Ilustrasi remaja. (Photo by Ryanniel Masucol from Pexels)

Banyak orang tua cemas dengan pergaulan anak perempuannya yang baru gede, takut nanti zina lalu hamil, sehingga para ayah dan bunda sibuk melarang ini-itu. Ujung-ujungnya, si anak didorong untuk segera menikah, bahkan banyak yang masih di bawah umur dengan meminta dispensasi ke pengadilan agama. “Mending dinikahin sekalian daripada zina terus hamil?” katanya.

Duhh…

Anak baru gede alias ABG ini kalau pacaran kan masih unyu-unyu wagu. Ayah sama bunda kok mikirnya seks melulu. Model seminggu jadian, seminggu kemudian putus. Makanya banyak yang merasa bangga bisa merayakan ulang bulan tanggal jadian. Yup, ‘anniversary‘ momen jadian mereka biasanya bukan per tahun, tapi per bulan. Persis kayak cicilan KPR.

Alih-alih melarang mereka pacaran, kenapa nggak ngajarin mereka tentang pacaran yang sehat aja? Ini juga bagian dari pendidikan seksual (sex education) di usia remaja. Lagian, ayah bunda kayak nggak pernah jatuh cinta berjuta rasanya.

Ini usia rebel loh, biasanya semakin dilarang malah kayak diperintah.

Baca juga: Nyatanya Orangtua juga Butuh Pendidikan Seks, Bukan Cuma Anak-anak

Apa yang ditakutkan selama ini, misalnya zina dan kehamilan tak diinginkan di usia remaja, bisa terjadi karena anak tidak dibentengi dengan pengetahuan yang memadai, termasuk tentang risiko-risikonya. Apakah bisa menjamin anak tidak mengakses konten pornografi? Bagaimana kalau itu malah dijadikan referensi?

Sebelum itu terjadi, maka berkomunikasi lah dengan anak perihal sex ed. Nggak usah takut ribet atau bingung duluan bagaimana caranya memulai komunikasi. Rileks, ini edukasi lewat diskusi, jadi jangan menggurui.

Kalau mau lebih santuy, sebaiknya anak perempuan diajak ngobrol oleh ibu atau kakak perempuan yang sudah cukup umur. Sementara, anak lelaki diajak ngobrol oleh bapak atau kakak laki-laki yang juga sudah cukup umur.

Itu supaya nggak awkward alias nggak canggung aja sih. Awalnya, saya juga sempat canggung. Bagaimanapun, banyak orang tua yang mendadak kelu kalau membahas sesuatu yang masih dianggap tabu.

Sebagai orang tua yang memiliki anak remaja, awalnya saya juga deg-degan gimana gitu. Memang nggak mudah, tapi bukan berarti susah.

Baca juga: Perbanyak Dialog tentang Seks, jika Tidak Kapan Perempuan Bisa Dapat Kepuasan?

Yah, daripada melarang anak pacaran, mending kita bekali dengan pengetahuan. Dilarang-larang malah nanti memilih backstreet (pake boys nggak neh?). Kalau sampai backstreet, apalagi tanpa pengetahuan yang memadai, justru makin repot. Si anak juga nggak akan terbuka, karena takut dimarahi orang tua.

Tapi kalau kita saling terbuka, kadang ada saja informasi mengejutkan yang mungkin selama ini orang tua tidak tahu. Informasi soal pergaulan anak remaja kekinian, khususnya yang nyerempet-nyerempet seks. Misalnya, ada anak seusia mereka yang bisa diajak sekali kencan dengan tarif Rp 20 ribu hingga anak yang kecanduan sex chat.

Belum lagi, ada anak yang diam-diam merekam setiap kegiatan orang yang disukainya, lalu mengunggahnya di media sosial. Pun, tentang sekelompok anak yang ikut grup khusus konten pornografi.

Well… siapa sih yang nggak berasa dikemplang kepalanya saat dengar itu semua dari anak usia belasan yang masih pakai seragam putih biru? Bayangkan, apa jadinya kalau orang tua cuek-cuek bae dengan yang namanya sex ed?

Baca juga: Suka Sama Suka, Apa Iya Bisa Ngeseks Semaunya?

Jangan percaya diri dulu bahwa anak-anak kita adalah anak-anak manis yang nggak ngerti sama sekali tentang seks, apalagi pornografi. Sebab kita semua tahu bahwa akses internet semakin tak terbatas.

Anggaplah mereka tidak mencari sendiri, tapi masih ada teman-temannya yang dengan bangga mempersembahkan link, gambar, foto, cerita, bahkan potongan video atau film. Mirisnya, mereka cenderung kompak saling berbagi. Biar dianggap kekinian.

Tapi… tapi… jangankan anak yang baru gede, kalau urusan link dan video mesum, orang tua juga kompak kok. Kwkwkw…

Sama-sama belajar ajalah ya, orang tua juga banyak yang butuh sex ed. Pun, tidak tahu atau tidak mau tahu tentang apa saja yang sudah anak ketahui terkait pornografi yang berkelindan dengan akun-akun media sosial mereka.

Apalagi, hampir 90% anak-anak remaja perempuan pengguna internet dan memiliki akun media sosial mendapat kekerasan gender berbasis online (KGBO), tanpa mereka tahu apa itu KGBO. Mereka hanya tahu ada pesan masuk di akun media sosial yang meminta PAP TT alias foto bagian dada dan semacamnya. Juga, chat dan jokes mesum terkait bentuk tubuh mereka.

Artikel populer: Ngopi dan Ngeseks Sehormat-hormatnya

Bagi anak yang paham bahwa itu bukan sesuatu yang sehat, biasanya langsung memblokir atau menegur. Namun, ada juga yang belum paham dan merasa senang dipuji bentuk tubuhnya hingga bersedia memberikan foto-foto bagian tubuhnya kepada orang yang memuji.

Sementara, remaja laki-laki cenderung abai dengan bentuk tubuh sendiri, tapi justru sibuk memperhatikan bentuk tubuh teman-teman perempuan mereka. Sayangnya, ketika mulai merasakan dorongan seksual, mereka juga mulai belajar membuat jokes mesum hingga mengakses konten pornografi.

Itulah sebabnya sex ed penting bagi anak-anak. Salah satu tujuannya agar anak lelaki bisa mengontrol diri dari gempuran hormon testosteron yang belum stabil. Mengedukasi diri supaya tidak melakukan perbuatan yang merendahkan perempuan, serta memahami risiko berhubungan seksual di usia remaja.

Dengan memahami risiko-risikonya, tentu salah satunya bisa mencegah kehamilan yang tidak diinginkan – seperti yang selama ini dicemaskan oleh para orang tua.

Jadi ayah dan bunda jangan risau lagi, nggak perlu melarang-larang anak pacaran, lalu menyuruh anak buru-buru menikah hanya karena ingin menghindari zina. Apalagi, anak masih di bawah umur. Antarkan mereka sekolah, bukan ke KUA.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini