Mukena Dijual Rp 3,5 Juta kok Anda Julid?

Mukena Dijual Rp 3,5 Juta kok Anda Julid?

Ilustrasi (fatimahsyahrini/Instagram)

Sebenarnya nggak penting juga bahas Syahrini dengan segala kelakuannya yang bikin orang miskin geleng-geleng. Tapi, tetap saja, incess yang satu ini selalu hangat dan sensasional untuk dipikirkan. Bahkan, ketika kita sedang lapar.

Suatu sore menjelang maghrib, saat nongkrong di warung kopi yang sepertinya penuh dengan budak Twitter di dalamnya, seorang pelanggan nyeletuk “BGST” karena kekasihnya ngetwit dengan substansi kasih kode minta dibelikan produk mukena Syahrini untuk lebaran.

Iyaa… Mukena yang harganya setara dengan 350 bungkus nasi Padang di kota Malang. Atau, setara 100 gelas espresso di kafe mentereng sekitar Kemang. Kalau cukup buat beli espresso seratus gelas, itu tandanya bisa dipakai untuk nongkrong 500 jam di co-working space sambil ngerjain deadline dari klien.

Bahkan, kalau bagi orang miskin seperti saya, produk mukena Syahrini yang dijual seharga Rp 3,5 juta itu cukup untuk beli 700 gelas kopi giras di Malang. Alhamdulillah ya, ternyata pengeluaran ngopi selama dua tahun cuma setara satu mukena.

Baca juga: Sukses Berbisnis, meski Tak Sekaya dan Sepopuler Selebritis

Iya, barusan saya julid sih, sama dengan ribuan netizen maha benar lainnya, heuheu… Syahrini pun pernah bilang “Anda jangan julid!” melalui tulisannya di kaosnya. Julid alias nyinyir karena merasa iri. Julid dianggap menyebalkan.

Lantas, mengapa orang menjadi julid massal? Bahkan, kawan-kawan akademisi yang anti banget ngomongin perlambean para artis, malah bikin thread. Mulai dari sudut pandang agama, ekonomi politik, hingga sudut pandang gender. Jangan-jangan itu bukan julid?

Yang pasti, persoalan ini memang lumayan bikin baper sih. Sebaper ketika seorang kawan datang sambil mendaku sebagai aktivis agraria pendamping petani kopi. Lalu, ia memamerkan keberhasilannya menjual biji kopi milik petani hingga menembus pasar internasional.

Bukan kaleng-kaleng coy, keuntungannya 10 kali lipat. Sang petani pun dapat sedikit lebih banyak dari pendapatan biasanya. Sisa keuntungan dipakai untuk mendanai kerja mulia aktivisme, hehe… Tentu, rasa bangga dan bahagia bukan milik si petani. Sebab, petani kopi hanya dijadikan media promosi aktivismenya.

Baca juga: Komodifikasi Janda dalam Semangkuk Makanan

Tak ada yang beda dengan figur publik di negara ber-flower berkode +62 ini. Momentum selalu memberikan keuntungan tersendiri bagi yang mampu membaca peluang. Apa saja bisa diperjualbelikan. Mulai dari sarung berbenang sutera pembawa keberkahan, promo barang-barang penambah khusyuk peribadatan, hingga mukena berlapis emas 24 karat pembawa ketenangan.

Anda merasa heran?! Seharusnya tidak. Anda pun sanggup membelinya, jika mau. Tapi, apa gunanya memiliki barang-barang seperti itu, meski berbalut kesan religius? Sementara, masih banyak pemuda desa tak kerja, dirampas haknya, tergusur dan lapar.

Hakikatnya, mukena dan kopi sama-sama produk, sama-sama diolah, dipromosikan, dan memiliki nilai jual. Jika aktivis tadi menjadikan petani kopi sebagai ‘komoditas’, maka produk mukena incess sebagai bentuk komodifikasi.

Jadi, mukena bukan sekadar mukena. Ada perubahan fungsi menjadi sebuah komoditas dari yang tadinya hanya sebagai penutup aurat perempuan ketika salat. Apalagi, produk tersebut dilabeli nama pesohor sebagai merek dagang.

Baca juga: Gaya Hidup Minimalis yang Maksimalis Lagi Ngetren sebagai Lawan Setimpal Budaya Konsumerisme

Sementara itu, agar laris manis di pasar, si pemilik produk kerap menciptakan fetish terlebih dahulu. Dengan demikian, konsumen seolah-olah sangat membutuhkan produk tersebut, meskipun sudah memiliki produk sejenis.

Yup, bagaimana kapitalisme bekerja bahkan hingga ke ruang yang suci dan sakral sekalipun. Dalilnya sederhana; pasar bisa diciptakan. Terlebih, di tengah euforia budaya konsumerisme di negeri yang kelas menengahnya mengalami pertumbuhan pesat. Seperti di Indonesia.

Tentunya, Syahrini tak sekadar menghadirkan banyak barang, lalu dibiarkan menumpuk sampai buluk. Barang-barang itu harus laku dalam sekejab melalui pertukaran yang sah dalam dunia jual beli.

Artikel populer: Tim Syahrini atau Luna Maya? Tidak Keduanya

Agama memang tidak melarang jual beli. Yang dilarang adalah pengambilan keuntungan di atas batas wajar dari setiap produk. Agama juga tidak melarang umatnya untuk menjadi kaya. Yang dilarang adalah menumpuk-numpuk kekayaan.

Toh, dengan memakai mukena seharga Rp 3,5 juta tak menjamin ibadah seseorang lebih khusyuk atau lebih dekat dengan Tuhan. Merasa diri menjadi lebih baik justru bisa bikin celaka. Tapi kan harga Rp 3,5 juta untuk satu mukena itu relatif tidak mahal, cuy? Bisa jadi, mungkin saya saja yang terlampau miskin proletar. Yang pasti, komodifikasi perlengkapan ibadah begitu mengganjal.

Jadi, mari kita pahami bahwa di setiap kejulidan selalu ada faktor material dan historisnya. Sebab itu, kaum julid proletar sedunia, bersatulah!

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.