Sesungguhnya Bukan Miras Oplosan yang Membunuh Mereka, tapi Kemiskinan

Sesungguhnya Bukan Miras Oplosan yang Membunuh Mereka, tapi Kemiskinan

Ilustrasi (Prawny/pixabay.com)

Minuman keras (miras) oplosan kembali lagi, tentu dengan deretan korban. Sebagian meninggal, sisanya masih tergolek lemah, dan sebagian warganet nan budiman menyebut korban yang meregang nyawa sebagai mati sia-sia.

Korban miras oplosan ini merebak di beberapa tempat pada saat yang hampir bersamaan. Kita mulai dari Jakarta, tepatnya di Jagakarsa, terdapat 8 warga penenggak miras oplosan tewas.

Terus, naik ojol sebentar ke Bekasi, kita akan mendapati setidaknya 7 orang meregang nyawa. Geser sedikit naik taxol ke Sukabumi, ada 5 orang korban tewas. Terakhir, di Cicalengka, Kabupaten Bandung, 33 warganya diwartakan tewas, lagi-lagi sesudah mengonsumsi miras oplosan.

Perlu dicatat bahwa sebagian besar korban tewas berada di usia produktif. Yeah, makan tuh bonus demografi.

Kalau sudah begini, sungguh saya ingin memberikan masukan pada pencinta isu telur palsu, Syahroni cs bahwa bukan telur palsu yang diciptakan oleh asing untuk merusak generasi kita, tapi miras oplosan ini. Pada saat efek telur palsu masih absurd buktinya, efek miras oplosan sudah jelas. Matek.

Terus kok Syahroni cs nggak koar-koar di pasar soal bahaya miras oplosan?

Padahal, tewas karena miras oplosan itu sudah berulang kali terjadi di negeri ini. Nyaris setiap tahun muncul berita bahwa ada rakyat yang meregang nyawa sia-sia sesudah meminum campuran yang tidak jelas ini dan faktanya kasus serupa selalu ada lagi. Mereka mati, padahal mereka seharusnya tidak perlu mati.

Kalau mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah ‘mengoplos’ berarti mencampur sesuatu yang asli dengan barang atau bahan yang lain, sehingga kadar keasliannya berkurang (tentang minyak tanah, bensin, dan sebagainya).

Definisinya mungkin ada benarnya. Namun, keadaannya tidak sesederhana itu.

Pertama-tama harus dipahami bahwa miras oplosan itu sepenuhnya ilegal, karena memang tidak ada pengaturan soal peredarannya.

Ini jelas berbeda dengan miras legal yang memang ada izin edarnya, sehingga kalau ada apa-apa, perlakuannya nggak jauh beda dengan mie Korea atau ikan kaleng yang produsennya jelas dan bisa dimintai pertanggungjawaban.

Artinya, tidak ada jaminan apapun pada kualitas miras oplosan. Tidak ada jaminan tentang bahan-bahan yang dicampur, tidak ada jaminan juga minum miras oplosan itu bisa membuat terbang seperti yang diharapkan karena kadang-kadang lebih banyak air daripada alkoholnya.

Ini tentu beda dengan miras legal yang sudah jelas persentase kadar alkoholnya, sehingga dampaknya bisa diestimasi. Kalau minum yang 5% sampai 15% paling-paling pipis. Kalau minum tinggian sedikit mulai pusing-pusing, dan seterusnya.

Oh ya, karena tidak ada jaminan kualitas apapun pada miras oplosan itulah, maka harganya menjadi sangat murah – setidaknya dibandingkan miras yang legal. Jangan bandingkan sama teh botol.

Maka, jangan heran ketika sudah jadi prahara, profil kandungan dalam miras oplosan itu bikin geleng-geleng. Paling umum adalah ditemukan adanya metanol a.k.a metil alkohol, jenis cairan yang dari segi struktur beda tipis dengan etil alkohol atau jamak disebut etanol.

Atau, pada kasus lain, ditemukan bahwa kadar etanol pada miras oplosan sebesar 96% alias etanol murni! Ini belum termasuk campuran aneh-aneh lainnya seperti obat batuk hingga lotion nyamuk nan klasik itu.

Bagi yang paham, paragraf di atas sudah cukup mengerikan. Sayangnya, pemahaman begitu bukan milik semua kalangan, apalagi kalangan menengah ke bawah yang menjadi korban miras oplosan.

Dari sisi bentuk, metanol dan etanol itu sama saja. Cairan bening dengan aroma khas. Jadi, bahkan yang mengoplos pun sangat mungkin tidak tahu bahwa yang sedang dicampurnya adalah metanol.

Sekadar info, tujuan penggunaan metanol adalah sebagai bahan bakar maupun pelarut di industri itu. Menghirup metanol saja dapat menyebabkan iritasi saluran napas, batuk, pusing, sakit kepala, hingga gangguan penglihatan. Bayangkan parahnya kalau ditelan!

Miras oplosan dengan bahan-bahan yang tidak jelas itu nyatanya menjadi ‘solusi’ ketika rakyat kecil ingin mabuk. Mencari miras lokal semakin sulit, membeli miras legal kok tiada sanggup, jadinya ya miras oplosan. Sebuah ‘solusi’ instan yang ternyata merupakan awal dari masalah selanjutnya.

Miras sendiri sejatinya adalah bentuk kearifan lokal, setidaknya begitu menurut anggota DPR RI Herman Hery, dua tahun yang lalu. Kita memang mengenal tuak, sopi, hingga ciu sebagai kearifan lokal.

Sayangnya, kearifan lokal itu harus bertemu dengan aneka rupa standar, baik sebagai sekadar produk, sebagai bentuk pangan, hingga sebagai zat yang mempengaruhi kesehatan. Akibatnya, miras kearifan lokal itu menjadi semakin sulit untuk dicari.

Ketika kearifan lokal kudu bersanding dengan anggur merah impor yang standarnya sudah sana-sini, sulit jadinya dan berimbas pada harga yang mahal. Minuman lokal menjadi mahal karena minimnya pasokan. Sedangkan minuman buatan pabrik mahal karena standar tinggi dan pungutan sana-sini.

Tidak bisa dipungkiri, harga adalah koentji. Muaranya, korban miras oplosan hampir pasti rakyat ekonomi menengah ke bawah dan hampir selalu lebih dari satu korban. Nggak ada korban miras hasil oplosan di kafe mahal.

Ingat, oplosan itu mencampur hingga kemurnian berkurang. Jadi, alkohol 40% dikasih es batu juga ngoplos. Lha, kalau esnya cair, kadar alkoholnya bisa jadi 36% saja.

Sila ketik metanol pada berbagai toko daring, harga yang keluar tidak jauh dari Rp 10-20 ribu per liter. Dengan menambahkan 1-2 liter air dan aneka bahan tambahan yang tampaknya akan bikin enak, miras oplosan sudah bisa dinikmati.

Bandingkan harga Rp 20 ribu tersebut dengan miras legal berkadar alkohol 40% yang bisa kita beli di duty free sebesar Rp 300 ribu. Selisih harga yang sangat ‘menarik’, bukan?

Para korban yang tewas itu sesungguhnya adalah korban berlapis. Mereka tidak mendapat pendidikan yang cukup untuk memahami bahaya bahan-bahan kimia. Mereka juga tidak memiliki rezeki yang cukup untuk mengakses miras legal.

Mereka kehilangan nyawa saat hendak mencoba mencari sedikit ‘kenikmatan’ hidup, lari dari masalah-masalah kehidupan yang semakin berat. Sayangnya, kenikmatan itu dilakukan dengan cara keliru. Dan, mereka tidak mendapat kesempatan untuk memperbaikinya lagi.

3 COMMENTS

  1. saya fikir mereka terbunuh minuman karena kebodohannya…Jika saja mereka tahu bahwa semua unsur yang dicampurkan dalam minuman itu membahayakan mungkin tidak akan mau meminumnya
    Banyak orang bahkan di daerah tertentu minum sampai mabuk adalah hal biasa …tetapi mereka sangat tahu apa yang mereka minum sehingga efek mabuknya tidak mematikan….

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.