Mulailah Berhenti Bilang “Tak Semua Lelaki”

Mulailah Berhenti Bilang “Tak Semua Lelaki”

Ilustrasi (Amy Velazquez via Unsplash)

Saya pernah menulis di Voxpop tentang lelaki aktivis progresif cabul. Judulnya “Jangan Langsung Terpesona dengan Laki-laki Aktivis, Ketahui juga Sisi Gelapnya”. Banyak tanggapan soal itu, sebagian bilang daripada nyalahin laki-laki terus, mending cari solusinya.

Argumen mereka berangkat dari konsep Not All Men atau Tak Semua Lelaki melakukan kekerasan seksual. Namun, sayangnya argumen itu cenderung digunakan untuk menghilangkan pengalaman perempuan. Dengan berargumen “Tak Semua Lelaki”, maka otomatis kita kembali menaruh fokus diskusi kepada lelaki, kemudian abai terhadap fakta di lapangan.

Inilah patriarki, karena masih menempatkan lelaki sebagai subjek. Maka, siapapun yang berupaya merebut narasi, mereka akan merasa terusik ‘kejantanannya’. Mereka akan menjadi defensif dengan terus membicarakan tentang dirinya.

Mereka pun tak segan menjadikan fokus diskusi kembali kepada mereka, dan menjadikan mereka contoh lelaki yang baik. Padahal, yang sedang dibahas adalah pengalaman kekerasan yang dialami perempuan.

Baca juga: Kau Terpelajar, Cobalah Pahami Bagaimana Jadi Penyintas Kekerasan Seksual

Sebagai dokter gigi, saya memang selalu diajarkan untuk menyembuhkan penyakit. Untuk menyembuhkan penyakit, harus tahu dulu apa penyebabnya. Setelah itu, beri perawatan sesuai kebutuhan pasien. Kemudian, kita bisa berupaya untuk menghilangkan penyebabnya, meringankan rasa sakit, dan menambahkan resep vitamin untuk menjaga daya tahan tubuh.

Sama seperti patriarki. Ketika perempuan berupaya menjelaskan tentang perilaku lelaki, itu bukan menyalahkan, melainkan mencari tahu penyebabnya.

Kalau artikel atau komentar yang menanggapi tulisan saya tadi cuma menuntut solusi, itu sama saja kasih obat untuk menghilangkan rasa sakit tapi penyebab rasa sakitnya tidak dihilangkan. Sedangkan vitamin layaknya kebijakan yang dibutuhkan untuk mempertahankan dan melindungi perempuan dari patriarki.

Ya tentu, tidak semua lelaki melakukan hal tersebut. Namun, semua perempuan pernah mengalami kekerasan apapun bentuknya, baik itu bersifat seksual maupun kebijakan yang diskriminatif.

Sebab itu, argumen #TakSemuaLelaki cenderung digunakan untuk kembali abai terhadap kekerasan yang terjadi pada perempuan. Kalau ingin melawan patriarki, ya harus mengangkat wacana perempuan, bukan malah membuatnya kembali soal lelaki.

Baca juga: Suka atau Tidak, Laki-laki Lebih Rapuh daripada Perempuan

Tentu lelaki bisa terkena dampak dari patriarki ini. Ada yang namanya toxic masculinity dan fragile masculinity. Kalau saya bilang itu namanya kejantanan cere kelas tengik. Namun, sayangnya yang paling terdampak dari kejantanan cere kelas tengik itu siapa? Ya perempuan!

Lelaki yang tidak dapat menunjukkan bahwa ia dapat memenuhi standar kejantanan tertentu cenderung melampiaskan rasa amarahnya kepada perempuan. Perempuan akan mendapatkan kekerasan di ranah pribadi, mulai dari kekerasan dalam pacaran hingga kekerasan dalam rumah tangga. Padahal, selama ini lelaki dididik untuk melindungi perempuan, tapi nyatanya mereka lah yang menyebabkan perempuan tidak aman di rumah.

Argumen #TakSemuaLelaki berjalan seiring penolakan terhadap #MeToo. Sementara, dalam menanggapi kasus kekerasan seksual, pihak-pihak yang selama ini berjejaring melakukan advokasi hingga mendesak pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual, yang belakangan ditolak oleh beberapa fraksi di DPR.

Tak disangka seorang caleg dari partai yang fraksinya menolak RUU Penghapusan Kekerasan Seksual tersebut menjadi tersangka pelaku kekerasan seksual. Ia telah memperkosa anaknya sendiri selama bertahun-tahun.

Selain itu, beberapa tokoh agama juga menolak RUU Penghapusan Kekerasan Seksual karena mereka khawatir tidak bisa lagi memaksa istrinya untuk bersetubuh.

Baca juga: Wahai Suami, kok Ngebet Banget Sampai Istri Sendiri Diperkosa?

Ironisnya, mereka menganggap bahwa pemaksaan penetrasi dalam persetubuhan itu tidak sakit, seolah-olah mereka tahu rasanya punya vagina dan rahim. Ini namanya mansplaining. Katanya lelaki punya akal, tapi untuk urusan nafsu nggak bisa pakai akal. Semua atas nama nafsu. Orang-orang yang seperti itu adalah pelaku kekerasan seksual sesungguhnya.

Para lelaki yang selalu menggunakan argumen #TakSemuaLelaki juga termasuk mereka yang menolak RUU Penghapusan Kekerasan Seksual. Sebab, secara tidak langsung, mereka menolak membahas mengenai perilaku masyarakat misoginis dan hendak mengalihkan wacana kekerasan seksual ke pengalaman dirinya sendiri sebagai lelaki, bukan perempuan yang selama ini menjadi korban.

Kalau kamu memang tidak pernah melakukan kekerasan seksual, saya pun tidak akan memuji kamu, karena memang seharusnya begitu. Kamu tidak perlu mencari pengakuan bahwa kamu bebas dari tuduhan kekerasan seksual dari gerakan yang berusaha mengedepankan narasi perempuan dan mereka yang tertindas.

Lantas, bagaimana kalau kamu sebagai lelaki pernah dilecehkan? Ya, akui saja hal itu terjadi. Tidak perlu pakai argumen #TakSemuaLelaki karena kita tidak sedang membahas kamu sebagai lelaki, namun kamu sebagai korban patriarki.

Artikel populer: Perempuan juga Berhak Blak-blakan soal Seks

Terry Crews adalah contoh seorang lelaki yang berbicara tentang gerakan #MeToo. Sebab, kekerasan seksual itu mengenai relasi kuasa yang timpang dan bagaimana orang cenderung ‘menunjukkan kekuasaannya’ melalui invasi tubuh seseorang.

Sementara itu, Idris Elba menyatakan bahwa #MeToo akan sulit diterima, jika kamu seseorang yang memiliki sesuatu yang perlu disembunyikan. Pernyataan Idris Elba ada benarnya, karena terbukti bahwa orang-orang yang menolak RUU Penghapusan Kekerasan Seksual adalah pelaku kekerasan seksual.

Lantas apa solusinya?

Mulai dari sekarang, berhenti menggunakan argumen #TakSemuaLelaki, karena ini bukan semata-mata mengenai kamu. Argumen tersebut menjadi penyebab mengapa kekerasan seksual tidak kunjung dibahas dan penyintas tidak dapat perlindungan. Mereka yang sering kali bilang “Tak Semua Lelaki” sudah defensif duluan.

Lelaki yang merasa tidak pernah melakukannya dan terus defensif malah sering kali mengacuhkan kekerasan seksual dan tidak habisnya berbicara atas nama perempuan – bukannya mendengarkan – alias mansplaining.

Mereka bukannya menegur sesama lelaki untuk tidak melakukan kekerasan seksual, namun terus menuntut perempuan memberi solusi. Padahal, mereka sendiri termasuk bagian dari orang yang diam ketika kekerasan seksual terjadi di depan mata.

Kalau kamu merasa bukan bagian dari itu, ada baiknya kamu mulai mendengarkan perempuan dan berhenti menggunakan argumen #TakSemuaLelaki serta mendukung gerakan #MeToo.

Hayo, berani nggak?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.