Ilustrasi pernikahan (Image by shutterbug41 from Pixabay)

Media sosial semacam Youtube, Instagram, dan Twitter sempat diwarnai dengan cerita indah nan romantis perihal dua pasangan yang telah menikah muda. Keduanya rupawan, saling mencinta, dan… selebgram.

Sayangnya, sang istri menjadi bagian dari 14% perempuan di Indonesia yang menikah pada usia anak. Ketika menikah, usianya baru 16 tahun. Tentunya, sebagai influencer, apa yang mereka bagikan di media sosial bisa mempengaruhi para penggemarnya.

Bayangkan, saat para pegiat sedang berjuang sekuat tenaga untuk menekan angka pernikahan usia anak, muncul influencer yang mengglorifikasi pengalaman tersebut dengan narasi “kalau sama-sama sudah saling cinta, kenapa harus ditunda? Menikahlah solusinya”.

Woww, seakan terdengar indah. Seolah menikah adalah muara kebahagiaan tanpa ombak. Padahal, menikah pada usia dini memiliki risiko yang tinggi, menurut segudang hasil riset. Belum lagi kalau hamil.

Belakangan, setelah ramai, influencer tersebut mengklarifikasi bahwa mereka tidak pernah mempromosikan atau meromantisasi pernikahan di bawah umur.

Baca juga: Kenapa sih Apapun Masalahnya, Menikah Solusinya?

Sebelumnya, ada beberapa influencer lain yang secara langsung maupun tidak langsung membawa narasi pernikahan usia anak. Ini kenapa ya? Influencer bersatu tak bisa dikalahkan?! Hati-hati lho gaes, narasi seperti itu bisa memperkuat anggapan banyak orang bahwa pernikahan usia anak adalah normal asalkan dapat dipertanggung jawabkan.

Kalau sudah begitu, Indonesia bakal tetap menjadi satu di antara 10 negara dengan jumlah pengantin anak terbanyak di dunia. Mau bersaing dengan India yang memiliki angka absolut pernikahan usia anak tertinggi di dunia?!

Girls Not Brides mencatat bahwa satu dari lima anak perempuan harus menjalani pernikahan sebelum beranjak dewasa. Kalau ditotal, ada sekitar 65 juta perempuan yang terampas masa tumbuh kembangnya karena pernikahan dan beban reproduksi.

Bagaimana dengan Indonesia? Di negara kita, tercatat 14% anak perempuan telah menikah sebelum usia 18 tahun, dan 1% anak menikah sebelum usia 15 tahun. Apaa?? Sedikit??

Jika ditotal dari 132 juta perempuan di Indonesia, maka terdapat 1,3 juta anak perempuan harus menikah sebelum usia 15 tahun, dan 18 juta yang menikah sebelum usia 18 tahun!!

Baca juga: Cara Mencegah Perkawinan Anak, sebab Menaikkan Batas Minimum Usia Menikah Tidak Cukup

Sayangnya, banyak dari mereka yang tak seberuntung influencer. Dari sisi ekonomi, misalnya, mereka tak punya sumber penghasilan tambahan. Boro-boro bisa endorsement, lah followers-nya aja seuprit. Sebab itu, mereka memiliki risiko yang lebih tinggi jika menikah dini.

Selama ini, tanpa adanya narasi yang mengglorifikasi pernikahan usia anak, mereka sudah terdesak dengan kondisi. Mayoritas anak seakan tak punya pilihan. Kalau mau tahu lebih jauh, berikut ini beberapa faktor yang turut mendorong pernikahan usia anak, sehingga angkanya tetap tinggi:

1. Ketidakadilan Gender

Jika ditelisik, persoalan pernikahan usia anak akan bermuara pada berbagai faktor yang sangat kompleks. Mulai dari kemiskinan, minimnya akses pendidikan, praktik budaya misoginis, dan faktor keselamatan anak perempuan itu sendiri. Namun, jika kita mundur ke hulu, praktik ini berangkat dari ketidaksetaraan perlakuan terhadap anak laki-laki dan perempuan.

2. Tradisi

Pada banyak tradisi yang mempraktikkan pernikahan usia anak, terdapat gap perilaku yang sangat kentara pada cara memperlakukan anak. Sering kali anak perempuan tidak dihargai sebanyak anak laki-laki. Anak perempuan terlahir dengan stigma sebagai beban dan tanggung jawab besar keluarga.

Baca juga: Sebab Menikah itu Menyempurnakan Separuh dari Gengsi Sosial

Banyak sekali yang menarasikan anak perempuan sebagai alasan keluarga terjerumus ke dalam neraka, sedangkan anak laki-laki dinarasikan sebagai juru selamat bagi keluarga.

Di beberapa tradisi, mayoritas keluarga percaya bahwa menikahkan anak sesegera mungkin berarti mengirim beban itu kepada keluarga lainnya. Pun, menurut Girls Not Brides, beberapa perkawinan usia anak juga didorong oleh nilai-nilai patriarkal dan keinginan untuk mengendalikan perempuan seperti bagaimana seorang gadis harus bersikap, bagaimana ia harus berpakaian, hingga siapa yang harus ia nikahi.

Kita mungkin sering mendengar pepatah “perempuan panjang rambut, pendek langkah. Lelaki pendek rambut, panjang langkah”. Pepatah yang cukup umum dalam keluarga saya itu menggambarkan secara gamblang bagaimana anak lelaki dan perempuan diperlakukan secara timpang oleh masyarakat.

Selain itu, tradisi dan adat istiadat memiliki ukuran yang berbeda perihal kedewasaan perempuan. Beberapa tradisi melihat bahwa menstruasi adalah faktor tunggal kedewasaan perempuan. Sementara, sisi psikologis dan kesiapan mental juga finansial tidak dipertimbangkan. Hal ini jauh berbeda dengan laki-laki yang dianggap memiliki faktor kedewasaan yang lebih variatif.

3. Kemiskinan

Kemiskinan struktural juga menjadi faktor krusial yang bisa memaksa perempuan untuk menikah pada usia anak. Sebagaimana video seri terbaru dari pasangan influencer tadi, sang istri mengungkapkan bahwa pernikahan menolongnya terlepas dari belenggu ekonomi yang bisa saja membuatnya tak dapat mengakses pendidikan secara maksimal.

Artikel populer: Baiklah, Sekarang Kita Bicara Cinta dengan Logika Kepemilikan

Influencer tersebut memang tak sampai terjerembab dalam kemiskinan struktural ketika memilih menikah muda. Namun, lebih dari setengah anak perempuan dari keluarga termiskin di negara berkembang menikah pada usia anak.

4. Ketakutan Orangtua

Banyak orangtua merasa pernikahan adalah persembahan terbaik yang bisa mereka berikan pada anaknya. Anak perempuan dianggap membawa beban karena ketakutan terhadap belenggu seksualitas yang hadir pada ketubuhan mereka. Orangtua selalu dibayangi rasa takut perihal ‘kesucian’ atau ‘kehormatan’ anak gadisnya.

Sebagian orangtua percaya bahwa ketakutan itu bisa dihilangkan dengan mendorong anak perempuannya untuk cepat-cepat menikah. Padahal, persoalan utamanya adalah sejauh mana anak mendapatkan pendidikan seks dan ruang aman. Nyatanya, perempuan belum memiliki ruang aman, sehingga rentan diserang secara seksual sebelum ia menikah.

Itulah beberapa faktor yang sering kali memaksa anak perempuan untuk merelakan masa mudanya dengan menyerahkan dirinya pada pernikahan yang belum tentu memberikan kebahagiaan. Belum lagi, stigma berlapis yang kerap dihadapi perempuan setelah menikah.

Jadi, apa iya menikah pada usia anak adalah solusinya??

1 KOMENTAR

  1. membaca 4 faktor diatas memang sangat susah untuk membendung meningkatnya pernikahan di usia muda. Salah satu caranya adalah melakukan edukasi ke masyarakat, baik ke pelaku dan juga orang tua serta masyarakat. Terlepas dari itu tentu saja pernikahan dini menyebabkan banyak masalah selain dari ekonomi yang belum siap, tentu juga mental yang masih labil. Dengan mental seperti itu tentu tidak akan siap menghadapi masalah rumah tangga yang suatu saat menerpa. Berbeda dengan pendekatan nya pada orang yang sudah memiliki mental dewasa.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini