Ilustrasi pasangan. (Photo by Ba Tik from Pexels)

Tahun 2003, seorang penulis bernama Ayu Utami menerbitkan sebuah buku berjudul Si Parasit Lajang. Dalam buku tersebut, ia sekaligus mendeklarasikan diri sebagai perempuan yang enggan menikah. Ia menjelaskan beragam hal untuk melayangkan kritik terhadap lembaga pernikahan yang katanya bisa membelenggu kebebasan perempuan. Meski begitu, pada 2011, Ayu Utami menikah dengan seorang laki-laki bernama Erik Prasetya.

Sontak, keputusan Ayu Utami untuk menikah membuatnya viral kalau jaman itu sudah hits orang pakai media sosial seperti sekarang. Tak sedikit pendukung Si Parasit Lajang kecewa dengan keputusan Ayu Utami. Hingga akhirnya pada 2013, terbitlah buku Pengakuan: Eks Parasit Lajang.

Orang-orang menyebut Ayu Utami labil, tapi itu tetap jadi cuan melalui buku. Kalau sekarang, mungkin mirip konten yang viral karena kontroversial, lalu bikin klarifikasinya dengan konten baru. Tapi, sebelum buru-buru bilang Ayu Utami labil, ada baiknya kita sadari bahwa seiring berjalannya waktu, pemikiran manusia memang sangat bisa berubah. Time flies, people change.

Baca juga: Nggak Mau Punya Anak Dulu Bukan Pesimis, Justru Optimis

Manusia memang tercipta sebagai makhluk yang rasional sekaligus subjektif. Secara rasional, seseorang bisa saja sebelumnya menganggap bahwa pernikahan lebih banyak mudharatnya. Ditambah, ia belum menemukan pasangan yang cocok. Namun, beberapa tahun kemudian, subjektivitasnya malah memantapkan dirinya untuk menjalani pernikahan. Ketemu pasangan yang satu frekuensi pula.

Bukankah itu wajar? Sebuah pengalaman yang sangat personal, lagi masuk akal.

Kayak yang belakangan rame diomongin, soal childfree alias pilihan untuk tidak memiliki anak. Sosok Youtuber Gita Savitri atau Gitasav menjadi bahan gunjingan banyak orang, karena keputusannya yang secara sadar untuk tidak memiliki anak setelah menikah. Ia merasa memiliki anak dan menjadi orangtua merupakan tanggung jawab besar. Ia enggan melahirkan anak kalau pada akhirnya malah memberikan luka karena tidak bisa menjadi orangtua yang bertanggung jawab.

Rasional banget kan ya? Rasional banget dong.

Baca juga: Orang Berhak Punya Pasangan dan Anak, Sebagaimana Mereka yang Melajang dan Tak Ingin Punya Anak

Siapa di sini yang nggak sepakat kalau jadi orangtua itu tanggung jawabnya gede banget? Kayaknya nggak ada. Jadi masuk akal kalau Gitasav dan suaminya, Paul, sepakat untuk tidak memiliki anak setelah menikah. Mereka takut zalim terhadap darah daging mereka sendiri. Pun, sudah banyak fakta dan data yang menunjukkan bahwa ada trauma yang diturunkan dari generasi ke generasi karena pola asuh yang melukai inner child setiap orang.

Kita pun pasti nggak mau batin anak terluka nantinya. Terus, dibikin konten sama anak sebagai orangtua toksik?? Hmmm…

Itu baru urusan tanggung jawab secara mental dan emosional. Belum ngomongin finansial. Beberapa waktu lalu, sebuah media membuat perhitungan kasar bahwa membesarkan seorang anak bisa menghabiskan uang sekitar Rp 3 miliar sampai ia tumbuh besar dan mandiri. Kalau mau hitung-hitungan matematis dan logis, nggak egois lho ya ini, mending jangan punya anak dulu kalau merasa belum cukup duit. Terlebih, saat masa-masa sulit.

Baca juga: Bagaimana kalau Menikah dengan Upah Seuprit, tapi Tuntutan Sosial Selangit?

Belakangan, mulai banyak orang yang memilih untuk childfree. Itu pilihan yang rasional alias masuk akal. Walaupun, pilihan hidup itu dianggap ekstrem oleh masyarakat kita dan bakal berhadapan dengan orangtua dari generasi baby boomer.

Tapi biar nggak slek, bolehlah lihat lagi pengalaman Ayu Utami tadi. Time flies, people change. Manusia tercipta sebagai makhluk yang rasional sekaligus subjektif. Apapun pilihannya, mau punya anak atau childfree, seseorang bisa saja di kemudian hari merevisi pikiran sebelumnya.

Bukan, ini bukan mau mendoakan mereka yang memilih childfree untuk berbalik arah. Bagaimanapun, semua kembali pada pengalaman personal yang akan mengangkat sisi subjektivitas masing-masing individu.

Artikel populer: Chef Juna, Kita, dan Kata-kata Penghapus Stigma

Karena setiap pilihan tentu melahirkan konsekuensi tersendiri. Mau menikah, konsekuensinya begini. Kalau tidak menikah nanti begitu. Jika punya anak, konsekuensinya begini dan jika tidak, maka akan begitu.

Terkadang kita hanya sadar pada keputusan yang ditimbang secara rasional. Tapi ketika sisi subjektivitas kita muncul untuk merevisi pikiran sebelumnya, tak jarang beberapa orang tampak denial. Padahal, sifat manusia pada dasarnya cair. Merevisi pikiran bukan berarti labil atau tidak dewasa. Pemikiran kita pada tahun 2011 tentu sudah banyak berubah pada tahun 2021, bukan?

Intinya, santai saja dengan pilihan hidup orang lain yang sekiranya berseberangan. Kita tetap bisa saling mendukung dan berteman, meski beda pandangan.

1 KOMENTAR

  1. Aku komen ya Mrs. Seperti yg Mrs Mutia sampaikan di akhir.. tentu boleh kita beda pandangan.
    1. Disayangkan sekali Mrs Mutia hanya menggunakan pertimbangan rasionalitas dan subjektivitas tanpa pertimbangan sudut pandang agama. Kelihatan akhirnya jadi mentok gitu ya? Tapi bagiku ketika kita sudah menjadi muslim maka apa yg menjadi prinsip dalam Islam harus menjadi prespektif besar kita. Punya anak ya ga sekedar rasional atau ga rasional tapi bagian dari ketaatan kita pada Allah.
    2. Menurutku orang yg menyuarakan untuk jangan sampai kita nganut paham childfree! Adalah mereka yg berusaha mengingatkan saudara saudaranya sesama muslim agar tidak terbawa dengan trend pemahaman seperti itu. Apa berarti mereka ga ngehargai orang yg punya pemahaman childfree? Jawabannya sederhana Mrs.. agamamu agamamu agamaku agamaku.. jadi saudara kita yg mengingatkan kita soal childfree fokus pada suadara2 sesama muslim, untuk teguh pada iman. Memang akan selalu menjadi kaku sih Mrs ketika kita mengeluarkan statement kontra pada sesuatu yg sedang menjadi trend.
    3. Menurutku alasan ga punya anak karena takut ga mampu malah ga banget. Takut nyakitin anak? Hmmm
    Sepertinya ga ada anak yg nuntut dilahirkan dari rahim orang tua yg sempurna Mrs. Sudah sebuah siklus kadangkala saling menyakiti antara anak dan orang tua. Timbul sakit hati karena mereka berinteraksi. Tapi tak lantas menjadi alasan dasar untuk meniadakan sama sekali sebuah hubungan kodrati.
    4. Soal mampu tak mampu membiaya anak.. aku empat bersaudara Mrs. Bapakku gaji UMR. Karena kami tinggal di desa perhitungannya aku Potong dari 3 M menjadi 1 M. Jadi total 4 M, itu masih tetap belum rasional Mrs buat gaji UMR. Sebenarnya perhitungan ini hanya ingin menekankan bahwa punya anak memang butuh biaya besar. Ya memang besar ga dipungkiri kog. Tapi ga sebesar pesimisme orang yg memutuskan childfree karena takut finansial. Apalagi kita sebagai orang beriman Mrs.
    5. Kalau Mrs. merepresentasikan ayu Utami dalam parasit lanjangnya sebagai simbol dari rasionalitas dan subjektivitas manusia… Tapi bagaimana Mrs soal Saman-nya ayu Utami yg telanjang menari di atas bukit? Aku ga sedang menghakimi sebuah karya postmodern dari soal etika, rasionalitas, atau subjektivitas. Tapi yg ingin aku tanyakan sama Mrs Mutia, apakah Mrs masih akan menghargai perbedaan “perempuan menari telanjang di atas bukit” apalagi jika followers nya banyak? Dari segi rasionalitas saja tanpa keyakinan, tidakkah itu menimbulkan keresahan? Walau sebenarnya penggambaran itu dimaksudkan ayu Utami untuk berkata ‘tubuhku otoritasku”. Ga semua perbedaan harus kita terima dengan slow Mrs. Memang perlu diingatkan dan dibahas dari segi agama agar kita ga keluar daei fitrah.

    Hehhee. Anyway maap yaa kalau komenku kebawa serius.. 😘 Terus berkarya!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini