Ngobrol Bareng Handoko Tjung tentang Permainan Kata-kata Hingga ‘Jokes’ Om-om

Ngobrol Bareng Handoko Tjung tentang Permainan Kata-kata Hingga ‘Jokes’ Om-om

Handoko Tjung (Instagram)

Di era digital seperti ini orang-orang berlomba-lomba mengejar “harta, tahta, dan konten”. Pokoknya, demi konten apa pun akan ditempuh. Bahkan, ada jenis netizen yang rela menyebar aib sendiri pada khalayak ramai, untuk apa? Ya jelas demi engagement dan popularitas.

Itu jelas perkara buruk. Kita memerlukan panduan praktis agar tak terkesan norak di internet. Tapi sayang, hal semacam ini tak pernah diajarkan di bangku sekolah.

Beberapa waktu lalu, Handoko Tjung diberi penghargaan oleh Bekraf dan Kemendikbud karena dinilai telah memberikan influence positif di Twitter. Karena kami tak mau pembaca setia Voxpop salah langkah dalam mengemas konten, maka kami wawancarai saja beliau.

Oke, langsung saja disimak ya…

Halo, Mas Handoko. Apa kabar? Sebelum lebih jauh, saya mau tahu dong, selain menjadi kreator konten, ada nggak sih kesibukan lain? Menanam tumbuhan hidroponik, misalnya?

Halo, Mas. Selain jadi kreator konten, saya sehari-hari menjalankan perusahaan graphic design saya sendiri di Jakarta Barat, namanya Upperwest Creative. Dinamakan Upperwest karena letaknya di barat dan letaknya di lantai 4.

Kreatif kan? Tolong jawab kreatif atau saya sudahi interview ini.

Baca juga: Karena Penasaran, Ku Wawancarai Marno Blewah dan Aku Kagum!

Soal kreatif atau tidak, biar netizen yang menilai, hehe Omong-omong, tujuan awal membuat akun ini untuk apa sih? Apakah untuk senang-senang semata atau memang diniatkan untuk meng-influence orang?

Sebenarnya udah main Twitter dari 2008, tapi baru dari tahun 2013-2014 sejak abis patah hati jadi bertekad berhenti curhat di sosmed dan jadi suka nulis kreatif di sini. Buat ajang belajar creative writing aja dan buat senang-senang. Awalnya nggak ada niat buat meng-influence orang.

Jadi, berawal dari patah hati?? Wqwq… Oh ya, salah satu ciri khas konten Mas Handoko adalah kemahiran penggunaan puns (permainan kata-kata). Ceritain sedikit dong bagaimana awalnya?

Dari kecil kayaknya emang saya udah suka main puns-puns gitu. Waktu kecil dulu, saya pernah bikin komik 4 panel dimana SonGoku kalah adu Kamehameha lawan Bejita, tapi kemudian Bejita kalah karena dijitak, kenapa? Karena namanya Bejitak. Absurd kan? Ada-ada saja memang kelakuan anak-anak.

Baca juga: Alasan Sebenarnya Akun @PEMBIMBINGUTAMA Berkicau di Twitter

Tapi, netizen di Twitter menilai Mas Handoko membawa ‘komedi yang cerdas. Tolong jelaskan dong titik dikotomi antara komedi yang cerdas dan tidak?

Kalau saya lihat di Twitter, komedi itu ada beberapa jenis:

– Komedi relatable, ini komedi yang bikin orang bergumam, “Ini gue banget.”
– Komedi galau, yang punchline-nya biasanya tentang cinta-cintaan.
– Komedi ‘cerdas’, komedi yang bikin orang berpikir atau bergumam, ‘Iya juga.”

Ada pula dark joke yang bikin orang bingung ini mesti diketawain atau nggak.

Kalo Mas Handoko sendiri setuju dengan ‘komedi cerdasyang telah melekat pada diri Mas?

Ya saya sih seneng-seneng aja kalau dibilang cerdas, walaupun pada dasarnya orang-orang yang bisa menulis kreatif di Twitter itu ya pastinya memiliki spektrum kecerdasan tersendiri.

Nah, jika besok adalah awal karier Mas Handoko sebagai influencer, kepikiran nggak mengemas persona branding menjadi cah pwisie atau sobat senja-senjaan?

Rasanya tidak, sudah cukup nyaman di bidang bermain kata. Lagipula, rasanya saya sudah terlalu tua untuk jadi galau, lebih cocok mempersiapkan diri menyambut usia senja daripada menjadi sobat senja.

Btw, platform mana yang menurut Mas paling nyaman digunakan?

Twitter, karena hanya berbasis kata, sehingga saya tidak perlu merasa insekyur atas penampilan dan harta kekayaan saya di sini.

Baca juga: Lebih Dekat dengan Bude Sumiyati, Selebtwit Level Bidadari

Tapi konon, kejulidan netizen kita adalah kearifan lokal. Ada nggak sih yang berusaha merisak? Ngatain “dasar jokes bapak-bapak WA”, misalnya?

Cukup banyak yang bilang “dasar jokes om-om”, tapi semenjak orang-orang di dunia nyata sudah mulai menggeser panggilan terhadap saya dari “kak” jadi “pak”, saya sudah mulai meng-embrace ke-om-om-an yang inevitable tersebut.

Belakangan banyak sekali bermunculan bad influencerdi Indonesia, bagaimana tanggapan soal itu?

Selain si influencer-nya harus mawas diri bahwa dia punya pengaruh, sehingga harus berpikir dua kali sebelum mem-posting sesuatu, dari sisi followers juga harus begitu.

Karena di jaman dimana semua orang mudah menjadi influencer, saya rasa ya netizen harus pandai-pandai memilih mau terpengaruh sama influencer yang mana.

Ada gak sih pengaruh lingkar pertemanan terhadap selera humor yang Mas tunjukkan di hadapan khalayak?

Sedikit banyak ada, karena konon 5 orang terdekatmu adalah cerminan akan jadi siapa dirimu. Di dunia maya juga gitu. Kalau follow cebong, semua akan jadi cebong. Follow kampret akan jadi kampret. Itulah kenapa selain follow akun lucu saya juga follow Warren Buffet, Bill Gates, siapa tau ikutan jadi kaya.

Artikel populer: Obrolan Khusyuk Bikin Nyengir dengan @jek___ yang Fenomenal

Waduh, terus kalau follow Bude Sumiyati jadi apaan ya? Tolong, sebutkan masing-masing satu kreator konten favorit Mas di Twitter, Instagram, dan Youtube?

Twitter: @Makmummasjid
Instagram: @younghstlrs
Youtube: The School of Life

Omong-omong, konten mana sih yang menghasilkan engagement paling besar?

Dalam konteks engagement dalam tiga bulan terakhir, ini;

Memang menyakitkan apabila fenomena ilmiah bergabung dengan kenangan people we can’t have.

Dalam konteks mana yang membuat banyak impact, saya rasa Ayla View paling ramai karena jadi banyak yang buat teksnya dan tersebar banyak yang bikin versi mereka sendiri di akun ngakakkocak dan lain-lain.

Nah, seandainya tiba-tiba Pak Jokowi memilih Mas Handoko sebagai menteri, kira-kira Mas lebih cocok jadi menteri apa, nih?

Jadi Menteri Kelautan agar bisa menjaga biota laut dan menyelamatkan chat saya ke dia yang tenggelam.

Terakhir, dan yang paling penting, Mas ini tim bubur ayam diaduk atau tidak diaduk? Maaf, ini penting.

Tentu saja tidak diaduk, itu orang-orang yang bilang diaduk agar rasanya tercampur semua memangnya kalau makan burger diblender? Ada-ada saja.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.