Nggak Langsung Balas Chatting, Kasar Nggak sih?

Nggak Langsung Balas Chatting, Kasar Nggak sih?

Ilustrasi (Rudy and Peter Skitterians via Pixabay)

A: “Sbb”
B: “Kok baru bales sih? Kan lo udah baca dari kemarin?”
A: “Iya, iya sori”

A: “Haihai”
B: “Kok baru baca chat gue sih? Padahal lo aktif di grup”
A: “Iya-iya maaf, chat lo tenggelam. Maklum banyak grup”

Dialog tersebut dijamin tidak asing lagi dalam keseharian kita. Sebab, itu terjadi pada platform instant messaging (populer: chatting) manapun.

Saya sendiri mematikan fitur read receipt (centang biru) di WhatsApp dan beberapa kali mendapat teguran untuk menyalakan kembali fitur tersebut, karena penegur tidak bisa mengecek dengan mudah apakah pesannya sudah terbaca atau belum.

Yap, fitur read receipt memang diperkenalkan pada aplikasi IM. Generasi pendahulu IM, yaitu SMS, paling jauh hanya menyertakan fitur delivery report. Artinya, sejak era IM, pengirim pesan dapat mengetahui apakah pesannya sudah dibaca atau sekadar terbuka oleh penerimanya.

Hal inilah yang menyebabkan munculnya norma baru dalam komunikasi digital:

1. Kalau online tapi tidak read pesan masuk sesegera mungkin, artinya kasar.

2. Lebih kasar lagi kalau sudah read, tidak segera membalas.

Benarkah begitu?

Baca juga: Seberapa Bohongnya Orang di Aplikasi Kencan? Temukan Jawabannya

Kalau diperhatikan, bentuk komunikasi digital terbagi dalam dua kelompok utama, yaitu langsung (telepon, vidcall, dan lain-lain) dan tak langsung (SMS, IG direct message, dan lain-lain).

Bentuk komunikasi langsung mengharuskan kedua pihak untuk fokus berkomunikasi, seringkali meninggalkan aktivitas lain untuk merespons pihak lain secara langsung.

Contoh paling sederhana tentu saja telepon. Kalau ada telepon masuk, kita cenderung untuk fokus pada kegiatan telepon saja. Kalau ada pertanyaan pun, bisa dijawab saat itu juga. Tidak ada delay.

Maka, pada era telepon pintar (smartphone) ini, telepon lebih banyak digunakan bila ada hal yang sangat urgen dan membutuhkan jawaban langsung.

Sementara, bentuk komunikasi tidak langsung berkembang dari surat-menyurat. Ketika seseorang mengirim surat, tentu saja ada jeda waktu. Bentuk digital untuk komunikasi tidak langsung ini di antaranya e-mail, kemudian SMS, dan sekarang instant messaging.

Sebetulnya secara konten tidak ada perubahan dari bentuk konvensional dan digital dari komunikasi tidak langsung, yaitu teks. Perubahan besarnya adalah waktu pengiriman. Sistem digital memungkinkan teks dikirim dalam waktu yang jauh lebih cepat.

Baca juga: Menjadi ‘YouTubers’ yang Dihujat Netizen, tapi Dikagumi Presiden

Sebelum era smartphone, komunikasi teks digital menggunakan email hanya dapat dibuka ketika penerimanya membuka komputernya, meskipun email tiba dalam waktu sekejap setelah dikirimkan. Demikian juga dengan instant messaging, pengguna hanya bisa membaca pesan masuk ketika ada di depan komputer.

Kini, dengan adanya smartphone, seseorang dapat langsung membaca pesan yang masuk begitu dikirimkan, dan langsung dapat membalasnya saat itu juga. Dengan demikian, instant messaging di era smartphone ini menjadi berada di antara komunikasi langsung dan tidak langsung.

Masalahnya, banyak pengguna yang memandang instant messaging atau IM sebagai komunikasi langsung, atau sebaliknya.

Jika pengguna memandang IM sebagai komunikasi langsung, ia cenderung tidak mau terlambat membalas pesan masuk, sehingga ia sering mengecek layar ponselnya. Seringkali pembicaraan dengan lawan bicara secara fisik harus diinterupsi untuk membalas pesan.

Sebaliknya, ia seringkali menuntut penerima pesan untuk membalas langsung pesannya segera sesudah dibaca.

Artikel populer: Netizen yang Kafah Harus Tahu Sosok Squidward, Temannya Spongebob

Bagi saya, IM tetap merupakan bentuk komunikasi tidak langsung. Smartphone memudahkan pengguna mengirim dan membalas pesan di mana saja dan kapan saja. Tetapi, hal tersebut tidak mengandaikan penerima pesan dapat (dan harus) langsung membaca dan membalas pesan segera sesudah pesan tersebut masuk.

Bentuk komunikasi teks seperti surat, email, SMS, maupun IM sebetulnya membutuhkan waktu dan perhatian yang cukup, sehingga pesan dapat disampaikan dengan baik serta menghindari salah paham.

Bahkan, kalaupun konteksnya santai seperti sedang chatting, penempatan beberapa alat bantu seperti emoji yang tepat bisa menghindari salah paham.

Karena itu, lebih baik kalau membuka dan membalas semua pesan masuk pada waktu-waktu tertentu, seperti sesudah sarapan dan makan siang ataupun menjelang waktu tidur.

Beberapa orang bisa berargumen bahwa IM harus dibaca dan dibalas sesegera mungkin, kalau-kalau ada hal yang urgen. Bagi saya, bila ingin lekas direspons, lebih baik menggunakan bentuk komunikasi langsung, seperti telepon atau vidcall.

Dengan demikian, pihak yang dihubungi bisa langsung mengangkat dan merespons, terutama kalau menyangkut hal yang urgen. Mudah kan? Kecuali, Anda termasuk golongan orang-orang fakir asmara pulsa dan data. Yhaaa…

1 COMMENT

  1. Bener tuh, saya sendiri juga tipe orang yang jarang banget langsung bales chat. Apalagi kalau chat cuma bersifat layaknya ‘obrolan’. Kecuali kalau memang tanya sesuatu atau hal lain yang ada kepentingannya, sesegera mungkin pasti langsung dibalas.

    Telepon memang menjadi solusi terbaik untuk keperluan penting yang butuh jawaban saat itu juga.

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.