Nikah Nggak Mudah, tapi juga Jangan Dibuat Susah

Nikah Nggak Mudah, tapi juga Jangan Dibuat Susah

Ilustrasi (weddingclub via Pixabay)

Tahun 2016 saya memutuskan hengkang dari kampus. Bukan kena DO, tapi meluluskan diri secara prematur. Sejak itu mulai jauh dari aroma kampus yang penuh tradisi pertarungan ideologi, dari kiri hingga akhi-ukhti.

Saya lalu lebih dekat dengan pergaulan kawan-kawan LSM yang meski lewat kepala tiga, lajang perihal biasa bagi mereka. Seolah-olah hidup hanya seputar udad-udud, ngopi, konsolidasi, advokasi. Rabi? Pikir keri

Sejak itu pula agenda-agenda seminar pra-nikah menjadi jarang terdengar, sehingga saya sempat berpikir, “Wah, propaganda nikah tak semarak dulu ya?”

Ternyata, saya keliru.

Seminar pra-nikah lebih ramai waktu jaman saya kuliah, tapi bukan berarti propagandanya berangsur sirna. Kini, umatnya hijrah ke akun-akun bertema ‘religi’ di media sosial.

Dengan jargon membumihanguskan tradisi pacaran dari Indonesia, akun-akun tersebut memuat konten yang membuat pembacanya patut mengerutkan dahi dan curiga, “Hmm.. ini strategi pengusaha wedding organizer menjamah pasar apa ya?”

Akun-akun seperti itu memang cocok jadi endorser wedding organizer. Lha, aktivitas feed-nya merongrong kawula muda untuk segera nikah terus, bahkan sempat-sempatnya merinci biaya keperluan nikah yang dianggap murah meriah halal.

Dari harga sewa penghulu, gaun, riasan, dokumentasi, konsumsi, mahar, seserahan, tertera semua. Satu yang kurang, yakni (( calon bagi yang membutuhkan )). Kekurangan ini pun dilengkapi oleh akun sejawatnya.

Semua rincian keperluan ijab dan resepsi, konon hanya dibanderol seharga Rp 5 juta. Nggak peduli seberapa lemah rupiah, karena selemah-lemahnya rupiah tidak lebih lemah dari iman para jomblo, menurutnya.

Tapi, kawan-kawan saya yang hidup di bawah sistem adat, misalnya Minang, Bugis, Batak, bakal sakit hati membaca postingan tersebut, alih-alih bersuka cita. Coba saja hitung sinamotnya, ongkos prosesi marhusip, martumpol, martunggo, marsibuha, pasti kesimpulannya bakal satu: markibung alias mari kita nabung.

Bagi mereka, uang Rp 5 juta itu hanya cukup untuk beli es cendol para hadirin selama sepekan prosesi nikah. Di daerah mereka, mahar untuk gadis bisa jadi sama mahalnya dengan mahar politik.

Baca juga: Sebab Menikah itu Menyempurnakan Separuh dari Gengsi Sosial

Para lelaki yang berasal dari keluarga biasa dan nggak bergelimang harta akhirnya hanya punya dua pilihan, menyerah pada tradisi atau ngutang sana-sini. Sementara yang lepas dari jerat tradisi justru terjebak dalam perhitungan gengsi.

“Masa sih anak mamah resepsinya cuma di kebun, itu sih jadinya pesta kebun. Masa sih tamu-tamunya mamah cuma makan nasi rames sama minum es teler? Itu sih jajan di warteg. Harus ada menu pembuka, utama, dan penutup yang… khas nusantara,” ujar seorang ibu kepada anaknya.

Itu mau buka restoran masakan nusantara atau resepsi kawinan?

Belum lagi ritual bridal shower oleh kawan-kawan mempelai perempuan. Kawan-kawan ini harus masuk prioritas dibelikan seragam bridesmaid dan dirias dong nantinya.

Bridesmaid ini seperti yang dicontohkan dalam film berjudul serupa. Bridesmaid adalah rewang alias pembantu dalam menyiapkan keperluan resepsi, secara leterlek bukankah artinya pun demikian? Tapi, di ‘tradisi’ kita sekadar pendamping foto. Maklum, bantu-bantu nyiapin acara resepsi itu bukan kegiatan yang instagramable.

Tapi, apa iya, selain tabungan haji, bank-bank juga perlu meluncurkan tabungan nikah?

Sementara itu, aktivis ‘anti pacaran-segera halalkan’ semakin progresif hingga merambah ke layar lebar. Setelah sukses di ranah literasi, Udah Putusin Aja dirilis dalam bentuk film. Sebagai penikmat film, bukan kritikus film, saya nggak wajib nonton sih. Alhamdulillah.

Lagipun, buat apa nonton film yang sudah ketebak isinya? Propaganda kawin. Lha gimana, wong nggak ada yang diajak kawin.

Artikel populer: Kenapa sih Apapun Masalahnya, Menikah Solusinya?

Dari ulasannya, mungkin, film ini hendak melawan FTV dan buku-buku chicklit yang dilayarlebarkan, yang suka mempengaruhi alam bawah sadar penontonnya jadi baperan.

Maka, dengan resep yang sama sederhananya, dibumbuilah propaganda anti-pacaran sebagai pesan syar’i dan aktor-aktor rupawan sebagai micin penyedap drama.

Pacaran dianggap sebagai penyakit, karena bisa menyebabkan maraknya aborsi akibat aktivitas seksual yang tidak bertanggungjawab. Tradisi pacaran harus dimusnahkan. Salah satunya dengan segera menikah, bahkan saat usia anak SMA. Jadi, kalau pacaran itu virus, menikah adalah vaksinnya. Sesederhana itu, pemirsa.

Padahal, kehamilan tidak diinginkan (KTD) itu juga bisa karena pemerkosaan.

Apa kiranya yang ada di benak para aktivis anti-pacaran ini? Mengapa memandang hubungan dua lawan jenis sebagai pelampiasan hasrat hormonal semata?

Pacaran selalu dianggap mesum, nikah pun dianggap solusi agar kemesuman itu tercatat sebagai amal ibadah. Jadi, ini yang sebenarnya mesum sejak dalam pikiran siapa ya?

Sementara, sebagian orang yang ingin memadu kasih, tapi tetap menyandang gelar hamba Allah yang terpuji, dibuatnya konsep pacaran syar’i.

Agendanya, ketemu di perpus buat ngerjain tugas atau ngaji bareng hingga ciuman lewat emotikon dan berpelukan dalam doa. Terus yang begini ada jaminan tidak melakukan – apa yang mereka sebut – zina, nggak?

Jujur, saya tidak sedang membela para sepasang kekasih. Buat apa membela yang bukan segolongan? Lha, saya ini jomblo seumur-umur kok.

Tapi, nggak mau dengan pongah mengharamkan pacaran, nanti dikira iri lagi. Apalagi, sok-sok’an mendaku jomblo lillah dan memprovokasi kawan-kawan untuk memilih jalan yang sama.

Karena urusan pacaran atau nggak itu perihal kenyamanan hidup masing-masing, mungkin juga nasib sih. Sementara urusan beragama soal hubungan transendental dengan Tuhan. Siapa saya kok berani mengaitkan pacaran dengan tingkat keimanan?

Kalaupun situ berniat baik hendak mencegah KTD ataupun Kekerasan dalam Pacaran (KDP) ataupun hal-hal lain yang dianggap merugikan individu dan masyarakat, ya tolong gunakan alasan yang membumi, bukan menghakimi.

Dengan begitu, antum bicara sama yang beda agama pun dapat dipahami. Lha, masa antum mau melarang umat non-muslim dengan hafalan ayat? Kitab suci kan bukan pasal KUHP.

Maksud ane, ketimbang nyuruh-nyuruh kawin cepet karena alasan nafsu yang sulit terkendali, mending mengupayakan pendidikan seksual yang memadai.

Supaya remaja-remaja nggak cari tahu soal pengalaman tubuhnya secara sembunyi-sembunyi. Supaya paham kalau perkara jasmani juga perlu dihargai.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.