Ilustrasi Sepeda (Photo by Sapir Giladi goveri on Unsplash)

Sendi sehat semangat gowes ya…

AAMIIN!

Begitu kata iklan obat sendi di televisi. Saat bintang iklannya menggenjot sepeda sambil cengar-cengir.

Bersepeda memang menyehatkan dan banyak manfaat lainnya. Namun, belakangan aktivitas menggowes di jalan mulai tidak aman. Beberapa kali terjadi kasus begal sepeda. Aparat keamanan harus kerja lebih keras agar korban dari pehobi gowes ini tidak bertambah banyak.

Terlebih, sepeda kini terkesan sebagai barang mewah. Seolah-olah menjadi penanda kelas sosial tertentu. Alhasil, perbedaan kelas pun menjadi semakin terlihat jelas. Yang secara finansial tak terlalu terdampak pandemi, masih bisa hidup nyaman. Namun, jangan lupa, banyak orang yang semakin terhimpit secara ekonomi.

Kita diminta untuk menahan diri di media sosial, dengan tidak memamerkan simbol-simbol kemapanan, termasuk sepeda mahal. Agar kecemburuan sosial tidak semakin meruncing.

Baca juga: Pada Dasarnya, Umat Beragama Itu Sama Saja, yang Beda Hanya Kelas Sosialnya

Sepeda seakan menjadi kendaraan eksklusif, hobinya kaum eksekutif. Di jalan raya saja, sepeda punya jalur sendiri. Jalanan Ibu Kota terbelah menjadi beberapa jalur, yakni jalur sepeda, sepeda motor, mobil, dan busway. Sepeda ambil jalur kendaraan jenis lain juga bukan hal baru.

Sebelumnya, tak jarang, kita melihat motor dan mobil menyerobot masuk jalur bus Transjakarta supaya terhindar dari macet. Bahkan, saking banyaknya orang yang takut kena macet, justru bergerombol di jalur busway dan akhirnya macet-macet juga. Sementara, jalan biasa malah lengang.

Pesepeda kawakan mungkin sudah tahu jalur sepeda di jalan raya. Namun, pesepeda yang ikut-ikutan tren, sering kali belum tahu etika bersepeda di jalan raya. Bahkan, di antara mereka bersepeda dengan berjejer memenuhi jalan, sembari mengobrol santai seolah hanya mereka yang bayar pajak. Akibatnya, pengendara di belakang merasa haknya diblok.

Baca juga: Tipe Postingan Netizen yang Lagi Hype di Masa New Normal

Kejadian-kejadian tak mengenakkan itulah yang menimbulkan sentimen negatif kepada para pesepeda. Sebab, tak sedikit pesepeda yang bersikap arogan di jalan, tidak mau minggir dan menepi. Ada yang salah dengan fenomena persepedaan duniawi ini.

Dulu, sepeda adalah alat transportasi bagi mereka yang belum mampu beli kendaraan bermotor. Di lagu Iwan Fals, guru Oemar Bakri digambarkan sebagai pegawai negeri bergaji kecil. Sosoknya berangkat ke sekolah menunggang sepeda kumbang tiap pagi. Kalau gajinya besar, mungkin beliau naik Brompton.

Cerita-cerita tentang orang yang naik sepeda selalu terasa memprihatinkan. Contohnya, anak SD yang tinggal di pelosok negeri. Dia harus menempuh perjalanan menuju ke sekolah pulang-pergi sejauh 80 kilometer dengan sepeda. Di jalan, dia melewati genangan air, ban bocor, cuaca ekstrem, bahkan dihalang-halangi oleh buaya iseng.

Baca juga: Heran, Kenapa Orang Malah Bersepeda di Tengah Wabah?

Pesepeda yang dimaksud adalah Lintang di novel Laskar Pelangi. Lintang menjadikan sepeda sebagai alat transportasi untuk menempuh pendidikan. Peran sepeda di sini sebagai jembatan ilmu pengetahuan.

Bersepeda identik dengan hidup bersahaja. Namun, kini bersepeda menjadi gaya hidup bergengsi. Harga sepeda lipat bisa berlipat-lipat UMP DKI Jakarta. Yang semula alat transportasi rakyat jelata, menjadi sarana rekreasi kaum berada.

Bersepeda pada akhir pekan, menghirup udara pagi yang segar sekaligus menikmati pemandangan sepanjang jalan, menjadi hiburan bagi mereka yang sudah penat dengan pekerjaan sehari-hari. Namun, bagi mereka yang masih berjuang menyambung hidup tak kenal hari, sepeda digunakan untuk berjualan kopi.

Untuk menghindari paparan virus dan radikal bebas, aktivitas gowes bisa dilakukan di dalam rumah. Namun, sepeda yang dipakai adalah sepeda statis yang sering dijumpai di tempat gym atau di sel mewah napi tipikor. Dengan sepeda statis pun, kita tetap bisa sehat dan semangat gowes.

Artikel populer: Kisi-kisi Menghadapi Resesi Akibat Pandemi

Kekurangannya, pemandangan yang monoton selama gowes. Mengayuh sepeda statis terasa membosankan. Namun, masalah pemandangan ini masih bisa diakali dengan monitor yang dipasang di depan mata, lalu disambungkan ke video-video Youtube bertema alam. Yah, siapa tahu kalau dipraktikkan, rasanya seperti menjadi Iron Man.

Pandemi ini memang menjungkirbalikkan kelaziman. Berolahraga bersama rekan sejawat di luar rumah yang semula dianjurkan demi kesehatan, justru kini tidak dianjurkan karena rentan tertular virus. Padahal, berolahraga beramai-ramai itu terasa 27 derajat lebih menyehatkan daripada berolahraga sendiri di rumah.

Semula sepeda adalah kendaraan yang membumi, kini jadi bahan untuk pamer di instastory. Namun, sepeda tidak salah. Sepeda tetaplah alat transportasi yang menyehatkan, ramah lingkungan, dan ramah di kantong. Selama CFD saja pesepeda bisa menghemat BBM, eh tapi boros di jajan.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini