A World of Married Couple (JTBC Inc)

Swakarantina? Sudah berapa banyak berita wabah film yang kamu nikmati untuk menyingkirkan kebosanan dalam beberapa pekan terakhir? Apakah rebahan di rumah sambil melahap film di Netflix dan Viu membuatmu jadi reviewers film seasyik Haris Firmansyah?

Kalau saya, untuk mengusir rasa jenuh hidup ini, salah satu caranya adalah menonton Drama Korea. Sebab Drakor sarat inspirasi hidup. Inspirasi makeup juga deng. Dan, inspirasi pasangan idaman, eh fesyen kekinian.

Drakor hari ini pun memiliki tone yang berbeda dan relevan banget. Terlebih, setelah film asal Korea Selatan berjudul Parasite dan Kim Ji-young, Born 1982 mengguncang dunia, para sineas di ‘Negeri Ginseng’ itu turut menghadirkan TV series Drakor bermuatan kritik.

Yang belum lama ini tamat adalah VIP, serial tentang perselingkuhan dan patriarki. Film ini juga membawa kita berpetualang ke semesta kapitalisme yang bermata dua. Pun, menggedor stigma perempuan dalam masyarakat.

Baca juga: Film ‘Kim Ji-young’ Indonesia Banget, Laki-laki Berani Nonton Nggak?

Selain VIP, ada serial A World of Married Couple yang belakangan ini menyedot perhatian netizen. Film ini pun bertema perselingkuhan. Tapi, jangan harap film yang dikenal juga dengan judul The World of The Married ini bercerita tentang dinamika relasi heteronormatif ala sinetron Indonesia.

Sinetron kita tuh kerap menampilkan perempuan rapuh dependen pada suami dan cenderung tidak berkutik ketika suaminya berselingkuh. Yang ada, tangis tak berkesudahan atau menyalahkan sesama perempuan dengan sebutan ‘pelakor’.

Sementara, A World of Married Couple yang merupakan remake dari serial Doctor Foster yang tayang di BBC ini menampilkan karakter perempuan ‘sempurna’ sebagai peran utama. Pokoknya, kriteria perempuan ideal ala akun-akun ‘hijrah’ lewat deh dibanding figur Ji Sun Woo dalam serial A World of Married Couple.

Sun Woo adalah seorang dokter sekaligus pimpinan rumah sakit ternama, namun tetap menjadi ibu dan istri yang mengerjakan seluruh pekerjaan domestik tanpa bantuan asisten rumah tangga. Perempuan yang terlihat sempurna di luar, namun terjerat beban ganda di rumah.

Baca juga: Lebih Dalam soal Perselingkuhan dengan Alasan Doi Kaya

Tokoh utama kedua adalah Lee Tae Oh, seorang sineas film yang terus menerus bertahan dengan memanfaatkan relasi istrinya. Pada awal cerita, kita akan melihat betapa romantisnya sosok Tae Oh. Namun, setelah perselingkuhannya terbongkar, semua kata manis Tae Oh akan menjadi terasa memuakkan. Suami yang hebat berubah menjadi sampah.

Serial ini juga menyajikan berbagai bentuk relasi heteronormatif dari  pasangan yang sangat harmonis, pasangan yang terlibat relasi toksik penuh kekerasan, hingga pasangan freechild yang menyimpan kecurigaan dalam hubungan. Namun, dari segala bentuk relasi yang dipertahankan, tak ada satupun pasangan yang sempurna.

Drama ini akan membawa kita berpetualang ke rumah tangga penuh gejolak. Rumah tangga yang tak sekadar jargon ‘menikah dan hidup bahagia selamanya’. Namun, lebih menunjukkan bahwa pernikahan tak melulu diisi oleh orang-orang yang saling mencintai. Terkadang, pernikahan dilakukan oleh dua individu yang bertarung memperebutkan posisi dan harga diri.

Pernikahan juga tak selalu tentang romantisme dan seks penuh gairah. Kadang-kadang, pernikahan terselip rasa mual dan kebencian yang tertahan di kerongkongan.

Baca juga: Di Rumah Aja saat Pandemi Bukan Berarti Kami Dihamili

Para tokoh perempuan di serial ini terjebak dalam pilihan berat, yaitu menjalani relasi yang penuh kekerasan atau hidup sebagai seorang janda. Perceraian ternyata hanya menjadi mimpi buruk bagi perempuan. Sementara, tokoh lelaki memiliki obsesi untuk tetap menjalani perselingkuhan tanpa perlu bercerai dengan pasangannya.

Jika tinggal di Indonesia, mungkin Tae Oh dan tokoh lelaki lain akan langsung ikut kursus ‘cara cepat dapat istri empat’.

Jika drama perselingkuhan di Indonesia menampilkan konflik yang bernuansa patriarkis dan tidak imbang, serial A World of Married Couple menyuguhkan ‘pertempuran’ sepadan antara suami dan istri. Termasuk, isu ‘pelakor’ yang hanya membuat sesama perempuan bertikai.

Lantas, mampukah A World of Married Couple menyampaikan pesan dan kritik yang proporsional seperti drama pendahulunya, VIP, yang membahas perselingkuhan secara tegas dan tidak menambah parah stigma negatif pada perempuan?

Drakor semacam VIP dan A World of Married Couple memang sedang jadi tren di Korea Selatan, terlebih angka perceraian di sana meningkat. Seperti dilaporkan SCMP, pengadilan di Korsel mencatat peningkatan angka perceraian hingga 30,8% pada Maret 2018. Tren perceraian ini berlanjut setelah terjadi peningkatan selama 2014-2017 yang berturut-turut sebesar 14,7%, 29,5%, 28%, dan 13,9%.

Artikel populer: Membayangkan Sinetron Azab Hingga AADC Berlatar Pandemi Corona

Kondisinya tak jauh berbeda alias sangat relevan dengan Indonesia. Bedanya, televisi Korea menampilkan cerita yang realistis dan jauh dari fantasi semacam sinetron Azab di Indonesia. Sinetron kita cenderung menormalisasi kekerasan dan men-grooming perempuan bahwa perselingkuhan, terutama yang dilakukan laki-laki, bisa dimaklumi. Terbukti, banyak meme berseliweran yang bilang bahwa suami berselingkuh gara-gara istri tidak bisa masak atau dandan.

Nah, serial A World of Married Couple memberi ketegasan pada penonton bahwa perselingkuhan merupakan bentuk kekerasan dalam rumah tangga. Serial ini juga membuka pikiran kita bahwa perempuan yang mampu menopang perekonomian keluarga sekaligus beban domestik bukanlah perempuan sempurna. Perempuan bisa saja terjebak dalam relasi penuh kekerasan.

Jadi, bagi para penikmat film, terutama penggemar Drakor, bolehlah nonton serial A World of Married Couple atau VIP yang bermuatan kritik sosial ini selama swakarantina #DiRumahAja dan bersama melawan virus Corona. Semoga pandemi segera berakhir sebelum drama ini tamat.

3 KOMENTAR

  1. Kak, artikelnya bagus. Aku mau kasih saran nih kata-kata “tipe-tipe perempuan di akun hijrah” itu bukannya agak merendahkan salah satu pihak ya? Aku sedih, udah baca 2 artikel hari ini dan keduanya seperti merendahkan salah satu pihak, padahal aku suka artikel disini yang bikin pikiran terbuka, tapi kenapa aku sebagai pihak itu merasa direndahkan?

    • Maksudnya utopis mbak, kita sama-sama tahu bahwa kutipan ‘akun hijrah’ lebih banyak mengandung unsur ekspresi diri daripada mencari upaya mengatasi masalahnya.

  2. Dear Rina dan Willy, perdebatan ini dijadikan tulisan balasan bagus juga. Saya sebagai pembaca juga penasaran soal jenis-jenis akun hijrah, termasuk mana yang tepat dan kurang tepat untuk diikuti.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini