Hospital Playlist 2. (tvN)

Because maybe
You’re gonna be the one that saves me
And after all
You’re my wonderwall

Generasi 90-an auto-nyanyi nggak, sih? Lirik di atas melekat pada lagu berjudul “Wonderwall”, salah satu lagu terpopuler Oasis. Lagu yang diciptakan oleh Noel Gallagher ini rilis pertama kali pada 1995. Anak muda pada masa itu merasa relate dengan lagu ini umumnya karena percintaan. Fun fact, lagu ini menurut Noel bukan tentang kekasih, melainkan teman imajiner. Nah loh, berasa kena prank.

Saya termasuk orang yang sulit menerima penjelasan bahwa “Wonderwall” bukan tentang ‘memikirkan seseorang sampai dada terasa nyeri’. Lagu ini, menurut saya, tepat menggambarkan kenapa jatuh hati bisa berdampak pada isi kepala, siang-malam mikirin si dia. Nggak mungkin banget kehadiran seorang teman imajiner bisa berdampak sedahsyat itu sampai yang dengar lagunya ikut luluh lantak, bantahan sok tahu saya waktu itu.

Tapi, setelah tekun menyimak hubungan antara Ik-jun dan Song-hwa di drama Korea Hospital Playlist 1 sampai 2, “Ini nih potret ‘Wonderwall‘ yang pas! Gue bisa terima ‘wonderwall‘ yang ini!”

Baca juga: BPJS Kesehatan dan Sosok Misterius di Drakor Hospital Playlist

Kata “wonderwall” sebenarnya sebuah metafora, yang artinya kurang lebih ‘seseorang yang selalu ada dalam pikiran kita’. Hmmm, arti metaforanya saja sudah multi-interpretatif, ya gimana nggak kecele para pemirsa.

Noel sendiri mendapat inspirasi lagu setelah menonton film Wonderwall (1968) yang dibintangi oleh Jane Birkin dan berperan sebagai protagonis bernama Penny Lane. Film ini bercerita tentang intip-mengintip yang intens. Entahlah bagaimana ceritanya sebuah film psikedelik berlatar kehidupan hippie khas tahun 60-an bisa menginspirasi Noel menulis lagu seperti “Wonderwall”.

Tapi, somehow, jika cerita dalam film, kisah dalam lagu, dilepaskan dari wujud fisiknya sebagai film dan lagu, baru deh sampai ke pemahaman bahwa perasaan manusia ya memang serumit dan selengkap itu.

Seperti yang terjadi pada Ik-jun dan Song-hwa di Hospital Playlist sejak season 1, kadang bikin hati teriris dan kepingin mereka jadian saja, tapi kadang berpikir sebaiknya tetap sebagai teman (meski saat terpikir begini pun ikut merasa nyeri).

Baca juga: Memangnya Bisa Ya Jatuh Cinta Tanpa Alasan?

Ik-jun dan Song-hwa bukan lagi tentang ‘aku cinta kamu’ atau ‘kamu segalanya bagiku’, mereka lebih dari itu. Konsistensi Ik-jun yang mengabdikan diri menjadi orang yang selalu membuat Song-hwa tertawa, menemaninya berjalan-jalan saat suntuk dan duduk di sebelahnya ketika Song-hwa yang buta nada memutuskan bernyanyi, benar-benar tak ada cela.

Dedikasi Song-hwa yang setiap saat terlibat dalam kehidupan Ik-jun pun selalu diberikan dalam porsi yang pas, memahami segala perilaku aneh Ik-jun dan membantu kerepotannya mengurus anak, Song-hwa selalu bisa dijangkau dan diandalkan.

Ik-jun dan Song-hwa, mereka adalah solusi untuk masalah satu sama lain. Bukan saling melengkapi atau saling membutuhkan, tapi tumbuh bersama, saling mendukung, dan meringankan beban satu sama lain dengan tanpa syarat. Ini letak keindahan yang lain dari hubungan Ik-jun dan Song-hwa.

Umumnya saat muncul perasaan cinta, inginnya segera diungkapkan kemudian perasaannya dibalas. Jika tak terbalas, muncul perasaan negatif seperti merasa diabaikan atau rendah diri. Perasaan cinta menjadi rumit karena menjadi beban, membuat orang lain jadi terbebani, menuntut dan menggugat.

Baca juga: Drama Nevertheless dan Filosofi Kupu-kupu dalam Hubungan Romantis

Jika kamu adalah Ik-jun atau Song-hwa, dan berada dalam situasi seperti mereka, akan menganggap sebagai berkah atau kesialan? Mereka terjebak dalam situasi yang dilematis selama 20 tahun sambil tetap berada di sisi satu sama lain.

Menjadi berkah karena pertemanan itu membuat mereka bertumbuh dan saling menjaga. Menjadi musibah karena Ik-jun menjalani pernikahan yang kemudian bubar karena diselingkuhi oleh istrinya, sementara Song-hwa diselingkuhi pacarnya. Mereka kembali single, berteman tapi cinta.

Nah, hubungan antara Ik-jun dan Song-hwa memiliki benang merah dengan lagu “Wonderwall” dan film Wonderwall. Benang merahnya adalah kata “ruang”. Dekat, tapi berjarak. Membersamai, tapi tak selalu nampak.

Di film Wonderwall, dinding apartemen menjadi ruang temu Oscar Collins – yang secara sadar menjadi seorang ‘peeping Tom’ alias tukang intip sekaligus penyelamat – dengan Penny Lane. Sedangkan di lagu “Wonderwall” ruang dibentuk oleh imajinasi tentang seseorang yang akan datang dan menyelamatkan kita dari diri kita sendiri.

Sementara itu, dalam hubungan Ik-jun dan Song-hwa, ruang yang menjadi tempat bertemu dan bisa hadir untuk satu sama lain tanpa saling membebani adalah pertemanan mereka.

Artikel populer: Benarkah ‘Fall in Love With People We Can’t Have’ Adalah Hal yang Sia-sia?

Ketika hubungan dianggap sebagai “ruang” dan bukannya relasi, keterkaitan, atau koneksi, maka beban untuk harus terus terhubung ini akan lenyap. Saat hubungan diperlakukan sebagai “ruang” dan menyediakan pintu untuk keluar-masuk, maka hubungan tersebut menjadi ruang temu bagi dua orang yang sebelumnya sudah memiliki ruang masing-masing (dan tidak saling mengganggu).

Hubungan sebagai sebuah relasi, keterkaitan, atau koneksi, cenderung saling membebani karena satu sama lain menjadi dependen. Sementara, hubungan yang dipahami sebagai ruang membuat orang-orang yang ada di dalamnya bertumbuh menjadi independen. Dalam hubungan yang independen “being loved” dibarengi dengan “being respect”.

Ik-jun menghormati dan menghargai Song-hwa, begitu juga sebaliknya. Saya rasa pada titik ini lah mengapa keputusan bertahan dalam friendzone selama 20 tahun menjadi keputusan yang masuk akal. Hubungan independen memungkinkan Ik-jun dan Song-hwa membangun relasi yang sehat, tak hanya di antara mereka, tapi juga dengan orang-orang di sekitarnya.

Tentu saja banyak penonton yang berharap Ik-jun dan Song-hwa melangkah lebih jauh, mendaftarkan pertemanan mereka ke catatan sipil. Membayangkan Ik-jun, Song-hwa, dan U-ju camping di gunung dan makan kepiting di akhir pekan sebagai keluarga yang pastinya seru abiss…

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini