Ilustrasi lajang. (Photo by Maria Orlova from Pexels)

Memutuskan untuk punya anak bukan hal yang mudah. Tentunya penuh pertimbangan. Sebab itu, menunda rencana punya anak merupakan pilihan yang lumrah. Saya menggunakan kontrasepsi non-hormonal supaya tetap aman dan menghindari kehamilan tak direncanakan.

Boleh jadi ini childfree. Keputusan untuk childfree datang dari diri sendiri, bukan karena lagi ngetren. Kalau memang memilih secara sadar dan menikmatinya, ya nggak apa-apa dong? Iya sih, banyak orang yang menganjurkan untuk menikah dan punya anak, terutama dari keluarga. Mereka begitu menantikan tanggal pernikahan.

Namun, punya anak bukanlah opsi untuk saat ini. Tidak dengan upah yang masih kurang layak untuk bisa hidup bersama keluarga. Tabungan pun masih jauh dari kata “kurang”.

Baca juga: Bagaimana kalau Menikah dengan Upah Seuprit, tapi Tuntutan Sosial Selangit?

Oh, ini bukan pesimis, justru optimis. Optimis bahwa kelak bisa memberikan kehidupan yang layak bagi anak, jika melakukannya dengan bijak dan penuh pertimbangan. Kalau ditanya apakah mau punya anak? Tentu mau, tapi mau melakukannya dengan penuh tanggung jawab.

Alasan kelak punya anak sama seperti kebanyakan orang: tidak mau kesepian. Klise memang. Tapi selama kemampuan finansial belum mencukupi, tidak mau punya anak dulu. Ya sekalian menikmati masa-masa menjadi lajang.

Pasti ada yang bilang, “Kenapa sih harus nunggu sampai mapan dulu?” Jawabannya simpel, karena tidak mau menjadi orangtua yang membebani anak. Tidak mau dia menjadi generasi terjepit yang harus menghidupi orangtuanya kelak. Dia semestinya tumbuh di lingkungan yang sehat dan aman, tanpa harus orangtuanya ngutang sana-sini.

Baca juga: Orang Berhak Punya Pasangan dan Anak, Sebagaimana Mereka yang Melajang dan Tak Ingin Punya Anak

Ada baiknya menjadi orangtua yang bisa mengatur keuangan sendiri. Bisa menabung untuk hari tua, menabung untuk biaya pendidikan anak, menyisihkan uang untuk kebutuhan sehari-hari, dan bersenang-senang. Itu keinginan saya kalau nanti menjadi orangtua.

Sebab saya adalah bagian dari generasi yang mengalami trauma masa kecil. Saat dewasa, bawaannya ingin kabur dari rumah. Ketika sudah mulai bisa menghidupi diri sendiri, jadi malas menengok orangtua. Eh, ternyata banyak juga yang mengalami hal serupa. Anak durhaka? Entahlah. Daripada menghakimi, lebih baik petik hikmahnya, kan?

Setidaknya dari situ muncul kesadaran bahwa punya anak harus bijak, yang tak lepas dari kesiapan mental dan finansial. Apapun standarnya, apakah ingin menyekolahkan anak di sekolah negeri atau sekolah internasional, pastikan mampu secara mental dan finansial.

Baca juga: Kalau Ibu adalah Sekolah Pertama, Berarti Ada Sekolah Kedua, Ketiga, dan Seterusnya

Banyak anak banyak rezeki atau setiap anak ada rezekinya, mungkin berlaku bagi beberapa orang. Namun, tetap saja, itu tak akan terwujud kalau tidak berusaha. Tuhan pun tidak akan membantu manusia yang tak mau berusaha. Itu diyakini oleh orang yang berusaha menyiapkan kehidupan yang layak untuk diri sendiri dan anak nantinya.

Kalau ingin anak menemani kita di hari tua, ya semestinya menjadi orangtua yang berani memutus rantai kekerasan yang dulu pernah kita dapatkan dari orangtua.

Sering kali kita lihat bahwa orang memiliki anak lebih dikarenakan tuntutan sosial. Bukan berarti mereka tanpa pertimbangan finansial, tapi mereka kerap tak punya akses dan kondisinya tidak memungkinkan untuk menunda punya anak. Bisa karena ia dikondisikan, bisa juga karena perempuan belum cukup berdaya untuk menolak atau menunda kehamilan.

Artikel populer: Memangnya Bisa Ya Jatuh Cinta Tanpa Alasan?

Sementara, beberapa orang yang menolak atau menunda punya anak menganggap bahwa sistem negara tidak bisa menjamin anak mendapatkan kehidupan yang layak. Pun, tanggung jawab mengurus anak hanya dibebankan kepada perempuan, kualitas pendidikan masih belum terjamin, belum lagi krisis iklim yang membuat bumi makin tak layak huni.

Sudah saatnya kita berhenti menyalahkan orang yang menolak atau menunda punya anak. Kita lebih baik merefleksikan kembali. Bagaimana negara bisa menjamin kehidupan yang layak bagi rakyatnya, termasuk anak-anak. Dan, bagaimana kita bisa lebih menghargai pilihan orang lain, termasuk pasangan masing-masing.

Lantas, bagaimana kalau pasangan kita tidak cocok dengan tujuan hidup kita? Yah, mungkin tidak berjodoh.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini