Serial Kingdom (Netflix)

Covid-19 bukan pandemi pertama yang dihadapi oleh penduduk bumi. Sebelumnya, rakyat di berbagai negara pernah menderita akibat pandemi pes, kolera, dan flu spanyol.

Isolasi mandiri di rumah adalah salah satu cara menghindari wabah Covid-19 yang sudah meluas ini. Tentunya, banyak hal yang bisa dilakukan saat di rumah aja. Nah, kalau kamu menonton secara maraton (binge watching) serial Netflix berjudul Kingdom, rasanya seperti menonton nasib umat manusia zaman kiwari.

Benang merah drama Korea Selatan ini adalah wabah di tengah konflik politik. Familiar, kan? Bedanya, Kingdom berlatar zaman feodal Dinasti Joseon. Ceritanya terinspirasi dari dokumen pengadilan kerajaan pada abad 19.

Ternyata, sejak zaman dulu, manusia sudah kewalahan apabila berhadapan dengan wabah. Apalagi, jika dicampur dengan urusan politik yang memperumit keadaan. Makin ambyar saja rakyat dibuatnya.

Konflik dalam drakor Kingdom berkutat pada urusan wabah ‘monster’. Sang raja adalah patient zero wabah ini. Tak ingin tongkat kekuasaan jatuh ke putra mahkota setelah kematian raja, ratu bersekongkol dengan menteri kerajaan untuk membangkitkan raja dari ‘kematian’ dengan bantuan tabib.

Baca juga: Nonton Drakor tentang Perselingkuhan yang Bikin Pikiranmu Jadi ‘Glowing’

Sang tabib mungkin tak pernah mengira jika pengobatan terlarangnya akan berdampak buruk pada keluarganya sendiri. Anaknya menjadi korban gigitan dari raja zombie yang kelaparan. Sampai akhirnya sang anak jatuh sakit dan meninggal dunia. Tabib pun patah hati dan mudik dengan membawa jasad anaknya.

Menteri masih belum sadar dengan ancaman wabah, makanya tidak ada imbauan “Jangan mudik. Sayangilah keluarga di kampung”.

Di kampung halaman tabib itulah, wabah mulai menyebar. Warga desa yang tertular berubah menjadi zombie yang haus darah dan daging manusia.

Di tengah krisis, pejabat yang selamat dari wabah justru kabur dari daerah pandemik, meninggalkan warga sipil yang seharusnya dievakuasi.

Dengan kapal barang, mereka menyeberang ke desa sebelah. Yang tidak diketahui penumpang kapal, ada seorang ibu yang belum mengikhlaskan anaknya yang sudah jadi mayat hidup, lalu menyelundupkan sang anak ke kapal. Alhasil, nyaris seluruh penumpang kapal tertular menjadi zombie.

Baca juga: Macam-macam Karakter Pacar Berdasarkan Cara Kerja Menteri Hadapi Pandemi

Begitulah cara wabah menyebar. Tercipta karena keserakahan pemimpin, dibawa oleh orang berpengaruh yang ignorant, lalu menyebar ke rakyat yang hidup tanpa perlindungan.

Di drakor ini diperlihatkan bahwa politik bisa lebih berbahaya daripada wabah. Bahkan, kebijakan politik jugalah yang menentukan penyebaran wabah itu sendiri, akankah terhenti atau tak putus-putus demi melanggengkan kekuasaan.

Untuk meredam wabah, petinggi kerajaan menerapkan beberapa kebijakan, yang mirip-mirip dengan pemerintahan zaman kiwari:

Social Distancing

Ketika menyadari ada wabah ‘monster’, putra mahkota coba mengadang dengan pedang. Ternyata, para zombie tidak ada habisnya. Ditebas satu, selusin yang muncul. Teman yang gugur, begitu bangkit langsung jadi musuh. Kabur, dikejar. Tutup pintu pun didobrak oleh sekawanan mayat hidup yang bergerombol.

Lalu, putra mahkota mulai menanam bunga matahari, kentang, kacang polong, dan tanaman lainnya. Namun, tumbuh-tumbuhan itu bukannya melindungi teritori dan bantu melawan musuh, justru diinjak-injak oleh para zombie. Yah, wajar saja karena kita tidak sedang berada dalam gim Plants vs Zombies, Pangeran!

Manusia yang ingin selamat harus menerapkan pembatasan sosial (social distancing) dengan zombie. Sialnya, para zombie yang sudah kehilangan akal sehat selalu mendekat.

Baca juga: Membayangkan Sinetron Azab Hingga AADC Berlatar Pandemi Corona

Karantina Wilayah

Sebagai pemimpin yang terjun ke lapangan, putra mahkota mendengarkan penjelasan dari tabib yang mempelajari wabah tersebut. Diketahui bahwa parasit yang menjangkiti tubuh korban bisa dimatikan dengan cara membakar mayatnya. Sebelumnya, para pejabat tidak mendengarkan masukan dari tenaga medis, yang nantinya teori itu terbukti dengan sendirinya. Jasad yang dibiarkan otomatis bangkit selepas senja. Mohon maaf, itu zombie atau anak indie?

Lalu, menteri yang zalim memutuskan lockdown di berbagai daerah supaya wabah tidak sampai ke istana. Namun, ini karantina wilayah yang memang hanya mengisolasi daerah terdampak tanpa ada niat menjamin kebutuhan hidup rakyat. Memang efektif memutus rantai penyebaran wabah, tapi keselamatan dan ketahanan pangan warga bukanlah prioritas sama sekali.

Untunglah, putra mahkota adalah pemimpin bijaksana yang menghargai setiap nyawa rakyatnya. Di tengah ancaman wabah, putra mahkota memasok bahan pangan ke daerah yang di-lockdown. Setidaknya ia memberikan ketenangan untuk rakyat. Mirip-mirip pemerintah yang bagi-bagi sembako saat pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Artikel populer: Jika PSBB di Jakarta Jadi Latar Film Parasite

Menunggu Pergantian Musim

Awalnya, para zombie hanya bangkit pada malam hari. Siangnya, mereka sembunyi dari sinar matahari, lalu tertidur tenang tak perlu memikirkan tentang apa yang akan datang di esok hari. Namun, begitu masuk musim dingin, para zombie bisa kelayapan pada siang hari untuk cari mangsa. Mereka meneror tanpa ampun selama 24 jam. Ternyata, parasit yang menjangkiti tubuh korban bisa beradaptasi dengan suhu dingin.

Para jagoan pun bersabar menumpas zombie sembari berharap cepat-cepat datang musim panas untuk menyelesaikan wabah ini. Berharap pada pancaroba ini mirip dengan Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan, ketika melontarkan teori bahwa virus corona tidak kuat dengan cuaca panas di Indonesia. Harapannya, wabah mereda tatkala musim kemarau.

Kalau wabah ‘monster’ sudah terbukti tidak kuat suhu panas, lantas bagaimana dengan wabah Covid-19? Apakah virus corona bakalan nurut dengan Lord Luhut?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini