Ilustrasi lahan pertanian. (Photo by Ramadhani Rafid on Unsplash)

Rabu menjelang siang, 17 Agustus 1960, orang-orang berkumpul merayakan hari jadi Indonesia ke-15, di Istana Merdeka, Jakarta. Tepat di atas podium, Soekarno berdiri gagah membacakan pidatonya yang monumental “Laksana Malaekat djang Menyerbu Langit”. Menit-menit menjelang akhir, sang proklamator berseru, “Revolusi tanpa landreform adalah sama sadja dengan gedung tanpa alas, sama sadja dengan puhun tanpa batang, sama sadja dengan omong besar tanpa isi!”

Pidato tersebut bisa kita temukan di halaman 115, dalam buku keramat berjudul Panca Azimat Revolusi; Jilid II (KPG, 2104). Bertahun-tahun kemudian, jauh setelah Soekarno wafat dan ketimpangan pemilikan lahan kian melebar, lahir program necis bernama gerakan petani milenial yang diinisiasi oleh Kementerian Pertanian. Targetnya lumayan ambisius – meski jauh dari jumlah followers Raditya Dika – sekitar 2,5 juta petani pada 2024. Pemicunya hampir terdengar klise, yakni menurunnya minat muda-mudi Indonesia untuk terjun langsung ke tengah kubangan sawah.

Baca juga: BumiTani Cinematic Universe: Negeri Ini Butuh Pahlawan Pangan

Pemicu dari gerakan tersebut memang benar, dan terang membuat kita risau terhadap ketahanan pangan di hari mendatang. Bahkan menurut Bappenas, kemungkinan pada 2063 tak akan ada lagi profesi petani di negara kita yang dikenal agraris. Sangat miris. Tapi naas, eksekusi dari program gerakan petani milenial terkesan problematis.

Memang suram berharap pada jajaran pejabat yang mokondo alias modal konten doang. Mereka gagal menerjemahkan prediksi Bappenas secara utuh. Hasilnya, program dirancang atas asas bahwa yang menjadi kendala adalah selubung gengsi muda-mudi, ditambah perlunya integrasi teknologi demi kesesuaian dengan industri.

Padahal, persoalan mendasar dari apa yang dinubuatkan oleh Bappenas sama sekali bukan itu. Melainkan makin menyusutnya lahan pertanian, gejala urbanisasi yang kian marak, ditambah perpindahan minat profesi ke sektor jasa.

Baca juga: Cangkul Cangkul yang Dalam, Sampai Kapan Menanam di Lahan Orang?

Urusan pertama sudah menjadi borok yang tak lagi bisa ditutupi. Semua orang tahu bahkan lewat pemindaian sekilas, lumbung padi kita kian susut dari hari ke hari, beralih fungsi menjadi lahan properti dan industri. Bahkan berdasar data yang pernah dirilis BPS, paling tidak kita kehilangan 130.000 hektare lahan baku sawah tiap tahun.

Perkara urbanisasi? Makin rumit juntrungannya. Tapi jelas berkait-kelindan dengan peralihan minat ke sektor jasa.

Orang-orang beralih dari kampung ke kota, utamanya demi mencari penghidupan yang lebih cerah – kemudian kemudahan atas akses pendidikan, kesehatan, dan sebagainya. Begitu juga perpindahan minat kerja ke sektor jasa.

Ada satu urban legend, konon mayoritas jebolan kampus pertanian terkemuka (sebut saja inisialnya IPB) malah kerja di industri perbankan alih-alih menjadi petani. Mungkin, mereka juga lebih mahir menanam saham ketimbang padi. Ini pernah disindir pula oleh Presiden Jokowi di acara ulang tahun kampus tersebut.

Baca juga: Kerja Sesuai Passion, Jurusan, dan Gaji yang Diharapkan? Itu Halu, Kawan

Mimpi indah bocah-bocah kita dalam tiap lelap tidurnya adalah menjadi penyedia jasa hiburan kelas wahid. Disejajarkan dengan Atta Halilintar di YouTube, berkolaborasi dengan Awkarin di Instagram, perang konten dengan Sisca Kohl di TikTok.

Kenapa bisa begitu? Tidak sepenuhnya karena perubahan pola pikir, lho. Yang jelas dan tak bisa didebat lagi adalah persoalan kepemilikan tanah yang terkonsentrasi pada beberapa kelompok orang saja.

Dalam catatan akhir tahun 2019 milik Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), misalnya, ditemukan fakta bahwa ketimpangan penguasaan tanah di Indonesia mencapai 0,68 alias 1% penduduk menguasai 68% tanah.

Belum lagi, ancaman konflik agraria yang semakin tahun semakin menyedihkan. Datanya mudah kita akses di mesin pencari. Pokoknya, kalau dihitung secara matematis, memang lebih efisien jadi Youtuber, sih. Paling mentok dirundung warganet, ada masalah dikit bisa klarifikasi di podcast Om Deddy.

Artikel populer: Suara-suara Sarjana yang Bekerja Tak Sesuai Jurusannya

Dengan kata lain, gerakan petani milenial hanya menyelesaikan persoalan yang bergolak di permukaan. Tanpa distribusi lahan yang nyata dan merata, kita mungkin tetap bisa mencetak petani-petani muda untuk regenerasi. Tapi mbok ya mikir, kalau mayoritas nggak punya lahan sendiri, mau menanam padi di mana? Di Harvest Moon??

Kalau tren ini terus berlangsung, agaknya kita patut sedikit memodifikasi seruan Soekarno dalam pidato yang saya kutipkan di paragraf pertama tadi bahwa; “Tanpa reforma agraria total, gerakan petani milenial cuma membual!”

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini