Nikah Tanpa Pacaran? Tidak Semudah Itu, Ferguso!

Nikah Tanpa Pacaran? Tidak Semudah Itu, Ferguso!

Ilustrasi (Jeremy Wong via Pixabay)

Belakangan ramai tentang komunitas, gerakan, atau forum yang menentang pacaran, karena pacaran dianggap haram. Bagi mereka, kamu mending langsung nikah aja, meski kamu masih ‘kinyis-kinyis’.

Saya sendiri sempat mencoba ikut salah satu anti pacaran-pacaran club tersohor di republik ini. Awalnya cuma iseng, ketika itu kebetulan ada deklarasi. Menghadirkan pula ustaz muda kondang sebagai pemateri.

Lantas, bagaimana sih cara kerjanya?

Ya pertama daftar dulu, bayar, nggak sampai Rp 200 ribu. Nanti kamu dapat souvenir, terus ada diskon juga untuk pembelian produk merchant. Kan lumayan jadi duit. Dan, tentunya dapat bonus pengajian dari ustaz-ustaz hitz.

Komunitas anti-pacaran ini juga menyediakan forum taaruf lho. Nanti, saat pengajian, kamu akan dikasih form biodata. Lalu, isi selengkap-lengkapnya, jangan lupa sertakan foto paling kece. Kalau perlu, edit dulu dikit biar tampak glowing. Haha…

Nah, biodatamu akan diputar, barangkali ada ikhwan/akhwat yang tertarik denganmu dan kamu pun tertarik padanya. Yeaaaay… match, kalian bisa ngedate, eh taaruf.

Mirip Tinder?

Beda dong, setidaknya ini versi offline dan syariah-able. Nggak boros kuota pula. Selanjutnya kawin, kawin, kawin, nggak peduli kamu sudah siap atau belum. Katanya nanti kalau udah nikah ada istri yang buatin sarapan. Kalau jomblo, siapa yang buatin sarapan?

Ya mbak warteg, keleus…

Baca juga: Ayolah, Banyak yang Lebih Penting daripada Kebelet Kawin dan Ngurusin Orang Pacaran

Pantas saja saya merasa nggak bahagia berkumpul dengan komunitas tersebut. Visi-misi berumah tangga menjadi urusan kesekian, katanya yang penting niat dulu, nanti sambil belajar.

Terlebih, beberapa hal yang bersifat krusial tidak disampaikan secara fair kepada para pejuang-pejuang halal ini. Dan, nggak ada calon yang cocok pula sih, eh?

Nah, supaya lebih fair, mari kita lihat kenyataannya bahwa menemukan jodoh dan menikah nggak semudah itu. Jangan sampai nanti terjatuh dan tak bisa bangkit lagi, tenggelam dalam lautan luka dalam, ehehe…

Nikah nggak murah, yang murah cuma administrasinya

Ya betul, nikah di KUA gratis, nikah di luar KUA bayar Rp 600 ribu. Tapi bukan berarti cuma modal itu doang. Kecuali, kamu mau menikah ala Suhay Salim. Kalau selebgram plus vlogger beken mah bebas.

Bersiaplah menerima stigma dari masyarakat, terutama dari tetanggamu idolamu, kalau menikah tapi nggak diramaikan. Oh, dalam masyarakat kita, wajib hukumnya mengumumkan pernikahan, ngundang-ngundang dan dirayakan. Berbagi kebahagiaan, katanya.

Kalau pernikahanmu kalem-kalem aja atau bahkan cenderung terlihat ‘diam-diam’, bersiap dengan ocehan, “Hamil duluan kali ya?”, “Kere amat kawinan nggak diramein”, “Calonnya kerja apaan sih?”

Baca juga: Jangan-jangan Kamu Tidak Sadar, Kamu Adalah Pelaku atau Korban Kekerasan dalam Pacaran

Bagi sebagian orang, mungkin bisa saja bilang, “Peduli amat omongan orang! Yang kawin kita, beibh, bukan mereka.” Iya sih, tapi faktanya masih banyak orang yang hidup dengan standar sosial tertentu. Itulah realitas sosial hari ini.

Ya kalau begitu taaruf aja, murah kok cuma Rp 11,4 juta selama tiga bulan dibandingkan pacaran yang sebesar Rp 15 juta. Bahkan, menikah bisa modal Rp 5 juta. Cocok buat kantong milenial.

Eitss… Tunggu dulu. Murah belum tentu berkualitas, vroh. Murah tapi berisiko tinggi, gimana? Kita nggak tahu perangai dan perilaku calon suami atau istri, lalu menikah begitu saja? Kebelet boleh, bodoh jangan.

Banyak data soal risiko-risiko dari pernikahan yang tidak dilandasi dengan kesiapan pasangan, baik mental maupun materi. Apalagi, pernikahan dini. Saya tidak sampaikan lagi datanya kali ini, suruh Google aja.

Jadi, kamu pilih yang mana, vroh?

Menyediakan makanan bukan cuma urusan istri

Kalau jomblo, siapa yang bikinin sarapan? Kalau udah nikah kan ada istri yang masakin, bikin teh atau kopi. Seolah itu menjadi kewajiban istri dalam rumah tangga.

Pernyataan macam apa itu, Ferguso? Mana dalilnya? Begini, urusan domestik itu bukan cuma urusan istri seorang. Ada dalilnya kok di Al-Quran.

Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu, dengan cara yang baik, seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya QS 02:233.

Baca juga: Untuk Kamu, Kamu, yang Suka Bicara soal Standar Calon Istri

Ya betul, dalam surat Al-Baqarah disebutkan bahwa kewajiban suami adalah memberikan makan dan pakaian. Bagi kamu yang suka menafsirkan secara tekstual tanpa ada ijma, qiyas, dan penggunaan akal, literaly urusan makan dan pakaian adalah tanggung jawab suami, bukan istri.

Eh, by the way, makan dan pakaian itu kan urusan domestik. Berarti domestik menjadi urusaaan? Hmmm…

Kalau kita perjelas lagi, yang namanya makanan itu kan bisa dimakan ya, sedangkan pakaian bisa langsung dipakai. Jadi bukan uang atau beras, beibh, uang dan beras nggak bisa dimakan. Yang bisa dimakan itu nasi, ayam goreng, sayur kangkung. Ya masaklah…

Begitu juga dengan pakaian, sebab uang nggak bisa digunakan untuk menutup aurat, akhi… Yang bisa nutup aurat itu kemeja, celana, jilbab, dan lainnya.

Istri juga nggak ada kewajiban menyiapkan pakaian suami untuk kerja, main futsal, atau datang ke pengajian. Apalagi, sampai memaksa istri beres-beres rumah dengan bawa-bawa surga dan neraka. No, Ferguso! Kamu bid’ah!

Jadi bagi peran aja ya… Tidak ada satu pihak yang dibebani, sesuai kadar kesanggupannya.

Artikel populer: Akibat Terlalu Sering Bilang “Maaf, Sekadar Mengingatkan”  

Agama sangat penting, akal juga penting

Agama memang penting, sangat penting. Tapi tahukah bahwa akal juga penting? Menikah adalah proses yang sebisa mungkin sekali seumur hidup. Berbagi dengan orang baru itu bakal nggak mudah.

Bayangkan, selama ini serumah dengan orang tua atau tinggal sendiri di kos, lantas harus tinggal berdua dengan karakter dan pikiran yang berbeda? Bagaimana dengan orang yang nggak pacaran, nggak kenal baik pasangannya, terus ujug-ujug nikah dan tinggal satu atap?

Perilaku abusive seringkali tak terlihat pada kesan pertama. Dalam beberapa kesempatan, saya sudah sering menemui korban KDRT yang merupakan pasangan muda. Bukan cuma abusive kepada istri, anak-anak pun kerap jadi korban.

Karena itu, menikah jangan cuma bermodal forum percarian jodoh yang menghasilkan pasangan dalam sekejap. Jika sesederhana itu, apa bedanya dengan aplikasi pencarian jodoh yang selama ini diharam-haramkan?

Menikah juga nggak cuma modal niat dan nekat berani saja. Tapi juga modal ilmu. Apapun yang kita lakukan tanpa ilmu hanya akan membawa kita pada kenestapaan.

Menikah bukan pula sekadar menghalalkan selangkangan, tapi juga menghalalkan seluruh hidup kita.

Jadi, tidak semudah itu, Ferguso!

Baiqla, Marimar…

6 COMMENTS

  1. Kocak tulisannya pengertian pacaran di jelaskan secara terminologi dan memberi makanan dan pakaian dijelaskan secara etimologi

  2. Jangan membandingkan sesuatu yang Halal dan Haram jelas jauh perbedaannya, Syurga dan Neraka jauh perbandingannya. Pacaran bagaimanapun bentuknya tetap Haram,

    Dan kalau tidak bisa menafsirkan ayat jangan mentaqwil sembarangan. Hukumanya berat, pelajari ilmunya jangan mudah membuat berita yang tidak benar adanya, karena berita yang kamu buat akan di catat oleh malaikat dan akan di hisab nanti di akhirat,

  3. Tulisan yang bagus. Saya pikir penulis cukup objektif juga. Diksi dan cara bercerita mengalir dengan sangat asyik. Saya baru tahu ada forum ‘ta’aruf’ yang secepat itu lewat tulisan ini. Soalnya Saya nikah dengan proses ta’aruf. Pakai proposal, tapi nggak langsung jrengg nikah. Ketemu keluarganya, ortunya ngobrol. Sebelum nikah Istri juga tetap ketemu keluarga besar. Bersama adiknya juga bersosialisasi di keluarga besar saya. Beberapa kali Ngobrol maunya rumah tangga gimana. Sempat merasa nggak cocok, trus kami berdua intropeksi mau di lanjutin nggak. Akhirnya nikah deh dan sekarang udah punya sepasang anak. Nikahnya juga diramein, karena saya bukan beauty vlogger terkenal haha. Ya mungkin jalan saya gitu. Tapi, saya sependapat dengan penulis bahwa nikah jangan gegabah, Ferguso haha. Apapun jalannya Yang penting ditekadkan dan menjaga sebelum menikah tidak ada yang ‘eng ing eng’ gitu. Seperti kata penulis (again) agama tuh penting. Sangat penting.

  4. yah pupus deh kesempatannya
    baru aja mau pake dalil qur’an buat dapet istri 4 dan 8
    malah si ferguso udah disebutin disini wqwq
    bad ending deh wqwq

    Agama udah jadi komoditas ya mbak?
    yang salah bukan agamanya, yang salah manusianya
    yang salah bukan duriannya, yang salah manusianya
    dagang durian kok pake iklan ulama
    ya apa seeeeeh ???

    wqwq maaf sekedar mengingatkan
    kalo komenan saya hanya bercanda wqwq

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.