Ilustrasi (Image by Free-Photos from Pixabay)

Dalam memoarnya yang lekas kesohor, A Moveable Feast, sepintas lalu Ernest Hemingway menggugat label ‘generation perdue‘ yang dilekatkan oleh Gertrude Stein kepadanya dan seluruh penulis ekspatriat Amerika yang menetap di Paris. “Lagi pula aku berpikir bahwa seluruh generasi itu pasti dihilangkan oleh sesuatu, dan pasti akan selalu hilang,” pungkas Hemingway, berusaha menolak.

Memang pada mulanya istilah itu bukan saja merujuk pada generasi pasca perang dunia pertama, tetapi juga kerap dijadikan penghakiman terhadap individu yang limbung dan kebingungan di pojok gemerlap kota Paris, yang menghabiskan malam dengan botol-botol alkohol dan kian menjauh dari moralitas tertentu.

Singkatnya mereka yang frustrasi, yang mengembara tiada henti, yang tiap menjelang pagi sering ngetwit #overthinking. Kita banget, yha.

Itulah yang membikin Hemingway terlihat gusar pada Nyonya Stein. Dia – sebagaimana Generasi Z yang bosan diceramahi oleh angkatan lawas sebagai bocah ‘lembek’ – jelas ogah diberi cap sembarangan. Klasifikasi terhadap kelompok yang hidup dan tumbuh pada masa tertentu, berguna sebagai acuan untuk menyasar kecenderungan dan karakter mereka. Bukan justru dijadikan dasar memberi cemooh, apalagi merasa lebih superior. KZL!

Baca juga: Daripada Meladeni Arogansi Anak 90-an, Ini yang Bisa Dilakukan Anak 2000-an

Belakangan, pejabat negeri ini juga sedang mengeluh saat dihadapkan dengan ancaman generasi yang hilang (lost generation). Penyebabnya apalagi kalau bukan Covid-19 sialan, pendulum yang menghantam dan merusak keberlangsungan hidup lintas sektor. Dari ekonomi, pendidikan, hingga yang-yangan.

Yang paling pusing tentu Pak Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Karena memang dia adalah salah satu ‘bidan’ yang menangani lahirnya satu generasi. Akan seperti apa kelak anak-anak kita, ditentukan oleh kebijakan beliau di sektor pendidikan saat ini.

“Kita berisiko mempunyai lost generation. Akan ada dampak permanen terhadap generasi kita, terutama bagi yang lebih muda jenjangnya,” kata Nadiem, memberi penjelasan. Ia sedang membincangkan satu isu yang serius, bukan kaleng-kaleng. Coba deh kita fokus dulu.

Tantangan terbesar Nadiem terkait pembelajaran di masa pandemi yang paling signifikan, ya ketimpangan akses. Tak sedikit anak di pelosok yang harus bertaruh nyawa demi kelancaran koneksi, apalagi harga gadget sekaligus paket data dengan kualitas prima yang bisa bikin kantong jebol, juga guru-guru yang belum terlatih atau belum dilatih untuk terjun di platform digital. Intinya, keseluruhan sistem kita belum optimal untuk urusan itu.

Baca juga: “Generasi Sandwich Baru” kala Pandemi dan Strateginya Agar Tak Jatuh Miskin

Alih-alih membereskan hal-hal prinsipil di atas, Nadiem malah merevisi SKB 4 Menteri terkait panduan pembelajaran di masa pandemi, yang salah satunya memberi izin untuk wilayah di zona hijau dan kuning melakukan pembelajaran tatap muka. Padahal, kata Joker, bisa jadi zona kuning adalah zona merah yang sedang OTW.

Menurut daftar yang banyak tersebar di media, ada sekitar 276 kabupaten/kota yang masuk dalam wilayah zona hijau dan kuning. Kalau mau diperas lagi; 88% wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar) masuk dalam daftar tersebut. Ini seolah menjadi pembenaran soal ketimpangan akses, tetapi sangat problematis.

Pemberian izin berdasarkan warna zona sebenarnya punya risiko yang jauh lebih besar. Ia bisa memicu hadirnya lost generation, secara harfiah malahan. Meletus zona hijau, dorrr! Akhirnya dapat memunculkan klaster baru Covid-19; klaster anak sekolah. Tidak seperti klaster anak hype yang nongkrong-nongkrong, klaster ini bisa muncul karena izin dari negara.

Baca juga: Sebab Guyonan Seksis Pejabat adalah Pandemik

Belum lama ini, beredar utas yang dibuat oleh akun @laporcovid tentang klaster-klaster baru Covid-19 dari sekolah. Namun, Kepala Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat Kemendikbud Evy Mulyani mengklarifikasi kabar tersebut. Para siswa dan guru terinfeksi jauh sebelum pelaksanaan revisi SKB 4 Menteri, kata Evy.

Meski demikian, berbagai pihak dan pegiat pendidikan tetap menolak keputusan Mendikbud yang memperbolehkan pembukaan kembali kegiatan belajar mengajar di sekolah saat pandemi.

Kekhawatiran itu sangat beralasan. Kita bisa kehilangan satu generasi yang potensial hanya karena kebijakan ‘ajaib’ dari para petinggi negeri. Dan, betul kata Hemingway, sejatinya setiap generasi akan dihilangkan oleh sesuatu. Sesuatu itu bisa berarti apa saja, tentunya. Bisa oleh tangan gaib, jin, atau oleh kacang mete sekalipun. Tetapi yang paling memungkinkan adalah kekuatan politik.

Perang dunia pertama adalah percikan politik. Dan, orang-orang yang lahir pada kurun waktu 1888-1900 harus menanggung akibat fatal. Seperti Hemingway dan para ekspatriat yang hijrah ke Prancis.

Artikel populer: Cerita Orangtua, Guru, dan Anak selama Belajar dari Rumah

Bagaimana di Indonesia?

Lho, ya sudah menjadi rahasia umum bahwa jauh sebelum Covid-19, kita sudah punya lost generation. Mereka yang oleh kekuatan politik Orde Baru dilumpuhkan. Ada ratusan ribu – jumlahnya masih bisa diperdebatkan – partisan partai terlarang yang dibabat habis. Di antara mereka, bisa jadi, akan tumbuh sebagai orang-orang hebat. Jadi menteri, profesor, atau Power Rangers. Tetapi mereka hanya dikenang sebagai catatan merah, yang untuk membaca dan menelaahnya harus diam-diam di kolong bangku.

Orang yang masih hidup harus lari tunggang langgang ke negeri orang, yang tinggal di negeri sendiri merasa dikucilkan. Hak-hak mereka dicabut dan negara tidak pernah sudi bahkan untuk sekadar basa-basi meminta maaf. Saya curiga, deh, kayaknya para petinggi negeri ini didominasi oleh Gemini, kok ya gengsi amat merasa bersalah?

Btw, kok sampai jauh-jauh bahas Orba? Oh, itu lho mamang bakso dari tadi muter-muter kosan mulu. Jangan-jangan bawa walkie talkie, hihihi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini