Ilustrasi perempuan (Photo by Emre Kuzu from Pexels)

“Saya feminis, tapi…”

Tapi apa?

Pernyataan itu seolah-olah ingin membenarkan pernyataan selanjutnya, seperti tidak mendukung hak-hak LGBTIQ, aborsi, kepemimpinan perempuan, dan lainnya.

Perlu diketahui bahwa feminis bukan tren. Feminisme adalah sesuatu yang diimani dan tercermin dalam perilaku. Feminisme berkembang sebagai upaya perlawanan untuk membebaskan manusia dari ketertindasan, termasuk laki-laki dan minoritas gender.

Karena itu, menjadi perempuan bebas dan mandiri saja tidak cukup, jika tetap permisif dan terang-terangan meniadakan eksistensi seseorang dengan pernyataan “saya feminis, tapi…”

Tapi menindas?

Lah, kamu mengaku berjuang untuk mencapai kesetaraan, tapi yang lain nggak boleh setara, gimana sih? Coba kalau perempuan kulit putih berkebangsaan Amerika yang non-muslim bilang begini, “Aku feminis, tapi tidak mendukung perempuan memakai jilbab.” Apa yang ada dalam pikiranmu? Pasti kamu akan berpikir dia Islamofobia, kan?

Baca juga: ‘Uninstall’ Feminisme atau Tidak? Sebuah Saran

Tentunya, orang-orang yang bilang dia feminis tapi tidak mendukung hak-hak LGBTIQ atau kepemimpinan perempuan adalah orang-orang yang homofobia dan misoginis. Mengapa? Sebab ada bias-bias dalam diri yang tidak berani ia konfrontasi atau akui.

Ya nggak bisa gitu dong, orang Islam kan minoritas dan sering mendapat perlakuan diskriminatif di Amerika.

Hellooo… Apakah kamu tidak melihat LGBTIQ juga minoritas dan didiskriminasi, bahkan dipersekusi di Indonesia?

Heran ya, kenapa sih penting banget para ‘feminis’ ini teriak-teriak menolak LGBTIQ? Apakah dengan mengatakan seperti itu bisa membantu seseorang mendapatkan hak-haknya? Tidak. Yang ada malah bikin masalah baru.

Pernyataan “saya feminis, tapi…” ini maknanya mirip dengan tren “maaf, sekadar mengingatkan” yang kemudian langsung menceramahi perempuan. Kata “maaf” seakan-akan ingin menunjukkan bahwa dia adalah orang yang simpatik dan peka, namun ujung-ujungnya ia tetap membenarkan dan menggunakan kata-kata yang menyakiti orang lain.

Baca juga: LGBTQ+ Sama dengan Kita, ‘Ambyar Generation’ juga jika Ditinggal Pas Lagi Sayang-sayangnya

Apakah feminisme lahir untuk menyakiti orang lain, terlebih dia mengalami ketertindasan? Tidak, kan? Jadi, ngaku-ngaku “saya feminis” dalam pernyataan tadi cuma nonsense alias omong kosong alias bualan semata.

Kata-kata Audre Lorde akan selalu berlaku: “Saya tidak bebas, ketika ada perempuan yang tidak bebas, walaupun penindasan dia dan saya berbeda.” Hal ini menunjukkan bahwa perempuan – termasuk LGBTIQ – yang tidak bebas menjadi penanda bagi saya, kamu, dan kita semua yang tidak merdeka. Kesadaran ini semestinya menjadi kolektif, bukan kesadaran individu.

Belakangan ini, banyak kajian-kajian keagamaan yang ramah terhadap keragaman gender dan seksualitas untuk membentuk kesadaran kolektif tersebut. Tapi, ada saja orang-orang atau kelompok yang menolaknya. Yah, mungkin alam bawah sadar mereka diselimuti kebencian. Terus, sampai kapan jadi pembenci? Sampai mati? Kebencian kok dibawa mati?

Baca juga: Sebab Reynhard adalah Monster, Bukan karena Gay

Memupuk kebencian sangat berbahaya, selain menindas dan menyakiti orang lain, bisa mendorong diri sendiri jatuh dan terjebak dalam kebodohan hingga ke dasar yang paling dalam. Buktinya mereka terus-terusan menolak narasi yang ramah dari para ahli, ilmuwan, hingga tokoh agama.

Lagi pula, kalau kita menginginkan perubahan, maka kita harus keluar dari zona nyaman. Tinggalkan privilese, jadikan konfrontasi terhadap diri sendiri itu hal biasa.

Kita mungkin tidak suka dengan apa yang akan kita alami karena bertentangan dengan doktrin sekian puluh tahun dalam kehidupan kita. Tetapi, mau sampai kapan kita terjebak dalam lubang yang sama? Bagaimana kalau orang-orang yang kita sayangi kelak mengalami diskriminasi dan persekusi?

Saya tidak sedang memaksa kamu untuk menerima pikiran-pikiran dalam tulisan ini. Tapi, mari belajar bareng-bareng, bisa dari kajian keagamaan yang banyak menawarkan keramahan terhadap ragam perspektif gender dan seksualitas. Sebab agama itu ramah dan penuh rahmah.

Artikel populer: Akun Dakwah tapi Suka Julid ke Perempuan, Akutu Nggak Bisa Diginiin!

Banyak cendekiawan di bidang agama yang keilmuan dan pemikirannya teruji, sekolahnya tinggi, pernah mondok di pesantren selama bertahun-tahun. Pemikiran mereka ramah terhadap keragaman gender dan seksualitas. Semisal, para pentolan Fahmina Institute yang menghasilkan fikih sesuai dengan konteks masyarakat hari ini.

Memang sih, selama ini para cendekiawan Islam yang berkemajuan kerap dikatakan sesat dan liberal oleh orang-orang atau kelompok yang membenarkan misoginisme, homofobia, dan transfobia. Pelabelan itu dilakukan untuk menakuti orang-orang agar tidak mempelajari agama lebih dalam dan kritis dalam melihat konteks kekinian. Akhirnya, banyak orang enggan membuka pemikirannya.

Ketahuilah, orang-orang yang hobi menyematkan label sesat dan liberal itu hendak mengontrol pemikiran yang berkembang di masyarakat. Pemikiran yang sebetulnya dibutuhkan saat ini. Masa pikiran kita dikendalikan oleh mereka? Jika kita mengamini, sesungguhnya kita adalah orang-orang yang merugi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini