Ilustrasi perempuan (Image by JL G from Pixabay)

Pendidikan seks adalah bahasa positif untuk menyampaikan wacana seksualitas secara keseluruhan. Namun, karena pikiran-pikiran yang sedari awal sudah mesum, maka pendidikan seks selalu dianggap jorok.

Sama seperti bahasan soal kesehatan reproduksi, dikiranya hanya sebatas bagaimana bersenggama yang aman tanpa tertular penyakit. Biasanya kalau ada asumsi seperti itu, saya cuma geleng-geleng karena merevisi pikiran orang lain yang sedari awal mesum bakalan sulit, umpama menghentikan ‘sange’ tiba-tiba kan bukan hal mudah.

Bayangkan saja, proses pendidikan yang akan mengembangkan pola pikir kita terhadap seksualitas malah dibawa ke urusan ranjang melulu.

Reproduksi memang sangat terkait dengan alat kelamin, atau kita pakai istilah biologis saja, yaitu penetrasi penis ke dalam vagina (coitus). Proses reproduksi berawal jauh sebelum proses itu, terlepas dari apa tujuan manusia ingin melakukannya; apakah untuk memperoleh keturunan atau untuk kenikmatan.

Nah, klimaks sebagai puncak kenikmatan memang berlangsung beberapa detik, tetapi proses reproduksinya berlangsung lama, apalagi yang menyertainya adalah sistem sosial, kesehatan, ekonomi, dan politik.

Baca juga: Kita Harus Berani Bicara soal Seks

Sering kali, orang-orang yang lebih suka memakai istilah biologis untuk menjelaskan seksualitas malah rentan diberi label negatif. Terlebih, jika yang gamblang ngomong itu adalah perempuan.

Karena sedari awal posisi perempuan telah dilemahkan dan dianggap perlu diatur, maka sangat rentan diobjektifikasi. Perempuan tidak layak melanggar standar moralitas yang dibentuk oleh struktur otak patriarki, seolah yang berhak membicarakan seks adalah laki-laki. Padahal, seksualitas adalah urusan semua tubuh. Bagaimana mungkin urusan tubuh yang paling privat bisa diwakili oleh jenis kelamin lain?

Saya kemudian berpikir, kok lingkungan sosial kita tidak aman untuk urusan biologis ini. Bukan soal di mana dan kapan seks itu dibebaskan, tapi soal bagaimana mesum itu digunakan sesuai pada tempatnya. Lagipula, kita perlu mesum untuk waktu-waktu tertentu, bukan? Karena mesum adalah kebutuhan makhluk hidup, maka perlu menjamin keamanannya.

Baca juga: Perempuan juga Berhak Blak-blakan soal Seks

Namun, berbeda untuk kasus-kasus tertentu. Misal, dalam sebuah diskusi umum terkait seksualitas di salah satu kampus ternama bagian timur Indonesia, beberapa pekan lalu. Pembicara (perempuan) menggunakan kata penis, vagina, dan payudara dalam diskursusnya. Kemudian, seseorang menanggapi dengan awalan seperti ini, “Maaf dan rasanya tidak etik.” Tapi tetap saja analogi yang digunakan untuk menjelaskan kata bersenggama setelahnya adalah “berapa kali Anda ‘dipakai’..?”

Asumsi tersebut menganggap istilah biologis tidak etik dan menyamakannya dengan istilah ‘dipakai’ agar lebih diterima budaya timur, katanya.

Justru sangat kontras, karena budaya timur dipersempit oleh asumsi tersebut, malah jauh lebih tidak etik dalam kajian ilmiah. Penis, vagina, payudara sama kegunaannya ketika menyebut kepala, mata, ginjal, dan lain-lain. Istilah yang sangat jelas untuk mengkaji organ-organ tubuh.

Kalau selama ini kita membahas ginjal dalam ‘isu sosial’ menjadi simbol kemiskinan karena banyak orang yang rela menjual ginjal demi uang ratusan juta, maka ‘vagina’ dalam ‘isu sosial’ adalah proses, sistem, dan fungsi reproduksi misalnya kehamilan, kematian ibu, pelecehan seksual, perkosaan, dan lain-lain.

Baca juga: Oke, Fix! Kita Hidup di Negara ‘Rape Public’

Kasus tersebut tidak selesai begitu saja. Karena objeknya adalah perempuan yang secara ekspresi seksualnya lebih terbuka, lingkungan sosial malah balik mem-bully pembicara tersebut. Misalnya, orang-orang yang ngomong begini, “Dalam diskusi dia dengan enteng bilang penis dan vagina, giliran diajak diskusi soal ‘dipakai’ malah merasa jadi korban pelecehan seksual.”

Tanggapan-tanggapan tersebut datang dari berbagai latar belakang, mulai dari kaum moralis, agamis, dan akademis. Sayang sekali, kaum yang seharusnya menghargai orang lain malah ikut melecehkan.

Istilah ‘dipakai’ menggambarkan proses menggunakan benda. Sementara, hubungan seksual dalam sistem reproduksi adalah hubungan antar makhluk hidup, bukan hubungan antar makhluk hidup dengan benda.

Sama halnya ketika analogi ‘dibeli’ digunakan sebagai istilah dalam proses meminang perempuan. Beberapa daerah Indonesia memberlakukan sejumlah materi (harta) selain mahar untuk diberikan kepada pihak perempuan sebagai syarat pernikahan. Materi tersebut biasanya secara simbolis berarti kemapanan kaum lelaki untuk memperistri perempuan tersebut, apakah benar dia mampu bertanggung jawab secara finansial dan menjamin kehidupan anak perempuan yang akan berpindah dari wali.

Pada generasi terdahulu (masih di generasi ibu dan bapak saya), materi tersebut biasanya berupa: tanah, ternak, emas, atau rupa investasi lainnya. Namun sekarang, lebih sering diserahkan dalam bentuk uang. Mungkin karena faktor manusia modern lebih menyukai hal instan atau memang karena permintaan dari keluarga perempuan untuk menjamin perayaan pesta pernikahan.

Artikel populer: Sandhy Sondoro Diceramahi, Agnez Mo Dibully, Maria Ozawa Dipuji

Karena seolah-olah proses tersebut adalah transaksi, maka sebagian orang dengan enteng mengatakan perempuan itu ‘dibeli’. Sebagaimana jual-beli, perempuan sering diumpamakan sebagai barang dagangan yang dipasangi tarif awal, lalu ditawar untuk memperoleh kesepakatan harga.

Objektifikasi seperti itu secara tidak sadar melanggengkan praktik merendahkan perempuan. Karena merasa sebagai pemilik atas benda (tidak bergerak), maka muncul lah kekuasaan semena-mena terhadap hidup perempuan.

Selain itu, lingkungan sosial ikut-ikutan melabeli perempuan sebagai ‘benda’ yang bisa ‘dibeli’, lalu ‘laris’ dan siap ‘dipakai’. Tidak mengherankan hal ini akan berujung pada citra objek seksual sebagai pemuas nafsu ‘pembeli’. Dan anehnya, bahasa tersebut dianggap normal dalam budaya kita.

Bahasa keseharian yang mengandung pelecehan seksual terlalu sering kita dengar, diamini banyak orang, dan akhirnya dianggap wajar. Sementara, istilah kelamin dalam biologis tetap tabu untuk dibicarakan. Apa memang sebegitunya budaya kita yang moralis ini?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini