Mortal Kombat - Official Trailer (Warner Bros Pictures)

Sewaktu film bertajuk Generasi 90an tayang di bioskop, banyak orang berekspektasi akan mendapatkan nostalgia tentang masa keemasan tahun 1990-an. Namun, ternyata cerita filmnya nyaris tidak ada kaitan dengan buku berjudul sama yang menjadi sumber adaptasinya.

Sejak adegan pembuka saja diketahui bahwa tokoh utamanya lahir pada tahun 2000. Yang masih relate dengan generasi 90an cuma selera fesyen karakter-karakternya yang vintage nan oldschool, serta pernak-pernik 90an seperti gimbot dan konsol gim yang jadi tempelan.

Tahun 90an bagi sebagian orang juga terpaut dengan konsol video game rumahan seperti Nintendo. Anak-anak pada zaman itu bisa lupa waktu karena keasyikan bermain Super Mario dan Mortal Kombat. Mengingatnya, terasa ingin kembali ke masa itu.

Banyak orang yang ingin menengok sejenak ke kenangan indah masa kecilnya. Produser film menyadari fenomena itu, lalu dirilislah film-film legendaris dalam versi reborn, remake, atau reboot. Salah satunya film Stand by Me Doraemon 2.

Baca juga: Daripada Meladeni Arogansi Anak 90-an, Ini yang Bisa Dilakukan Anak 2000-an

Serial kartun Doraemon sangat problematik dengan alur waktunya yang seperti terjebak time-loop (lingkaran waktu). Berbeda dengan latar waktu Dragon Ball yang bergerak maju, dari mulai Son Goku kecil sampai menikah dan punya anak-cucu. Sewaktu penonton masih kelas 5 SD, Nobita diceritakan juga kelas 5 SD. Namun, ketika penonton sudah kuliah semester akhir, kenapa Nobita masih SD?

Film Stand by Me Doraemon 2 adalah jawabannya. Di sini, Nobita telah tumbuh dewasa, bahkan diceritakan akan menikah dengan Shizuka. Promo filmnya pakai gimik seperti undangan pesta pernikahan untuk para penggemar. Penonton pergi ke bioskop bisa pakai batik, biar berasa seperti kondangan. Kurangnya, tidak ada stan kambing guling dan gubuk zuppa soup.

Baca juga: Doraemon sebagai Kritik kepada Orang Tua

Selain Nobita cs, karakter-karakter gim dari Mortal Kombat juga datang kembali dengan membawa jawaban untuk pertanyaan kita di masa kecil, “Mengapa mereka berkelahi satu sama lain?”

Dalam versi live action yang dibintangi oleh Joe Taslim, premis cerita Mortal Kombat menjelaskan bahwa jagoan dari bumi harus mengikuti sebuah turnamen melawan petarung dari dimensi lain untuk mempertahankan eksistensi alam semesta ini. Itulah mengapa namanya Mortal Kombat.

Ternyata mereka berkelahi untuk menyelamatkan dunia. Berbeda dengan alasan terjadinya perang sarung yang nirfaedah.

Banyak orang menonton film Mortal Kombat, selain untuk bernostalgia dan merawat inner child, juga demi mendukung aktor kebanggaan Indonesia supaya tetap eksis di dunia perfilman internasional.

Namun, Lembaga Sensor Film (LSF) tidak punya semangat yang sama. Yang ada, adegan filmnya disunat habis-habisan. Terutama adegan fatality yang khas Mortal Kombat banget.

Baca juga: Belajar dari Kegagalan Son Goku sebagai Suami, Bukan dari Perceraian Selebriti

Padahal, selain konten yang berbahaya untuk anak-anak, konten berbahaya tentang anak-anak itu sendiri perlu diawasi dan disensor. Contohnya, seorang Youtuber yang tertangkap layar pernah menulis kata-kata kasar dan tak pantas di status Facebook sewaktu berumur 9 tahun. Alih-alih aib tersebut disembunyikan atau disensor, seorang netizen menaikkan konten terlarang itu lagi. Sampai Youtuber tersebut bikin klarifikasi di Twitter, lalu menjadikannya konten di Youtube demi dolar adsense.

Masa kecil memang menyimpan banyak kenangan indah sekaligus aib. Jika nostalgia terasa indah untuk dikenang dan diromantisisasi, aib adalah kebalikannya. Namun, orang dewasa acapkali senang menertawakan aib anak-anak, termasuk aib figur publik sewaktu masih kanak-kanak – yang tentu saja pemikirannya sudah berkembang lebih baik dan tak relevan lagi dengan konten di masa lalu.

Yang terbaru adalah konten TikTok wawancara anak SD ditanya oleh seorang kreator konten tentang apa kepanjangan dari SD. Ada yang menjawab “Sekolah Duduk”, ada juga yang mencoba satire dengan menyebut “Sekolah Dihapus”. Mengingat berangkat piknik boleh, tetapi berangkat ke sekolah masih dilarang.

Artikel populer: Attack on Titan Ditinjau dari Beragam Jurusan Kuliah

Netizen menyebut jawaban anak-anak ini sebagai gambaran kualitas pendidikan Tanah Air. Padahal itu cuma konten TikTok, bukan ujian nasional. Namun, tidak ada yang mempermasalahkan sebuah konten sensitif dengan anak-anak sebagai objek dan materinya. Bahkan, wajah anak-anak di video itu pun tidak disensor.

Ketika anak-anak di video itu sudah tumbuh dewasa, siapa yang berani jamin tidak ada netizen yang menyundul kontennya naik kembali di internet untuk ditertawakan lagi?

Inilah pertarungan moral alias Moral Kombat di antara kita. Tantangan untuk para jagoan di internet untuk menjaga mereka yang lebih lemah agar tidak menjadi target perundungan online.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini