Adil Sejak Dalam Pikiran, Termasuk dengan Iqbaal yang Jadi Minke?

Adil Sejak Dalam Pikiran, Termasuk dengan Iqbaal yang Jadi Minke?

Iqbaal Ramadhan (Minke) dan Mawar Eva (Annelies)/Falcon Pictures

Iqbaal Dhiafakhri Ramadhan alias Iqbaal CJR. Jujur, saya tidak paham kenapa remaja yang sempat dikenal sebagai musisi itu – yang karyanya tak pernah sekalipun saya dengarkan – kerap diragukan kemampuan aktingnya oleh publik.

Setidaknya, sudah dua kali Iqbaal dicibir publik gara-gara muncul kabar bahwa dia akan memerankan tokoh utama sebuah film.

Pertama, ketika dia akan memerankan tokoh Dilan di film “Dilan 1990” dan sekarang saat dirinya akan memerankan tokoh Minke dalam film “Bumi Manusia”. Entah kebetulan atau tidak, keduanya adalah film yang ceritanya diadaptasi dari sebuah novel.

Memang, seberapa parahnya sih sosok Iqbaal ini?

Ketika film “Dilan 1990” mulai dirilis, sorotan publik langsung tertuju padanya. Sorotan itu tajam dan menuding. Kalau dirangkum, mungkin tudingan itu kira-kira isinya begini: “Lo itu gak cocok meranin Dilan. Bikin ekspektasi gue ambyar!”

Padahal, ketika akhirnya “Dilan 1990” tayang di bioskop, hasilnya nggak jelek-jelek amat kok. Meskipun masih ada yang kecewa, tapi ada banyak juga yang memuji. Itu kan hal biasa, semua aktor selalu diperlakukan seperti itu. Ada yang suka, ada yang tidak suka.

Dengan kata lain, Iqbaal ini sama saja seperti aktor-aktor film lainnya. Tidak istimewa sampai segimananya. Tidak buruk banget sampai segimananya.

Jangan-jangan, malah ekspektasi kita yang berlebihan pada sosok Iqbaal ini.

Saya sendiri memilih diam tak berkomentar saat pertama kali mendengar kabar bahwa Iqbaal akan memerankan tokoh Dilan. Ada dua alasan yang mendasari sikap diam saya.

Pertama, karena saya tidak tahu siapa anak ini. Kedua, karena saya termasuk pembaca novel Dilan yang tidak setuju cerita ini dijadikan film.

Tapi masa gara-gara tidak setuju cerita ini difilmkan terus melampiaskannya dengan mencibir si aktor. Itu kan sikap kekanakan dan tidak adil.

Apa coba salahnya si Iqbaal? Dia hanya seorang pekerja film yang sedang berusaha menapaki karier. Ada kesempatan di depan mata, wajar saja kalau langsung dia samber.

Beruntungnya lagi, Iqbaal seperti punya mental baja. Meski dicibir sana-sini, dia tetap ‘melawan’. Dia tidak memilih untuk mundur. Hingga akhirnya, Film “Dilan 1990” tayang di bioskop dan tetap si Iqbaal ini yang memerankan tokoh utamanya.

Mungkin saja Iqbaal sebenarnya sudah menanamkan sikap dalam dirinya. Dia sedang mengamini ucapan Nyai Ontosoroh pada Minke. “Sekali dalam hidup orang mesti menentukan sikap. Kalau tidak, dia takkan menjadi apa-apa”.

Sedaappp…

Sampai akhirnya, film “Dilan 1990” pun booming dan berhasil menggaet jutaan penonton. Tapi, sikap saya tetap sama. Saya kan juga sedang berusaha mengamini omongannya Nyai Ontosoroh. Memangnya cuma Iqbaal yang boleh punya sikap.

Dan, sikap yang saya ambil adalah untuk tidak pernah ikut menonton film tersebut.

Hasilnya, saya malah mendapatkan dua keuntungan. Pertama, tidak latah mencibir Iqbaal, sehingga berlaku lebih adil, tsaahh… Kedua, imajinasi dan ekspektasi terhadap cerita novel itu pun tidak ikut terganggu.

Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.

Kalau sudah begitu, saya jadi tetap bisa fokus memikirkan bagaimana cara melunasi cicilan yang semakin menumpuk. Because, you know, life must go on beib…

Sekarang, kejadian itu berulang kembali dalam film yang berbeda. Dan lagi-lagi, yang saya bingung, kok ya sorotan publik langsung mengarah ke Iqbaal. Kasihan banget nasib ini anak. Apa coba salahnya dia? Saya masih tidak habis pikir.

Perkara novel “Bumi Manusia”, saya sendiri sudah memasang sikap sejak lama. Lebih dari sepuluh tahun yang lalu, ketika menamatkan serial novel ini, saya sudah memutuskan untuk tidak akan menonton, jika nanti ada yang menayangkan cerita ini dalam bentuk film.

Seperti kebanyakan pembaca “Bumi Manusia”, rasanya saya bisa yakin untuk berkata bahwa novel ini adalah novel tanpa cela alias novel yang bagus banget. Novel ini telah saya baca berulang-ulang dan tidak pernah terasa membosankan.

Ternyata, memang ada sineas yang ingin memfilmkan cerita ini.

Kekhawatiran pun muncul, seperti ketika mendengar kabar bahwa cerita Dilan akan dijadikan film. Bedanya, saat dengar “Bumi Manusia” mau difilmkan, kekhawatiran itu rasanya jadi semakin besar.

Karena, bagaimanapun, kadar kesukaan saya terhadap novel “Bumi Manusia” nilainya berkali-kali lipat dibandingkan kadar kesukaan saya pada novel “Dilan”.

Tapi, ya udah lah ya. Lihat saja nanti hasilnya bagaimana.

Kalaupun nanti hasilnya jelek kan bukan berarti novelnya jadi ikutan jelek. Karya yang memang sudah bagus dari sananya akan tetap bagus walaupun, pahit-pahitnya, diadaptasi menjadi film yang jelek.

Saya jadi ingat sebuah video di Youtube. Dalam video itu, Pramoedya Ananta Toer, sang penulis “Bumi Manusia”, sedang diwawancara. Si pewawancara bertanya kepada Pram, “Karya yang paling bagus menurut bung Pram Apa?”

Alih-alih menyebutkan salah satu karyanya, Sang Maestro malah menjawab seperti ini…

“Oh saya tidak pernah mempersoalkan bagus atau tidak. Tidak pernah. Itu semua anak-anak rohani saya. Mereka punya sejarah sendiri, dilepas dari saya. Karena itu, kalau ditanya hubungan antara karya saya dengan saya, saya tidak pernah jawab. Mereka itu anak rohani yang punya sejarahnya sendiri-sendiri. Ada yang mati muda, ada yang mungkin bisa hidup seterusnya. Itu di luar kekuasaan saya.”

Saya pikir jawaban Pram ini pas. Ketika sebuah karya sudah dilepas ke publik, biar saja nanti publik yang menanggapinya. Apakah akan dibiarkan mati atau dipertahankan untuk hidup seterusnya.

Siapa tahu dengan dijadikan film dan diperankan oleh Iqbaal justru membangkitkan rasa penasaran generasi muda seumurannya untuk mencari tahu lebih dalam karya-karyanya Pram. Itu kan efek yang bagus.

Maka, saya tidak mau ikutan mencibir Iqbaal. Lagipula, Pram juga sudah lama mengingatkan, “Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan.”

Ayo Baal, buktikan… Sehingga dalam pahitnya gelombang cibiran, kamu bisa berkata bahwa kamu telah berusaha sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.

Jangan berpikir bahwa ini berat, karena itu bagiannya Dilan. Ingat, sekarang kamu adalah Minke!

2 COMMENTS

  1. Asalkan jangan begini juga: banyak generasi muda yang pengen tau lebih lanjut soal Pram dan novel2nya, trus berburu yang bajakan/donlotan… pas Dilan kemaren kan rame tuh bajakannya ehe

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.