Messi dalam Mitologi Yunani dan Esai Albert Camus

Messi dalam Mitologi Yunani dan Esai Albert Camus

Lionel Messi (The Hindu)

Namanya Lionel Andres Messi Cuccittini. Hidup pemain sepak bola itu seolah tentang bermain peran. Ini tercermin jelas dalam dua cerita berbeda yang dialaminya, baik di level klub maupun internasional.

Di level klub, megabintang yang lahir di Rosario, Argentina tersebut persis seperti Raja Midas. Seorang raja, yang dalam mitologi Yunani, mendapatkan keberuntungan karena berjumpa Dewa Dionysus.

Pada suatu masa, Silenus ditangkap oleh tentara Raja Midas akibat tersesat dan tak tahu arah jalan pulang. Menyadari bahwa Silenus adalah salah satu pengikut Dewa Dionysus, maka Raja Midas pun mengembalikan Silenus kepada Dewa Dionysus.

Dewa Dionysus pun senang bukan kepalang, sehingga mengabulkan satu permintaan Raja Midas. Raja Midas meminta agar segala yang ia sentuh berubah jadi emas. Karena Dewa Dionysus menepati janjinya, maka Raja Midas meraih sesuatu yang sebelumnya tak pernah ia kira.

Messi menemukan Dewa Dionysus dalam wujud Carles Rexach. Rexach, yang saat itu menjabat sebagai direktur olahraga FC Barcelona, melihat langsung bakat Messi di Argentina. Setelah itu, Rexach mengajak Messi bergabung dengan Barcelona. Di atas kain serbet, Messi menandatangani kontraknya.

Rupanya, keputusan itu tak hanya sekadar membantu Messi untuk proses penyembuhan hormon pertumbuhannya, melainkan juga membuat bakatnya sampai ke level terbaik. Ini didukung pula oleh lingkungan yang terbaik.

Messi melejit ke tim inti Barcelona lebih cepat dari prediksi. Kemudian, sejak 1 Mei 2005, Messi tak tergantikan karena sudah mencetak 383 gol untuk Barcelona.

Dari situlah, datangnya 32 gelar Messi untuk Barcelona, dengan empat di antaranya adalah gelar Liga Champions. Di sisi lain, Messi dinobatkan sebagai pemain terbaik dunia sebanyak lima kali oleh FIFA. Sungguh, karier sepak bola yang fantastis.

Meski begitu, Messi tidak – atau mungkin belum – berperan bak Raja Midas di level sepak bola internasional. Ia harus terima bahwa Tuhan memberikannya peran sebagai Sisifus di timnas Argentina. Sisifus, tokoh yang dalam esai filsafat Albert Camus, dihukum oleh para dewa dengan hukuman yang teramat berat.

Dalam cerita Sisifus, semua bermula dari niatan untuk memusnahkan dewa maut bersama dewa lainnya. Alih-alih sukses, dewa maut justru lepas dari belenggunya selama ini. Karena para dewa tak senang, maka Sisifus dihukum untuk hidup selamanya di dasar bumi.

Lebih buruk lagi, hukuman itu ternyata tak berhenti sampai di situ. Sebagai bagian dari hukumannya, Sisifus ditugaskan untuk mendorong sebuah bongkahan batu raksasa – mungkin seperti batu yang menggelinding dari puncak gunung – yang menuju ke permukaan bumi hingga akhir masa.

Untuk menambah rasa perih, setiap kali Sisifus membawa batu itu ke atas, batu ini lagi-lagi turun. Ia terus berusaha, memulai lagi dan lagi. Sesuatu yang menjengkelkan.

Begitu juga dengan Messi. Ia sudah terlampau sering memikul Argentina seorang diri karena keinginannya. Namun, pada akhir cerita, Messi selalu harus kembali berjuang dari titik nol, selayaknya Sisifus yang dihukum akibat niat awalnya.

Kembalinya Messi ke titik semula tak bisa kita lepaskan dari dua masalah. Pertama, masalah kualitas pemain Argentina yang tak sebagus di Barcelona. Kedua, pelatih yang tak paham harus diapakan Argentina ini.

Pada 2014, Messi punya andil besar dalam membawa Argentina ke final Piala Dunia. Namun, sayangnya, ia harus tertunduk lesu di laga final, karena penyerang-penyerang yang lain tak sesigap dirinya. Ujung ujungnya, Messi hanya bisa membawa pulang trofi Pemain Terbaik.

Pada 2015, Messi punya kesempatan untuk menyudahi penderitaannya. Di Piala Amerika, Messi dan Argentina bisa sampai ke final, karena tak mengalami satu kekalahan pun.

Sialnya, apa yang terjadi pada 2014 harus terulang. Rekan-rekannya tak mengerti apa yang harus mereka lakukan, dan pada akhirnya Argentina kalah 1-4 dari rimnas Chili dalam babak adu penalti. Pada 2016, Messi cs kembali kalah dalam babak adu penalti dari Chili di final.

Dan, penderitaan itu lagi-lagi terjadi dalam Piala Dunia 2018. Nahasnya lagi, peluang Argentina masuk ke babak 16 besar nyaris tertutup rapat. ‘Tim Tango’ hanya memetik satu poin dari dua laga di babak grup.

Yah, jadi begitulah. Sebagaimana yang disebut di awal, hidup adalah soal bermain peran. Dan, jika pesepak bola sehebat Messi saja harus melakoni peran yang tak ia sukai, apalagi kita? Mungkin, hal-hal seperti itulah yang membuat hidup ini adil.

Aih, superb sekali…

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.