Nasionalisme yang Bukan Kaleng-kaleng

Nasionalisme yang Bukan Kaleng-kaleng

Ilustrasi (Photo by slon_dot_pics from Pexels)

Saya mengambil kelas Ilmu Politik pertama saya di Amerika Serikat pada 2016, tepat pada waktunya untuk pemilihan presiden di Negeri Paman Sam tersebut. Suatu hari, muncul pertanyaan dari dosen:

“What threatens democracy?”

Hening. Tiba-tiba, terdengar cuitan teman dari belakang, “Nationalism.”

Nasionalisme? Nggak salah? Apa saya salah dengar? Bukankah nasionalisme itu baik? Bagaimana nasionalisme yang notabene alat pemersatu bangsa bisa membahayakan atau bahkan merusak demokrasi? Bukankah malah sebaliknya? Berjuta pertanyaan langsung muncul begitu saja.

Setahu saya, kata nasionalis atau nasionalisme sendiri tidak mempunyai setitik pun konotasi negatif. Di Indonesia, siapapun bisa dan berhak bangga mengaku sebagai warga negara yang nasionalis. Dari bintang sinetron sampai ibu rumah tangga, dari ulama konservatif sampai pemusik hipster yang paling progresif sekalipun. Malah, dari SD kita sudah dilatih untuk cinta Tanah Air. Belum lagi pelajaran PPKN yang dua kali seminggu mengingatkan kita tentang bela negara.

Jadi, waktu diberitahu bahwa kata ‘nasionalisme’ ternyata mengandung maksud-maksud terselubung, berkonotasi pada gerakan ‘ultra kanan’ dan supremasi kulit putih, tentu saya kaget bukan kepalang. Apa iya, bocah SD berseragam merah putih disandingkan dengan demonstran Neo-Nazi di Amerika Serikat?

Baca juga: Nasionalisme dalam Seporsi Makanan

Zaman sekolah dulu, pesan-pesan nasionalis tidak pernah absen dari upacara bendera di Hari Kemerdekaan dan Hari Sumpah Pemuda. Setiap tahun, sang pembina upacara membungkus amanatnya yang kira-kira seperti ini:

“Anak-anak, di tahun 1945, para pahlawan memperjuangkan kemerdekaan dengan mengangkat senjata. Sekarang, waktunya kalian sebagai pemuda yang melanjutkan perjuangan mereka. Bukan untuk berperang melawan penjajah, melainkan berperang melawan kemalasan! Kalian bertanggung jawab mempertahankan kemerdekaan dengan mengharumkan nama bangsa melalui prestasi!”

Pesan yang sama diulangi sampai dua-tiga kali dalam setahun, selama dua belas tahun. Namun, setelah sekian lama di luar negeri, saya mulai menyadari uniknya kebiasaan ini. Kenapa bapak ibu guru dulu gencar sekali menyuruh kami tetap ‘berperang’, meskipun sudah merdeka sejak 1945?

‘Mengharumkan nama bangsa’ telah menjadi mantra sakti yang kerap dijadikan pelecut rakyat – terutama anak muda – untuk berkarya. Ikut olimpiade matematika untuk ‘mengharumkan nama bangsa’. Jadi artis mancanegara bisa ‘mengharumkan nama bangsa’. Bangun start up digital, kalau berhasil nanti akan ‘mengharumkan nama bangsa’.

Lihat saja rapper Rich Brian yang ketenarannya dikaitkan dengan, lagi-lagi, mengharumkan nama Indonesia. Padahal, lagu-lagunya tidak ada yang menyebut Indonesia, apalagi mengandung nilai-nilai lokal. Rumah produksinya pun berbasis di California.

Baca juga: Berbeda-beda Kelas Sosial, tapi Tetap Satu Derita

Saya sempat berpikir, aneh sekali obsesi negara kita terhadap nasionalisme. Lama-lama, anak bangsa seperti dijadikan sapi perah untuk prestasi negara. Padahal, bukankah kesuksesan pribadi berasal dari usaha sendiri?

Sampai pada suatu hari, saya iseng ikut kuliah terbuka mengenai dunia persinetronan di Vietnam. Seorang dosen bercerita mengenai kondisi ekonomi Vietnam yang sekarang sudah cukup liberal. Sektor kewirausahaan di sana berkembang pesat sejak tahun 90-an.

Lalu, dia bilang, “Opera-opera sabun Vietnam berpusat pada kisah-kisah dimana sang protagonis biasanya adalah petani yang berubah profesi menjadi wirausahawan, menguraikan gagasan kisah sukses yang benar-benar ‘Viet’ – dimana kesuksesan pribadi Anda juga kesuksesan negara Anda.”

Ternyata bukan hanya Indonesia yang menggabungkan konsep kesuksesan pribadi dengan nasionalisme. Mungkin, Vietnam memiliki budaya yang serupa, karena sama-sama merupakan negara Asia Tenggara yang pernah mengalami pahitnya masa penjajahan maupun pergumulan dalam membangkitkan ekonomi negara. Memang sejarah ideologi kedua negara jauh berbeda, tapi kemiripan budaya Timur dan pengalaman sebagai negara berkembang tak bisa dipungkiri.

Baca juga: Anak Muda Amerika Menolak Kapitalisme, tapi Tak Yakin dengan Sosialisme, lalu Apa Penggantinya?

Rasa cinta tanah air dan bela negara yang ditanamkan dalam diri kita sejak kecil bukan suatu hal yang aneh, apalagi salah. Pembauran konsep kesuksesan pribadi dengan nasionalisme di Indonesia dan Vietnam adalah cara negara mengartikan ideologi kapitalisme yang masuk ke Asia Tenggara pada tahun 80-an. Bisa dibayangkan bahwa kapitalisme pasti terasa asing dan kebarat-baratan saat itu, tidak dapat dicerna dan dimengerti rakyat Indonesia yang sangat komunal.

Ketika McDonald’s baru sampai ke Indonesia, mereka menyesuaikan citarasa dengan lidah lokal, mulai dari menyediakan saus sambal hingga menu ayam goreng. Ketika kapitalisme diperkenalkan kepada orang Indonesia, diperlukan faktor yang dapat menjembatani kedua pihak supaya terjadi asimilasi budaya. Di sinilah, peran nasionalisme sebagai penggerak karya dan kreativitas bangsa.

Asimilasi seperti ini juga bukan hal baru. Lihat saja mitos Lutung Kasarung yang pada dasarnya hanyalah sebuah versi lokal dari kisah Jerman Beauty and the Beast. Lalu, dongeng Bawang Merah dan Bawang Putih yang sebetulnya adalah kisah Cinderella ala Indonesia.

Ternyata, saya salah. Bibit-bibit nasionalisme yang ditanam di dalam diri bukanlah sekadar berkoar-koar atau propaganda, melainkan sebuah motor budaya yang mendorong anak bangsa untuk berekonomi. Sikap ini justru terbukti telah membuahkan banyak hasil, terlebih di era digital.

Artikel populer: Maudy Ayunda Galau soal Harvard-Stanford, Kita Galau soal Apa?

Salah satu pendiri Bukalapak, Fajrin Rasyid, pernah berkata, “Menurut saya yang namanya decacorn unicorn itu bukan sesuatu yang kita cari sebagai tujuan utama. Tujuan utama terdekat adalah bagaimana kami bisa terus berkembang dan bisa memajukan UKM di Indonesia.”

Pendiri Go-Jek, Nadiem Makarim juga pernah mengatakan bahwa tujuan utama Go-Jek adalah memajukan Indonesia lewat teknologi. Bahkan, beberapa start up digital, seperti Bizzy Indonesia dan Modalku, didirikan dengan misi untuk mendukung ekonomi bersih dan memajukan ekonomi Indonesia.

Tidak ada yang aneh atau salah dengan menjadi warga negara yang cinta Tanah Air. Tiga tahun sekolah di Amerika Serikat akhirnya gagal menghapus dua belas tahun amanat pembina upacara. Toh, saya akan langsung pulang ke Indonesia setelah lulus kuliah. Ketika orang tanya “Kenapa langsung pulang?” Saya dengan bangga akan menjawab, “Saya mau membangun Indonesia.”

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.