Ilustrasi (Photo by Samuel Silitonga from Pexels)

Selama 10 tahun merantau dari kota kelahiran, hal yang paling membuat saya terkejut setiap akan pulang kembali ke rumah untuk mengunjungi orang tua adalah pertanyaan sederhana dari teman-teman di Jatinangor – daerah rantau pertama saya – yang berbunyi, “Kamu mau pulang ke Jawa, ya?”

Seiring berjalannya waktu, saya mulai memahami salah kaprah pertanyaan tadi, dan jauh lebih terkaget-kaget bahwa hari ini akhirnya tiba juga – hari dimana orang-orang mempertanyakan apakah “mudik” dan “pulang kampung” patut disamakan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), definisi mudik dijelaskan sebagai berikut:

1) (berlayar, pergi) ke udik (hulu sungai, pedalaman)

2) pulang ke kampung halaman

Sementara itu, pulang kampung menurut KBBI adalah kegiatan kembali ke kampung halaman atau mudik.

Kedua istilah tadi saling menggantikan dalam KBBI. Mudik adalah pulang kampung, pulang kampung adalah mudik. Orang-orang memperlakukannya sama, tak ada beda. Kala corona si virus yang menyebalkan itu datang ke bumi, kegiatan mudik (atau pulang kampung) menjadi sorotan, menyusul adanya ribuan warga pulang ke kampung halamannya dari kota-kota besar, termasuk Jakarta, dan berpotensi menyebarkan virus ke daerahnya masing-masing.

Baca juga: Mudik Dibilang Tak Sayang Keluarga, Tidak Mudik Hidup Susah di Kota

Tak ada permasalahan istilah saat headline berita di beberapa media menuliskan fenomena mudik yang terjadi lebih awal di tengah pandemi dan imbauan #DiRumahAja. Polemik muncul ketika suatu hari, Presiden Joko Widodo mendapat pertanyaan terkait aturan larangan mudik Lebaran, padahal ratusan ribu orang sebelumnya sudah mudik duluan karena aturan yang nggak ketat-ketat banget.

“Itu bukan mudik, itu pulang kampung,” jawab Presiden – melempar tanda tanya besar bagi para pendengarnya. Berbedakah kedua istilah itu, padahal di KBBI mereka disebut dalam definisi masing-masing?

Pulang kampung, menurut pemerintah, adalah pulang ke rumah di tempat asalnya setelah tak lagi bekerja di Jabodetabek (kota). Sementara, mudik adalah pulang ke rumah di kampung halaman kala menyambut hari raya Idul Fitri. Ulangi keduanya dan tanyakan lagi: berbeda atau tidak?

Baca juga: Ya Beginilah, ‘Social Distancing’ bagi Anak-anak Kosan

Mudik – nyatanya – tak spesial milik hari raya Lebaran. Ayolah, negara kita luas dan terlalu banyak hari yang harus dilewati. Mudik bukan cuma soal pulang di hari Lebaran dan sungkem pada orang tua. Asal kata “mudik” bahkan tak berhubungan dengan hari raya manapun.

Sebelum urbanisasi terjadi di Jakarta pada masa lalu, beberapa wilayah dikenal dengan nama belakang “udik” dan “ilir” yang bermakna “selatan” dan “utara”. Kata inilah yang kemudian menjadi asal-usul munculnya istilah “milir-mudik”. Pasalnya, saat itu, suplai hasil bumi dibawa para pedagang melalui sungai ke Jakarta dari daerah selatan. Kegiatan mudik atau “menuju udik” pun digambarkan sebagai perjalanan pulang dari kota ke ladang secara berulang.

Sumber lain meyakini bahwa kata “mudik” berasal dari bahasa Jawa yang berbunyi “mulih disik” atau “pulang dulu”. Kegiatan ini bahkan disebut-sebut sudah berlangsung sejak zaman Majapahit, dimana orang-orang pulang ke kampungnya masing-masing untuk membersihkan makam leluhur.

Lantas, kalau mudik punya histori sebagai kegiatan perjalanan pulang, kenapa ia dibedakan dengan “pulang kampung”?

Baca juga: Jika PSBB di Jakarta Jadi Latar Film Parasite

Menurut dukungan yang muncul setelah perkataan Presiden Jokowi kian tersebar luas, perbedaan mudik dan pulang kampung ada pada sifat keduanya. Mudik diyakini bersifat tidak parsial sebagaimana pulang kampung. Mudik dilakukan pada hari besar, sedangkan pulang kampung bisa dilaksanakan kapan saja. Sebagian lagi mengaitkannya pada makna semantik bahasa Indonesia.

Pertanyaannya: apakah bahasan ini juga menjadi pertimbangan pengambil keputusan saat menetapkan larangan mudik di hari raya nanti? Like, really?

Kalau mudik dan pulang kampung ternyata berbeda (menjadi berbeda sejak Presiden Jokowi berkata demikian), buat apa ada larangan mudik lebaran? Bukankah orang-orang masih bisa-bisa saja pulang kampung dan membawa kemungkinan menyebarkan virus ke daerah lain? Kenapa kita semua harus tetap duduk manis #DiRumahAja kalau ujung-ujungnya perpindahan antarkota ini tetap bisa dilaksanakan di balik istilah “pulang kampung”?

Kenapa, Pak Jokowi, kenapa?

Artikel populer: Macam-macam Karakter Pacar Berdasarkan Cara Kerja Menteri Hadapi Pandemi

Saya – dan mungkin banyak sekali orang di luar sana – sudah cukup kesal dengan corona yang datang tanpa diundang dan merusak seluruh rencana selama dua bulan belakangan. Ada banyak sahabat dan keluarga yang tak bisa bertemu dan berpelukan. Ada banyak rindu yang harus ditahan dan pernikahan yang diundur. Ada banyak nyawa yang terpaksa melayang. Ada banyak waktu yang tersita sampai terlampau larut malam. Ada banyak ketakutan yang meresahkan setiap jiwa.

Jadi, tolong, bersikaplah sepatutnya, Pemerintah. Kamus bahasa dan kata-kata tak perlu jadi alat perlindungan diri di zona politik. Tak perlu lagi memainkan kata-kata terlalu banyak, kami toh sudah punya ahli yang lebih baik dan netral.

Kecuali kalau, sepertinya, menurut Anda, kamus memang benar-benar sudah mati.

1 KOMENTAR

  1. Melihat tulisan Anda, saya cukup meyakini Anda masih berada pada usia di bawah 30an tahun…
    Sehingga melihat sesuatu hanyalah dari 1 sisi saja…
    Atau perumpamaan yang mudah, adalah “Seorang perempuan yang langsung jatuh cinta dan ingin segera menikah, ketika melihat seorang yang sangat ganteng dan berbadan atletis di depannya. Padahal, kalo melihat lebih dalam, maka menikah tidak hanya melihat pada satu sisi saja, yakni ketampanan seseorang,.. ada banyak sisi lain yang harus anda lihat sebelum memutuskan menikah dengan seseorang, karena yang akan Anda lakoni setelah menikah, adalah kegiatan dalam jangka waktu lama bersama orang yang Anda pilih dalam segala waktu, dalam segala aspek sehingga butuh banyak sisi untuk melihat, sebelum Anda menentukan pilihan”.

    Demikian juga memahami lawan bicara Anda, atau apa yang diucapkan oleh Presiden kita…

    Kalo Anda melihat dari sisi KBBI, maka sama seperti perumpamaan di atas… tetapi Apabila Anda sudah pada usia dewasa, saya yakin, Anda akan lebih berhati2 dan lebih melihat berbagai aspek sebelum “Men-judge” atau mengambil sikap terhadap apa yang Presiden ucapkan…

    Mari kita ulik…
    1. Presiden Jokowi, bukan dari kalangan latar belakang pendidikan tinggi dan juga bukan dari ahli dalam berbicara…. lebih dari 10 tahun, beliau sering tampil di muka umum, satu hal yang terlihat, beliau tidak terlalu pandai dalam berbahasa dan pemilihan kata… karena berbasis dari kampung jawa yang kental dan dari lingkungan bawah, maka sering kali bahasa yang digunakan, adalah bahasa kampung atau istilahnya “Ndeso”… Lantas, koq beliau bisa terpilih jadi presiden kita? Ingat! yang pilih adalah 50an% bangsa Indonesia, yang “mungkin”, kebanyakan menyukai kepribadian Beliau yang sederhana, jujur apa adanya, dekat dengan masyarakat kelas bawah, dsb… sehingga Anda tidak bisa membandingkan “Harapan” dalam diri Anda, atau juga mungkin saya dan banyak orang, dan tidak akan menemukan dalam diri Pak Jokowi yakni Presiden yang pintar, pintar berbahasa seperti Presiden SBY, dan lain sebagainya.. Beliau tidak lebih dari Pilihan Masyarakat Indonesia yang suka akan sosok yang sederhana yang betul2 bekerja dan bekerja untuk masyarakat kelas bawah…..
    2. Ketika telah melihat aspek di atas, maka Anda akan menemukan bila Anda goggling, hampir dalam banyak moment, Presiden Jokowi, tidak mempunyai perbendaharaan kata yang baik setiap berbicara langsung kepada wartawan, bahkan seringkali mengulang2 perkataannya…
    3. Atas dasar demikian, maka ketika Beliau mengungkapkan Mudik dan Pulang Kampung, adalah dalam pemahaman beliau yang berasal dari “Wong Ndeso”, Wong Ndeso di Jawa, maka, pengertian yang ada di benak beliau adalah, Mudik (Mulih disik), berarti pulang sementara ketika lebaran, dan akan kembali setelah lebaran… Sedangkan Pulang Kampung, dari ungkapan beliau, adalah orang yang sudah tidak punya pekerjaan lagi di kota, dan ingin balik ke kampung saja atau bahasa lain mengungkapkan, “Pulang kampung selamanya,.. tak tak kan balik lagi”. Tentunya tidak akan kembali ke kota setelah lebaran.. karena mereka ingin di kampung memulai lembaran baru..
    4. Itulah perbedaan Mudik dan Pulang kampung versi beliau, yang tidak akan Anda temukan dalam KBBI…
    5. Saya bukan pendukung buta yang selalu mengatakan beliau benar… Dalam sisi lain, jika kita memandang sosok Presiden sebagai lambang negara, memang apa yang diungkapkan beliau, adalah salah dan tidak tepat. karena betul, di KBBI seperti yang Anda sampaikan, pernyataan beliau tidaklah tepat. Tetapi ketika memahami latar belakang siapa yang jadi Presiden kita sekarang, saya rasa Anda akan mengerti dan menempatkan penilaian pada tempatnya tanpa harus mengangkat ke berita tentang permasalahan mudik dan pulang kampung. Kembali seperti perumpamaan saya tadi, Perempuan yang hendak memutuskan untuk menikah pun, harus melihat segala aspek sebelum menentukan pilihan pendamping hidupnya selamanya. Demikian juga, menilai presiden kita, harus melihat dari berbagai aspek sebelum menjatuhkan penilaian tepat dan dibaca oleh publik.

    Ingat! setiap perkataan Anda, adalah cerminan diri Anda.. buah yang baik, akan menghasilkan yang baik, dan yang memakannya akan mengenang selamanya..
    Tetapi buah yang busuk, akan menghasilkan rasa yang busuk dan aroma yang busuk

    Karena itu, berbuahlah yang baik, maka Anda akan dikenang..
    salam

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini