Negarawan, Pak, Bukan Gegarawan (Surat Terbuka untuk Prabowo)

Negarawan, Pak, Bukan Gegarawan (Surat Terbuka untuk Prabowo)

Prabowo Subianto (Twitter @prabowo)

Yth, Pak Prabowo. Semoga bapak selalu sehat dan tampak bahagia, meskipun saat ini mungkin tak benar-benar bahagia. Tapi itu semestinya tak menjadi masalah.

Lima tahun lalu, dalam sebuah forum, saya ingat betul bapak sudah digadang-gadang maju sebagai calon presiden untuk Pilpres 2014. Beberapa bulan kemudian, Gerindra beserta partai pengusung lainnya menaruh harapan kepada bapak agar kelak menjadi Presiden Indonesia.

Tapi, namanya juga harapan, kadang tak menjadi kenyataan. Dan, itu memang pahit. Bapak tidak terpilih, Pak Jokowi yang menang.

Sejujurnya, saya takjub dengan bapak, seorang pensiunan jenderal yang dikelilingi – kalau tidak salah hitung – dua belas pemuda tegap dan tampan. Lalu, bapak dipercaya mengisi materi soal kedaulatan pangan, karena kapasitas bapak sebagai ketua Dewan Pembina HKTI versi itu – sebab ada dua versi tentang hal ini.

Bapak bicara bahwa beras, jagung, gandum harus ekspor. Batasi impor dan kalau perlu, hentikan! Karena yang menyaksikan acara tersebut rata-rata petani, tentu saja mereka bertepuk tangan. Ada harapan. Ada gairah. Ada semangat untuk mengembalikan kedaulatan pangan yang menurut bapak, tak berpihak pada rakyat. Memang sih, kalau untuk urusan kedaulatan pangan, saya ikut mengamini.

Baca juga: Orang Sering Keluhkan Bahan Pangan, Kini Saatnya Anak Petani Bicara

Selesai berbicara, kemudian bapak turun dari panggung, berjalan ke luar halaman dengan tetap dikelilingi oleh para pengawal. Tak lupa, bapak mengatupkan kedua tangan, ditempelkan ke dada, membungkukkan badan sembari berucap, “Terima kasih.” Sebuah kata yang membekas dan membuat sebagian orang yang menyaksikan terhenyak, karena sepertinya itu ungkapan yang tulus. Dan, mungkin berharap bapak adalah selayaknya presiden.

Tapi itu harapan dahulu. Sekarang, tunggu dulu.

Pada Pilpres 2019, bapak kembali tidak terpilih. Pak Jokowi lagi yang menang, sesuai hasil rekapitulasi penghitungan suara oleh KPU. Tentu saja ini lebih menyakitkan. Kalah dengan orang yang sama, dimana persentase suara bapak lebih rendah dibandingkan Pilpres 2014.

Dan, seperti sebelumnya, bapak merasa yakin bahwa sebenarnya yang menang adalah bapak. Klaim tersebut berasal dari bapak sendiri dan tim, yang menyatakan kemenangan dengan perolehan suara 62%. Angka yang begitu jauh dari kenyataan saat ini.

Barangkali, bapak memang perlu mengumumkan hal tersebut agar para pendukung tidak kecewa. Mungkin juga dari hati nurani bapak yang tak mau bikin sakit hati para pendukung untuk kedua kalinya.

Lalu, narasi yang dibuat oleh tim dan pendukung bapak adalah tuduhan kecurangan pemilu yang terstruktur, sistematis, dan masif. Tak bisa dibiarkan! Rakyat harus turun lapangan! Kawal terus hingga 22 Mei.

Baca juga: Apa yang Penting dan Dipertaruhkan dalam Pemilu 2019?

Dan, benar saja, para pendukung bapak berunjuk rasa di Bawaslu. Memenuhi jalanan dari MH Thamrin hingga Pasar Tanah Abang. Dengan dalih bahwa negara harus menjamin kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat, maka mereka berhak melakukan hal tersebut.

Baiklah, kalaupun alasan tersebut menjadi pembenaran untuk turun ke jalan, ya nggak apa-apa. Memang, UUD 1945 sudah mengaturnya. Tapi, masalahnya, pendapat dengan bentuk dan cara apa? Bom molotov? Waduh.

Kalau itu benar – karena beberapa media massa melaporkan adanya bom molotov pada malam itu – wah, itu sih kebablasan. Sampaikanlah dengan cara yang elegan. Mau contoh?

Bapak tahu Aksi Kamisan, kan? Sebuah aksi yang sudah ratusan kali dilakukan untuk membongkar kasus pelanggaran HAM, salah satunya penembakan mahasiswa tahun 1998.

Mereka itu berdiri di Istana. Menggunakan setelan berwarna hitam dan membawa payung hitam sebagai simbol dukacita. Itu aksi yang memang tak mengganggu siapa pun karena tidak menghalau jalan dan merusak fasilitas umum.

Itulah pengejawantahan dari kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat. Yah, walaupun aksi tersebut belum menemukan titik terang hingga saat ini. Meski demikian, saya percaya kekuatan lain akan selalu hadir untuk membantu mereka.

Baca juga: Nasionalisme yang Bukan Kaleng-kaleng

Namun, cara tersebut sepertinya tidak relevan bagi pendukung bapak. Mereka menginginkan lebih dari itu. Tak hanya unjuk rasa secara lisan, tapi unjuk rasa dengan gesekan. Entah siapa yang memulai, akhirnya meledak lah – yang seharusnya aksi damai.

Mungkin bapak tinggal menunggu momentum. Rakyat marah, kemudian menolak hasil pilpres, maka pelampiasannya adalah mengepung gedung KPU dan Bawaslu. Kalau sudah begitu, mungkin harapannya adalah kekosongan kekuasaan. Dan itu, pemilu ulang. Apakah itu yang diinginkan oleh bapak dan para pendukung?

Saya cuma mau kasih tahu. Mungkin bapak lupa. Atau, pendukung bapak yang lupa. Atau, kita yang mulai melupakan. Tanggal 22 Mei 2019 kebetulan bertepatan dengan 17 Ramadan. Salah satu malam yang magis selama bulan Ramadan, selain Lailatul Qadar.

17 Ramadan mengingatkan kita, terutama umat muslim, bahwa tanggal tersebut merupakan turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril di Gua Hira. Perintahnya sederhana, namun bermakna di kehidupan dunia. Baca. Salah satu kegiatan yang agaknya mulai dilupakan bahkan (mungkin) disingkirkan oleh kita, masyarakat Indonesia.

Sepengetahuan saya, malam itu kita berkumpul untuk melantunkan pujian kepada Nabi. Karena kebanyakan pendukung bapak adalah muslim, pasti tahu malam tersebut. Atau, jangan-jangan mau melewatkannya demi urusan hasil pilpres? Semoga tidak.

Semula, saya berharap tidak ada aksi besar-besaran pada 22 Mei. Tapi, sepertinya harapan itu sia-sia. Komando telah diletupkan. Tagar di media sosial sudah dicuitkan. Genderang pun ditabuh. Dan, itu telah terjadi sejak malam.

Artikel populer: Kebiasaan Pemain Playstation dalam Kubu Prabowo-Sandi

Sebelumnya, beberapa negara – termasuk AS – sudah menerapkan travel warning agar warganya tidak mengunjungi Indonesia, khususnya Jakarta, pada tanggal itu. Dan, seingat saya, AS pernah mengeluarkan hal serupa sebelum kejadian Bom Marriot dan Bom Sarinah beberapa waktu silam. Lantas, apakah Jakarta akan sedemikian rupa? Sungguh mengerikan. Tak sanggup membayangkannya.

Kalau memang pendukung bapak bilang ini demi NKRI, demi umat Islam, oh tunggu dulu… Suka atau tidak, mohon maaf, kenyataan Pak Jokowi yang ditetapkan sebagai pemenang oleh KPU adalah sesuatu yang sulit dibantah.

Kalaupun pendukung bapak masih ngeyel, bagaimana dengan penghitungan ulang – seperti ide Cak Nun. Kan punya data kemenangan 62%. Atau jangan-jangan, kalian tidak menginginkan hal itu. Yang penting bapak bisa menang. Titik! Apa iya begitu?

Saya masih berharap, entah bagaimana caranya, bapak hadir di tengah kerumunan massa. Tentu saja, kehadiran bapak lebih dibutuhkan daripada petugas KPU atau petugas kebersihan yang senantiasa mendampingi pendukung bapak kala tak membuang sampah pada tempatnya.

Kalaupun pada akhirnya tidak hadir, saya masih berpikir positif. Bapak dengan rombongan pergi ke Brunei untuk mendoakan dari sana. Dan, mungkin sekaligus menghadiri Nuzulul Quran. Semoga saja.

Sebagai penutup, buktikan bahwa bapak adalah negarawan. Bukan sebagai gegarawan alias orang yang suka mencari gara-gara.

4 COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.