Mobile Legends Adalah Cara Alternatif Merawat Nalar Kritis
CEPIKA-CEPIKI

Mobile Legends Adalah Cara Alternatif Merawat Nalar Kritis

Gatotkaca, salah satu hero dalam Mobile Legends (tribunnews.com)

Lama saya tidak menulis, termasuk untuk CepikaCepiki di Voxpop. Mungkin ada yang kangen sama saya, atau tulisan saya, soalnya saya juga kangen… sama honornya. 🙂

Tapi bukan cuma menulis, bermedia sosial pun saya sudah lama nggak. Nulis status aja males, apalagi nulis artikel. Bosan. Kalau bukan membahas soal agama, pasti ribut soal politik. Anies-Sandi lagi, Ahok lagi, Jokowi lagi.

Sekalinya saya fesbukan lagi, beritanya kok sedih semua. Masih soal agama sama politik juga sih. Ada pastor yang dibacok di Jogja, ada ustaz yang dianiaya, sampai DPR yang mensahkan Undang-Undang MD3.

Yang terakhir itu mengapa bikin kesal sedih, lha, anggota DPR kan dipilih oleh rakyat, digaji pakai uang rakyat, dikritik sama rakyat yang memilih dan menggajinya, kok ngambeg?

Jadi rakyat, akhir-akhir ini terasa berat banget. Kalau kata Dilan, “Jangan jadi rakyat, Milea. Berat. Kamu gak akan kuat. Biar aku ajah…”

Tapi satu kali saya pernah baca status orang, katanya, penyebab media sosial termasuk fesbuk gak asyik lagi adalah karena orang-orang tua yang ikut-ikutan fesbukan atau twitteran. Dipikir-pikir, mungkin ada benarnya juga status itu.

Orang-orang tua itu – mengutip Berthold Brecht bahwa politik menentukan dari harga kacang sampai hidup-matinya perusahaan nasional – merasa bahwa dirinya menanggung beban untuk menyelamatkan negara.

Mereka juga merasa punya kewajiban membawa semua orang masuk surga lewat broadcast message WA dengan embel-embel “khusus untuk umat agama nganu”. Lalu dibantah temennya, terus berantem. Di media sosial.

Mungkin berpolitik di media sosial jauh lebih berbahaya buat kehidupan bangsa dan negara daripada berpolitik dari rumah ibadah kayak idenya Oom Eep.

Tapi saya pikir, kelakuan seperti itu bukan cuma dimiliki oleh orang-orang tua saja, yang muda-muda juga banyak. Mungkin bukan umur penyebabnya, tapi – seperti kata orang – karena kurang piknik.

Tapi, apa dikira piknik gak pakai duit? Dikira ongkos ke Raja Ampat kayak ongkos Gojek yang bisa dibayar pakai GoPay apa ya? Kayaknya memang dasar orangnya saja, ada yang super serius, ada yang ultra selow.

Dan, belakangan ini, kita bisa membedakan keduanya dari posisi hapenya. Kalau orang menggenggam telepon selulernya dalam posisi tegak, kemungkinan besar ini jenis orang yang super serius. Bacaannya portal-portal berita kayak Detiknews, Viva, atau Beritasatu.

Sementara kelompok yang satu lagi, yang selalu nyantai kayak di pantai, cara megang hapenya biasanya dimiringkan atau horisontal. Mainan Mobile Legends!

Mobile Legends alias ML, saya kira sudah jadi cara anak-anak muda mengkritisi orang-orang tua, terlebih politisi tua, yang serius banget kalau fesbukan dan twitteran. Setingkat di atas saya yang cuma mogok bermedia sosial.

Daripada berpusing-pusing ria memutuskan siapa yang kafir siapa yang bukan, mending nge-rank buat nyari bintang dan menaikkan peringkat. Daripada bingung mendengar omongan Oom Fadli Zon dan Oom Fahri Hamzah – lalu tergoda untuk ngetawain yang bisa bikin kita masuk penjara – lebih baik mengatur gear supaya serangan Lesley lebih sakti.

Betul! Atlet Mobile Legends tidak pernah peduli pada pandangan politik kawan atau lawan mainnya. Padahal di sana ada hero, Johnson, yang bisa berubah jadi mobil dan bebas nabrak-nabrakin musuhnya. Tapi gak ada ceritanya dia pesan rumah sakit sehari sebelum nabrak tembok atau turret.

Ada juga hero dari China, dua malah, Zilong dan Sun. Tapi gak ada tuh yang teriak-teriak asing dan aseng. Padahal, Sun seperti kisah legenda Sun Go Kong yang bisa berubah jadi banyak, bisa berubah jadi tiga orang. Mungkin karena cuma jadi tiga, beda ceritanya kalau Sun bisa berubah jadi 10 juta pekerja China.

Moonton, produsen gim itu, juga tidak lupa sama Indonesia, negara yang saya kira jadi penyumbang atlet ML terbanyak. Satu hero-nya konon berasal dari Indonesia: Gatotkaca.

Di sini saya mulai bingung. Soalnya, setahu saya kisah Mahabharata itu kan asalnya dari India, kok bisa Gatotkaca asli dari Indonesia? Saya tiba-tiba membayangkan kalau Shahrukh Khan datang ke Indonesia lalu minjem kaos oblongnya Oom Lieus yang ada tulisannya: “Gue pribumi… so what gitu loh?”

Jadi, saya pikir memiringkan telepon genggam dan bermain Mobile Legends, misalnya, adalah cara alternatif untuk membangun dan merawat nalar kritis. Namun, jika kita tetap dikepung begitu hebatnya dari segala arah, mungkin saatnya bagi kita untuk berkata…

“Kalau kau benar ada di atas sana, selamatkanlah kami, Alucard! Kami lagi di-gank nih!”

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.