itu, membuat Afi depresi. “Saat tudingan itu muncul saya masih di Jakarta. Saya menangis sendirian di kamar hotel. Saya depresi dan sempat berpikir bunuh diri,” tulis Afi dalam surat terbukanya di Facebook.

Ini baru anak remaja, lho. Orang dewasa pun tak luput dari perisakan di dunia maya. Anda boleh cari di Google dengan kata kunci ‘dibully netizen’. Niscaya, banyak sekali kisah manusia dewasa – entah itu artis, politisi, atau tokoh populer lainnya – yang menjadi korban perisakan.

Salah satu orang dewasa yang jadi korban bullying adalah Rizky Firdaus Wijaksana. Sosok yang akrab disapa Uus ini sudah biasa mendapatkan ujaran kebencian di media sosial. Bahkan, tak hanya dirinya saja yang dihina, melainkan istri dan anaknya yang masih beberapa tahun itu.

Sama seperti Afi, orang-orang baik bermulut kasar yang menghujat Uus pun terlampau malas memberi bahan evaluasi mengapa mereka membencinya. Lantas, mengapa hal ini muncul? Mudah saja, karena konsep desa global yang ditawarkan internet itu sendiri.

Tak seperti di dunia nyata, kita tidak mendapat konsekuensi langsung dari apa yang kita katakan di dunia maya. Orang-orang yang kita caci-maki di internet, boleh jadi berada nun jauh di belahan dunia yang lain dan tidak akan bertemu kita secara langsung.

Dan, kita bisa melakukan ketidaksukaan terhadap apapun dan kapan saja. Entah itu sedang di toilet, makan, berbaring, atau sedang ngopi-ngopi syantik. Dalam banyak kasus, karena konsep internet itu pula, pelaku cyber bullying tidak bisa dilacak.

Di sisi lain, kondisi semacam ini akhirnya juga membuat kita terlatih untuk tergesa-gesa. Kita tak lagi terbiasa duduk tenang memahami duduk perkara, sebelum menentukan apakah yang dilakukan orang lain itu benar atau salah.

Atau, untuk sekadar memahami apakah tindakan kita benar atau salah. Yang kita pahami, kita benar dan kita kebal. Titik.

Situasi itu diperparah oleh sistem media sosial itu sendiri, yang sayangnya kerap disalahgunakan. Fitur like, love, retweet, dan share bisa membuat seseorang yang mengatakan hal-hal tak terpuji merasa menjadi superior. Merasa paling baik, paling benar.

CNN melaporkan bahwa kata-kata yang penuh emosi di media sosial, seperti Twitter, akan di-retweet 20% lebih banyak daripada tweet-tweet biasa.

Dan, di internet, selalu saja ada hal yang membuatmu ingin marah. Padahal, di balik gawai, kita adalah manusia juga. Sebagai manusia, setiap orang punya perasaan.

Bayangkan ini kalau kamu ingin menghujat orang lain di dunia maya: kamu sudah pulang setelah melewati hari yang berat, dan ketika kamu membuka gawai untuk sedikit tertawa, kamu mendapatkan notifikasi yang berisi hujatan. Tak hanya satu-dua orang yang menghujat, tapi puluhan ribu manusia di balik gawaimu.

Kalau budaya macam ini terus dibiarkan, kita semua jadi terancam. Semua orang menjadi tak luwes berekspresi. Kalau salah ngomong, bisa dicela orang-orang baik yang bermulut jahat di internet.

Dan, kalau begini terus, ya tak heran kalau Kemkominfo main blokar-blokir media sosial. Itu sebetulnya preseden buruk bagi iklim demokrasi, tapi demokrasi apa yang turut melanggengkan caci-maki, hujatan, bullying, dan fitnah?

Pemblokiran media sosial adalah tindakan kekanak-kanakan, tapi pengguna media sosial di Indonesia masih banyak yang lebih kekanak-kanakan.

Saya masih suka dunia maya, terutama media sosial, karena meme-meme-nya yang lucu. Apa iya, Kemendikbud perlu memasukkan pelajaran soal penggunaan media sosial di kurikulum pendidikan?

Itu bisa jadi ide yang tepat, mirip seperti pendidikan seks di sekolah yang terus diwacanakan sampai saat ini. Yah, daripada UNBK yang njelimet itu. Eh?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.