Ilustrasi pasangan (Photo by Ba Tik from Pexels)

Setelah Dinda Hauw dan Rey Mbayang menikah, muncul poster film religi yang dibintangi oleh keduanya. Surprisingly predictable. Industrialis film pasti mencium potensi cuan dari viralnya kisah cinta pejuang taaruf ini.

Selanjutnya, jatuh cinta halal ala Rey Mbayang untuk Dinda Hauw tersebut, disulap menjadi sebuah lagu cinta bertajuk “Di Sepertiga Malam” dan trending di Youtube. Rasa sayang tersampaikan, dapat adsense pula.

Melihat berkah yang didapat Dinda dan Rey setelah menikah, Prilly Latuconsina dan Reza Rahadian mencoba peruntungan yang sama. Prilly mengunggah foto pakai baju pengantin bersama Reza Rahadian. Caption yang ditulisnya pun cukup tricky. Apakah mereka menikah? Oh, tentu tidak. Ternyata itu gimmick untuk film terbaru mereka. Caption di foto adalah sinopsis filmnya nanti.

Mungkin niatnya mau parodiin Dinda Hauw dan Rey Mbayang biar ikutan viral. Padahal, kalau mau parodiin Dinda dan Rey, Reza tinggal komen di Instagram Prilly, “Sayang, tadi aku tidurnya ileran, nggak?” Terus, Prilly balas, “Kamu tidurnya acting, sayang. Sutradara bilang ‘cut’, kamu bangun.”

Baca juga: Nikah Usia 16 Tahun Dipamerin, ‘Influencer’ kok Gitu?

Atau, Prilly bikin instastory Reza sedang ngangetin sayur di dapur. Diimbuhi caption, “Hehehe. Aku belum bisa masak, guys. Masak nasi dan mie instan aja belum bisa. Akhirnya malam pertama kita makan daging sisa prasmanan.”

Dinda dan Rey yang jatuh cinta dan pamer kemesraan, bikin netizen merasa cringe. Supaya tidak cuma membuat netizen julid, Rey Mbayang cukup strategis mengeluarkan single. Akhirnya euforia jatuh cinta menjadi sebuah karya.

Namun, lagu bertema perayaan cinta mungkin tidak cocok didengarkan oleh mereka yang sedang merasakan hal sebaliknya. Bisa menimbulkan rasa dengki ketika mendengarkan liriknya yang kontradiktif dengan perasaan.

Sebab itu, orang yang patah hati pun berhak menjadi produktif dengan berkarya untuk membangkitkan semangat kaum sadboys dan sadgirls. Seperti yang dilakukan oleh Lesti Kejora dengan merilis lagu dangdut “Kulepas dengan Ikhlas”.

Baca juga: Menjadi ‘Survivor’ Patah Hati, Termasuk dari Teman yang Positif tapi Beracun

Lagu “Kulepas dengan Ikhlas” yang dinyanyikan Lesti disebut-sebut sebagai bentuk move on dari patah hati ditinggal nikah oleh sang mantan. Tak hanya berani datang ke nikahan mantan untuk menunjukkan keikhlasan, Lesti sampai membuat pernyataan tersurat dengan menyanyikan lagu bernada legowo ini. Bahwa ia telah merestui sang mantan untuk menempuh hidup baru dan mendoakan yang terbaik untuk kedua mempelai.

Lagu Lesti bisa menjadi inspirasi para sobat ambyar untuk mulai mengikhlaskan mantan yang nikah duluan. Terlebih, dijadikan motivasi untuk menyulap patah hati menjadi karya yang bisa dimonetisasi.

Namun, jangan jadikan tuntutan untuk menjadi produktif di segala kondisi sebagai kewajiban, nanti malah jadi beban. Tentu saja, kita tetap berhak menikmati momen sedih sendirian di ruang privat, tanpa melakukan apapun selama beberapa waktu. Sembuh dari luka hati saja sudah lebih dari cukup, kok.

Baca juga: Tanda-tanda Relasi yang Sehat, Berkaca dari The King: Eternal Monarch yang Uwu-uwu

Ditinggal nikah oleh mantan bisa menjadi salah satu momen tersedih dalam hidup seseorang. Apalagi, kalau belum sepenuhnya move on. Namun, ditinggal nikah oleh mantan juga bisa menjadi titik balik dan alasan yang tepat untuk merelakannya. Janur kuning sudah melengkung. Mari, kembali mencari cinta baru yang proper dan menjadi produktif selama bendera kuning belum berkibar.

Sementara, mereka yang telah menikah dituntut lingkungan untuk produktif dan reproduktif. Nah, yang bagian reproduktif ini lebih rumit, karena melibatkan faktor kuasa Ilahi. Sedangkan manusia hanya bisa berikhtiar.

Suami-istri didorong untuk beranak-pinak melalui proses prokreasi. Jika belum berhasil pamer test pack dua garis biru di instastory, jadi pertanyaan dan beban. Ketika ketemu siklus mens, seorang istri bisa menangis. Beda dengan Dara di film Dua Garis Biru yang justru nangis karena hasil test pack-nya positif.

Artikel populer: Seandainya Bima dan Dara Anak Twitter, lalu Bikin ‘Thread’ 18+

Kadang, saking ngoyo prokreasi, pasutri sampai lupa bersenang-senang alias rekreasi. Melakukan hubungan suami-istri terasa seperti proses produksi yang mematok target. Bukan lagi perayaan cinta seperti yang diidamkan sebelum menikah. Padahal, rumah tangga bukan pabrik bayi.

Saking peduli dengan omongan tetangga dan handai taulan, sampai lupa mendengarkan isi hati. Meninggalkan hobi karena fokus membuat buah hati dan mengidamkannya setengah mati.

Sampai lupa pula bahwa kegiatan proaktif dalam rumah tangga tidak melulu melahirkan anak manusia. Bisa juga melahirkan anak perusahaan. Membesarkan usaha bersama pasangan bisa dilakukan untuk mengisi waktu menunggu dianugerahi momongan. Jadi, ketika anak lahir di kemudian hari, dia terlahir dengan privilese sebagai anak pengusaha.

Sebab ketika ditanya “Kapan punya anak?”, sesama manusia tidak bisa menjawabnya. Pertanyaan tersebut hanya bisa dijawab oleh Sang Pencipta. Kalau memang mau tahu banget jawabannya, silakan menghadap dan tanya langsung ke Tuhan.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini