Ngumpulin ‘Quotes’, Cara Paling Gampang Agar Dianggap Pintar

Ngumpulin ‘Quotes’, Cara Paling Gampang Agar Dianggap Pintar

Ilustrasi (Image by morhamedufmg from Pixabay)

Banyak jalan untuk menjadi dianggap pintar. Baca buku berjam-jam di perpustakaan sampai mata minus atau rajin mengikuti kajian ilmiah dan seminar adalah cara yang kuno. Kini, ada cara mutakhir yang layak dicoba: ngumpulin quotes!

Quotes atau kutipan adalah hal yang sudah tidak asing bagi manusia di masa Revolusi Industri 4.0 ini. Habitat quotes ada di mana-mana. Mulai dari Snapgram hingga buku sejarah setebal bantal.

Kita bisa melihat di Twitter, ribuan orang mengutip kata-kata baper Fiersa Besari dan Sudjiwotedjo. Atau, di dinding Facebook seorang pegiat literasi, bisa kita temukan dengan gagahnya quote Pramoedya Ananta Toer terpacak: “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Sedap betul!

Baca juga: Seberapa Banyak Beli Buku, Ujung-ujungnya Tidak Dibaca

Tak jarang pula kita dapati quote Pram berbunyi, “Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai.” Itu semua berlintasan. Dan, kita segera menduga si pengutip sebagai orang berselera tinggi terhadap sastra dan berpemikiran keren. Padahal, bisa jadi baca Bukan Pasar Malam saja belum tamat.

Kecenderungan mengutip kata-kata asoy semacam ini merambah di berbagai segmen. Para manusia berjiwa enterpreneur getol mengutip Merry Riana dan Bob Sadino. Para manusia berjiwa nasionalis dengan penuh percaya diri doyan mengulang-ulang kalimat John F. Kennedy: “Jangan tanyakan apa yang sudah negara berikan padamu, tapi tanyakan apa yang sudah kamu berikan untuk negara.” Wow banget memang.

Dan, tentu saja para ikhwan dan akhwat dengan semangat dakwah membara-bara sering menyuguhkanmu hadis-hadis Nabi dan kata mutiara ulama sebagai bentuk mengamalkan seruan Nabi, “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat.”

Baca juga: Akibat Terlalu Sering Bilang “Maaf, Sekadar Mengingatkan”

Itu orang-orang ‘kanan’. Sementara ‘orang-orang di persimpangan kiri jalan’ (gimana, saya sudah kelihatan cerdas dan gagah belum dengan mengutip judul buku Soe Hok Gie ini? Xixixi…) juga tak mau ketinggalan.

Kutipan Karl Marx, Tan Malaka, dan Widji Thukul telah jadi semacam menu wajib. Apalagi, pada momen Hari Buruh. Quote semacam “Kaoem proletar seloeroeh doenia… Bersatulah!” dan petikan sajak “Hanya satu kata: lawan!” pun berseliweran.

Mengutip quotes memang gampang membuat kita tampak banyak tahu dan berwawasan luas. Kita tidak perlu mengkhatamkan kitab Shahih Al-Bukhari untuk bikin orang berdecak: “Masya Allah ya kamu…” Atau, menamatkan Das Kapital untuk disangka paham mengenai Karl Marx beserta segala gagasannya. Cukup kutip satu hadis dan perkataannya saja. Tidak perlu capek-capek baca buku bertumpuk-tumpuk. Rajin amat sih.

Baca juga: Delapan Buku Fiksi Wajib Baca sebelum Usia 30

Kepandaian mencatut quotes ini merupakan keterampilan yang patut dipelajari. Selain bikin terlihat pintar, ini juga cara ampuh supaya bisa nimbrung dengan berbagai macam obrolan. Bisa pula sebagai trik menarik hati gebetan.

Misalnya, kalau kamu lagi pedekate sama cewek yang hobi cerita tentang mantannya atau hal-hal asmara sejenis itu, maka bawakanlah kata-kata Boy Candra atau Rintik Sedu yang teramat baper dan sendu itu. Niscaya, ia akan kelepek-kelepek dan memujimu: “Awww kamu romantis banget iiih.”

Atau, jika kamu lagi ngumpul dengan orang-orang yang suka dengerin lagu indie dan baca buku-buku kiri. Kebetulan, mereka kerap menyebut-nyebut tentang Pram, Soekarno, dan Slavoj Zizek. Kalau persediaan quotes-mu banyak, kamu tidak akan mati kutu dan diam saja kayak orang ‘dungu’ (kali ini saya mengutip istilah Rocky Gerung, hehe). Kamu bisa nimbrung lalu bilang, “Oh, Zizek ya, yang pernah bilang tolok ukur cinta sejati adalah ketika kamu bisa saling menghina satu sama lain.”

Artikel populer: Balada Perempuan Desa yang Berpendidikan Tinggi

Jangan ragu-ragu, katakanlah quotes yang kamu ketahui walaupun tidak nyambung blas. Yang penting kamu sudah ngomong dan kelihatan banyak tahu. Soal apakah kata-katamu sesuai konteks atau tidak, itu soal kesekian. Peduli setan dengan konteks.

Saya sudah mempraktekkannya sendiri. Saya pernah mencatat ribuan quotes. Quotes Islami ala Salim A. Fillah sampai quotes frontal macam kata-kata Frank Zappa. Seketika saya merasa pintar bukan kepalang dan sanggup membaur dengan semua kalangan. Padahal, sesungguhnya saya hanyalah ‘merasa pintar, padahal bodoh saja belum’ (kali ini saya mengutip Rusdi Mathari).

Sungguh, alangkah banyak keuntungan ngumpulin quotes! Jadi, mulai sekarang, perbanyaklah baca buku ngumpulin quotes!

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.