Ilustrasi perempuan. (Image by StockSnap from Pixabay)

Sadar nggak sih kalau Indonesia adalah satu dari 10 negara dengan jumlah pengantin usia anak terbanyak di dunia? Membayangkan bagaimana mereka yang belum matang secara fisik maupun psikis harus menjalani kehidupan rumah tangga. Sementara, teman-temannya masih asyik bermain dan belajar, berusaha meraih cita-cita dan harapan.

Menurut data Badan Peradilan Agama, terdapat 23.700 permohonan dispensasi menikah yang diajukan ke Pengadilan Agama sepanjang tahun 2019. Alasan permohonan dispensasi ini nggak jauh-jauh dari UU No 16 Tahun 2019 yang mengatur tentang batas minimal usia menikah bagi perempuan, yaitu 19 tahun. Ini bisa menjadi gambaran bahwa pernikahan dini di negeri ini masih marak.

Bagaimana dengan tahun 2020?

Jumlah permohonan dispensasi menikah yang tercatat di Badan Peradilan Agama justru jauh lebih tinggi hingga mencapai 34.000 permohonan. Itu pun terhitung sejak Januari hingga Juni. Bayangkan, dalam tempo 6 bulan saja, sudah ada 34.000 permohonan menikah di bawah umur. Alamak!

Berapa banyak anak perempuan yang harus mengubur mimpi-mimpinya? Tak lagi mendapatkan edukasi yang layak dan harus menghadapi ancaman kematian ibu muda saat melahirkan, serta risiko stunting pada anak.

Baca juga: Cara Mencegah Perkawinan Anak, sebab Menaikkan Batas Minimum Usia Menikah Tidak Cukup

Mereka yang menikah sangat muda ini kan rata-rata di bawah umur, dimana alat reproduksinya belum berkembang secara sempurna, apalagi kalau ngomongin kondisi psikis. Belum lagi, pasangannya pun rata-rata anak seusia mereka, apa iya sudah punya kesiapan mental dan ekonomi untuk menghidupi keluarga barunya? Realistis saja.

Seperti cerita Mona, seorang remaja usia 14 tahun dari NTB yang menikah dengan teman laki-lakinya yang berusia 4 tahun lebih tua darinya. Seperti dilaporkan BBC Indonesia, Eni – ibunya Mona – merasa menyesal telah menikahkan anaknya yang masih usia anak tersebut. Apalagi, dalam pernikahan yang masih tergolong baru ini, Mona kerap mendapat perlakuan kasar dari suaminya. Si suami suka memukul dan mencakar Mona. Duh…

Perlu kita ketahui, kasus pernikahan usia anak ini meningkat selama pandemi. Hari gini masih banyak orangtua yang nekat menikahkan anaknya pada usia dini. Sementara, dunia justru bergerak ke arah sebaliknya. Salah satunya berjuang mencegah pernikahan usia anak.

Sebagaimana “My voice, our equal future” dalam peringatan Hari Anak Perempuan Internasional pada 11 Oktober 2020, anak perempuan memiliki hak untuk hidup aman, memperoleh pendidikan, dan hidup sehat.

Baca juga: Suka Sama Suka, Apa Iya Bisa Ngeseks Semaunya?

Namun, di Indonesia, kondisinya berlawanan. Masih banyak orangtua yang berpikir bahwa menikahkan anak bisa menyelesaikan masalah. Masalah yang dimaksud adalah kekhawatiran orangtua kalau-kalau anaknya berzina dan hamil sebelum menikah. Alih-alih memberikan pendidikan seks, banyak orangtua yang malah buru-buru menikahkan anaknya pada usia dini.

Di sisi lain, masih banyak juga orangtua yang menganggap bahwa menikahkan anak bisa mengangkat satu beban orangtua. Beban yang dimaksud adalah membesarkan dan membiayai anak. Melalui pernikahan, tugas orangtua membesarkan anak dianggap selesai, karena si anak sudah punya rumah tangga sendiri. Sudah ada yang mengurus dan menafkahi, begitu katanya.

Duh Pak, Bu, kalau anak dianggap sebagai beban, kenapa juga pada seneng banget punya anak? Anak-anak nggak pernah minta dilahirkan ke dunia, kok.

Minimalis banget ya pemikiran sebagian masyarakat kita, terlebih saat pandemi. Sekolah nggak buka, jadi mending menikah saja. Wadidaw! Persis pemikiran orangtua kolot minus edukasi yang selalu menganggap anak perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, karena toh pekerjaannya nanti hanya seputar dapur, sumur, dan kasur.

Baca juga: Kucing Aja Kawin Pakai ‘Consent’, Nah kalau Manusia?

Susah banget sih jadi perempuan di negeri ini, kayak nggak punya hak atas dirinya sendiri. Lepas dari pelukan orangtua, jatuh ke dalam kekuasaan suami. Seolah-olah perempuan tak bisa bertanggung jawab terhadap hidupnya sama sekali.

Alasan lain mengapa banyak orangtua enteng saja menikahkan anaknya adalah klaim bahwa si anak tidak keberatan dan dibolehkan secara adat maupun agama. Sebab menikah adalah ibadah yang bisa menghindari perbuatan dosa. Iya, iya, kalau pernikahan pada usia yang belum matang itu tidak ada masalah sama sekali. Bagaimana kalau kayak cerita Mona tadi, pada awal pernikahan saja sudah ada cerita KDRT? Malah jadi dosa.

Sebalnya kalau ngomong begini selalu ada orangtua yang denial. Mereka bilang, “Jangan ngomong begitu, pamali. Rezeki itu bisa dicari, kalau sudah menikah pasti ada jalannya.” Yaelah Pak, Bu, banyak anak terampas haknya untuk mendapatkan pendidikan yang layak gara-gara menikah dini. Yang sarjana saja banyak yang nganggur. Mau usaha sendiri belum tentu punya modal dan bisa langsung sukses, kan?

Kalau sudah begini, apalagi punya bayi segala, siapa sih yang bakal dimintain tolong kalau bukan orangtua? Jadi, anggapan bahwa menikahkan anak pada usia dini bisa mengangkat beban ekonomi orangtua itu ngawurrr…

Artikel populer: Tidak Menikah Itu Normal, Sebagaimana Mereka yang Menikah

Miris, memang. Saat dunia menyerukan kesetaraan gender, para orangtua dalam masyarakat kita justru bergerak sebaliknya. Semakin konservatif dan fundamentalis. Menganggap anak-anak perempuan mereka sebagai sumber fitnah.

Coba kita lihat, bagaimana sebaran kasus perempuan yang menikah pada usia anak ini cukup merata: Sumatera 8,3%, Jawa 11,2%, Kalimantan 16,3%, Bali dan Nusa Tenggara 11,1%, Sulawesi 15,6%, dan Papua 11,1%.

Saya jadi berpikir, apakah pernikahan usia anak ini bisa dianggap sebagai statutory rape atau perkosaan statuta? Sebab, jika dilihat dari segi umur, meski ada consent serta pengakuan secara agama dan adat, para anak perempuan ini jelas masih di bawah umur. Tidak bisa digolongkan sebagai perempuan dewasa secara fisik maupun psikis.

Tak heran, menjadi perempuan di negeri ini, bisa mengalami kematian dua kali. Pertama, kematian secara psikis, dimana jiwa, pikiran, kebebasan, dan kemandiriannya dibunuh oleh doktrin patriarki yang terus dilestarikan oleh para orangtua konservatif nan fundamentalis. Kedua, saat raga tak lagi bernapas karena sudah tak sanggup menanggung derita…

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini