Ilustrasi musisi (Image by StockSnap from Pixabay)

Giring Ganesha yang terkenal sebagai vokalis band Nidji, digiring untuk menjadi calon presiden 2024 oleh PSI. Apakah ini semakin membuktikan bahwa panggung politik lebih menjanjikan daripada panggung musik? Daripada repot-repot berkreasi di dapur rekaman, lebih baik berjibaku di dapur pemerintahan?

Sebelumnya, penyanyi – umumnya penyanyi dangdut – diundang politisi untuk memeriahkan kampanye menjelang pemilihan. Kini, musisi itu sendiri yang menjadi politisi. Jadi, kalau kampanye, bisa menghemat biaya hiburan karena job nyanyi diisi sendiri.

Sigit Purnomo Said alias Pasha Ungu adalah salah satu contoh musikus yang sukses sebagai politikus. Dia kini menjabat sebagai Wakil Wali Kota Palu. Sementara, contoh yang masih berjuang menjadi politikus adalah Andre Taulany yang sempat gagal di pilkada. Namun, kegagalannya itu justru jadi bahan lawakan ketika berpentas di panggung hiburan. Yah, itulah tidak ada ruginya mencoba. Tapi untuk rakyat kok coba-coba?

Tak bisa dimungkiri, untuk menarik hati rakyat sebagai pemilih dalam kontestasi politik, dibutuhkan popularitas. Penyanyi tentu memiliki popularitas tersebut, tetapi bagaimana dengan kompetensi dan pengalaman memimpin yang juga jadi faktor penting?

Baca juga: Merasa Berdosa karena Berlagak Indie

Memimpin band tentu tidak sama dengan memimpin negara. Itulah sebabnya Ahmad Dhani yang notabene adalah presiden di Republik Cinta Management tidak bisa langsung jadi presiden di Republik Indonesia tercinta.

Pengalaman seorang vokalis yang memimpin gitaris, basis, drummer, dan pianis, tentu juga tak bisa disamakan dengan presiden yang membawahi jajaran menteri dan berkoordinasi dengan kepala daerah di seluruh negeri. Kalau vokalis suaranya fals, yang nggak enak didengar cuma lagunya. Tapi kalau presiden suaranya ‘sumbang’, satu negara dipertaruhkan.

Dulu, Iwan Fals menjadi keren karena bernyanyi untuk menyentil politisi yang kelakuannya absurd. Namun, musisi indie terkini seperti Ardhito Pramono justru sempat terjun ke ‘ranah politik’ di sela aktivitas bernyanyi. Bersama artis dan penyanyi lainnya, sang bintang film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI) itu pernah mendukung RUU Omnibus Law Cipta Kerja dalam sebuah promo ‘berbau politik’ dengan tajuk “Indonesia Butuh Kerja”.

Baca juga: Influencer Tiba-tiba Bicara RUU Ciptaker, Rakyat Pekerja Bisa Apa?

Tapi ternyata, banyak netizen yang tidak lantas menjadi fanatik buta. Hanya karena idolanya sempat dukung RUU Ciptaker. Sebagian besar warganet menentang apa yang diserukan para idola. Imbasnya, beberapa influencer tersebut menghapus postingan mereka, lalu bikin klarifikasi.

Jika dulu Iwan Fals menciptakan lagu untuk mengkritik penguasa demi kepentingan rakyat, para influencer yang mengkampanyekan RUU bermasalah seolah menyanyikan lagu ciptaan penguasa untuk didengar oleh rakyat.

Ardhito sendiri mengaku tidak tahu bahwa apa yang dikampanyekannya adalah RUU yang dianggap bermasalah oleh pakar dan aktivis.

Ardhito pernah berperan sebagai tokoh Kale dalam film NKCTHI, sosok pria yang tidak mau bertanggung jawab terhadap perasaan Awan sang tokoh utama karena alergi komitmen. Kale menghindari relasi yang sehat dan normal karena preferensinya adalah hubungan atas dasar have fun. Dirinya tidak mau jadi tempat orang lain menggantungkan harapan dan kebahagiaan.

Baca juga: Deket Doang, Jadian Nggak: Menyoal “Kita Ini Apa?” di NKCTHI

Sikap lepas tangan tokoh Kale dalam film tersebut kadang juga dimiliki oleh pengusaha yang tidak berfokus pada kesejahteraan karyawan, seperti upah minimum yang layak, pengangkatan karyawan tetap, asuransi kesehatan dan kecelakaan kerja, dan hak cuti. Nah, RUU Ciptaker dikhawatirkan menjadi alat untuk memuluskan jalan pemodal meraih untung sebanyak-banyaknya, tetapi mengesampingkan hak-hak kelas pekerja.

Jadi ingat salah satu adegan di film NKCTHI, ketika Awan minta kejelasan status hubungan. Namun, dalam bayangan saya, seumpama Awan adalah karyawan kontrak yang minta kejelasan status kepada Kale yang jadi HRD Bacot, eh bosnya, dialognya jadi seperti ini.

Awan: “Sebenarnya status karyawan saya apa sih?”

Kale: “Emang kamu maunya apa?”

Awan: “Saya maunya jadi karyawan tetap, upah layak, dapat pesangon, hak cuti untuk haid dan melahirkan.”

Kale: “Kalau kamu maunya itu, bukan perusahaan ini yang kamu cari. Bikin perusahaan sendiri aja.”

Jika penguasa tidak membuat regulasi yang berpihak pada kesejahteraan rakyat dan lingkungan hidup, pengusaha jadi tidak punya kewajiban untuk berkomitmen mewujudkan cita-cita tersebut.

Artikel populer: Didi Kempot ‘Membangunkan’ Soekarno dari Kubur

Para seleb juga perlu berhati-hati melangkahkan kaki ke kancah politik dan birokrasi, termasuk Giring yang kadung viral di media sosial karena baliho Presiden 2024.

Sebenarnya manuver Giring dan musisi yang bermigrasi dari panggung musik ke panggung politik merupakan hal yang wajar. Sebab setiap warga negara berhak untuk dipilih dan memilih.

Namun, itu sekaligus menimbulkan tanda tanya besar. Apakah industri musik Tanah Air memang tidak semenjanjikan kancah politik? Apakah karena pembajakan masih marak, sementara literasi masyarakat tentang hak cipta tergolong rendah dan pemerintah kerap abai terhadap hal itu? Lalu, para seniman masuk ke dunia politik dan birokrasi untuk membenahinya?

Berpikir positif saja, mungkin para penyanyi ini ingin membalas apresiasi masyarakat yang dulu telah mendengar suara mereka saat masih bernyanyi. Kini, giliran mereka yang menjadi pemimpin dan wakil rakyat untuk gantian mendengar suara rakyat. Ya semoga saja.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini