Meski Tampak Progresif, Hipster Bisa juga Dilihat sebagai Penjajah Modern

Meski Tampak Progresif, Hipster Bisa juga Dilihat sebagai Penjajah Modern

Ilustrasi (StockSnap via Pixabay)

Melissa Tandiwe Myambo, Research Associate, Centre for Indian Studies, University of the Witwatersrand

***

Dari Maboneng di Johannesburg, Afrika Selatan ke Bandra di Mumbai, India; dari Neukölln di Berlin, Jerman sampai Gulou di Beijing, Tiongkok dan dari Crown Heights di Brooklyn, Amerika Serikat sampai Hackney di London, Inggris; kelompok hipster ada di mana-mana.

Penampilan mereka yang khas – jenggot untuk para pria dan jaket tipis retro untuk para perempuan – dan mereka juga memiliki selera konsumen yang sangat khusus.

Tren saat ini adalah kegandrungan mereka terhadap campuran antara keju krim dan pewarna makanan yang disebut sebagai roti panggang unicorn dan memang terlihat sangat bagus sih di Instagram. Hal-hal ini tentu membuat hipster menjadi suatu aliran subkultur yang begitu menonjol di masyarakat.

Para hipster sering dikaitkan dengan bidang kesenian, bidang kreatif lain serta industri teknologi. Kebanyakan dari mereka profesional milenial dari kelas menengah.

Berdasarkan penelitian saya, kaum hipster juga dianggap progresif secara sosial, sebab mereka seringkali terafiliasi dengan gerakan-gerakan politik dan budaya progresif yang dibangun di atas ideologi liberal seperti anti-rasisme.

Mereka adalah para pejuang lingkungan. Mereka memperjuangkan hak-hak perempuan. Dan, banyak dari mereka yang mengikuti diet vegan.

Namun, studi lapangan yang saya lakukan juga menunjukkan bahwa fenomena para hipster adalah sebuah paradoks. Mereka bisa saja terlihat progresif, tapi sebenarnya mereka juga menunjukkan praktik dan ideologi yang paralel dengan para penjajah dari abad sebelumnya.

Baca juga: Punk Tak Lagi Berideologi Kiri, Sebagian Menjadi Islami

Penelitian saya atas proses mengglobalnya budaya hipster (hipsterifikasi) – melalui strategi mereka membeli lahan murah di lingkungan perkotaan yang kurang makmur (gentrifikasi) – fokus pada apa yang terjadi setelah proses gentrifikasi yang dilakukan oleh kelompok ini.

Saat-saat perkampungan itu dikuasai hipster, para pengembang perumahan juga akan datang. Wilayah-wilayah tersebut menjadi lebih mahal dan tersingkirnya penduduk asli mengakibatkan kontroversi. Ini terjadi di negara maju dan berkembang.

Hubungan antara hipster dan penjajah, lebih dari sekadar metaforis. Kedua kelompok ini secara harfiah menyingkirkan penduduk yang lebih lemah.

Dalam kasus para hipster, penyingkiran yang mereka lakukan tersembunyi di balik klaim untuk mengadvokasi perkotaan inklusif. Namun, ada perbedaan yang besar antara retorika yang dipakai para hipster dengan kenyataan yang mereka lakukan dengan pola-pola gentrifikasi yang menyingkirkan penduduk asli.

Kesukaan kaum hipster dengan nostalgia, lebih dari sekadar pilihan busana mereka, tapi mirip dengan cara gerakan politik kanan kontemporer di seluruh dunia yang mengagung-agungkan masa lalu.

Membangkitkan masa lalu

Secara global, penggunaan nostalgia adalah cara umum yang dilakukan dalam lanskap politik dan budaya saat ini. Pendukung gerakan Brexit di Inggris ingin kembali ke masa sebelum imigrasi “menghancurkan” negara.

Slogan kampanye Presiden AS Donald Trump “Make America Great Again” atau “Membuat Amerika Hebat Lagi” mengacu pada suatu era di masa lalu di mana AS seolah-olah lebih “hebat.”

Baca juga: Kiri Kanan itu Apa sih, Kenapa Nggak di Tengah-tengah?

Partai nasionalis Hindu yang berkuasa menggunakan kebangkitan “kejayaan masa lalu India” untuk mendapatkan dukungan bagi program-programnya.

Sedangkan para partai nasionalis sayap kanan Eropa menggunakan pemikiran xenophobia atau ketakutan terhadap bangsa asing untuk mengelu-elukan suatu Eropa masa lalu yang seakan-akan lebih baik karena homogen secara budaya.

Budaya hipster juga menunjukkan kecenderungan memunculkan nostalgia yang sama. Seringkali rasa nostalgia tersebut mengingatkan akan periode kolonial, khususnya zaman Victoria.

Kecenderungan ini termanifestasi dalam berbagai bentuk. Dalam arsitektur, para hipster tertarik pada lingkungan kota dengan gedung-gedung era Victoria. Kafe dan ruang kerja bersama yang telah terkena pengaruh hipsterifikasi cenderung memiliki suatu estetika khas tersendiri yang terdiri dari dekorasi memorabilia dari abad ke-19 dan mesin industrial antik seperti mesin jahit tenaga pedal.

Bahkan, saat mereka tidak menggunakan kamera-kamera antik untuk mengambil foto, mereka menggunakan aplikasi dalam ponsel pintar mereka untuk memberikan kesan retro pada gambar yang dihasilkan.

Steampunk – suatu tren yang menggabungkan gaya Victoria dengan teknologi, film, sastra, mode, dan lainnya – sangat populer. Para pendiri sebuah perusahaan makanan bahkan telah menamakan merek mereka Sir Kensington, seorang penjajah fiktif era Victoria yang mereka bikin untuk memberikan sejarah yang menarik bagi perusahaan mereka.

Artikel populer: Kaum Sekuler dan Ateis yang Hidup di Indonesia

Para hipster juga dikenal dengan gaya fesyen eklektik. Banyak dari pilihan pakaian mereka terinspirasi pada era kolonial. Tidak jarang kita lihat hipster Afrika Selatan menggunakan bretel dan veldskoene, sejenis sepatu yang dulu diasosiasikan dengan gaya hidup para petani kulit putih masa lalu.

Di Amerika Serikat, gaya berpakaian ala pria perbatasan hiper-maskulin yang terdiri dari sepatu bot kerja, denim yang lusuh, dan kemeja kotak-kotak penebang kayu (lumberjack) dijuluki gaya lumbersexual. Gaya tersebut mengingatkan kita mengenai obsesi jenggot para laki-laki hipster, suatu simbol bagi pria di daerah perbatasan pada abad ke-19.

Ini semua mungkin tampak tidak berbahaya. Tapi saat nostalgia para hipster digabungkan dengan gaya gentrifikasi mereka, gaya hidup ini menempatkan orang lain dalam bahaya.

Suatu tren berbahaya

Gentrifikasi dapat diromantisir oleh para hipster sebagai gaya hidup non-konvensional. Ketika mereka pindah ke lingkungan kota berpenghasilan rendah yang “liar,” dengan berpakaian seperti penjajah abad ke-19, para hipster seringkali memandang mereka sebagai “petualang” atau “pionir” yang menjelajahi belantara urban yang belum tersentuh.

Namun, cara pandang ini menyembunyikan dampak hipsterifikasi terhadap para penduduk berpenghasilan rendah yang harus meninggalkan perumahan mereka.

Banyak hipster tidak mengenali gaya kolonial dalam praktik hipsterifikasi yang mereka lakukan. Bahkan, saat mereka ditunjukkan dampak yang mereka sebabkan, beberapa dari mereka menolak untuk menerima “rasa bersalah dari gentrifikasi”.

Para penduduk berpenghasilan rendah yang terusir dari lingkungan mereka tidak dapat menikmati kemewahan ini – bagi mereka yang tersisa hanya rasa nostalgia akan rumahnya yang lama.

Artikel ini berdasarkan buku baru, Reversing Urban Inequality in Johannesburg, (Membalikkan Ketimpangan Urban di Johannesburg) yang disunting oleh penulis. Buku tersebut diterbitkan dalam bentuk paperback pada November 2018 oleh Jonathan Ball.

Sumber asli artikel ini dari The Conversation. Baca sumber artikel.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.