Ilustrasi (Image by Kristin Baldeschwiler from Pixabay)

Hari ini, kita bisa melihat penggunaan kata “betina” di dunia siber untuk merendahkan perempuan. Kata “betina” mengalami peyorasi sedemikian rupa, sehingga membuat orang yang mendapatkan label “betina” menjadi tidak nyaman dan sakit hati.

Beda halnya dengan sebagian masyarakat di Sumatera yang menggunakan kata “betino” sebagai bahasa sehari-hari untuk merujuk pada perempuan. Kata “betino” tidak menjadi hinaan, namun sebuah penjelasan.

Saya juga menemukan jurnal lama yang diterbitkan oleh Universitas 17 Agustus 1945 pada tahun 1997 berjudul “Betina, Wanita, Perempuan: Telaah Semantik Leksikal, Semantik Historis, Pragmatik”. Dalam jurnal tersebut dicontohkan dua ungkapan yang menggunakan kalimat: (1) Kamu ini kok cerewet banget sih. Urus saja diri sendiri. Ngapain tanya urusan orang segala. Dasar betina! (2) Winda benar-benar betina, yang nafsunya terlampau besar, hingga tak pernah puas hanya dengan satu lelaki suaminya itu.

Dari kedua kalimat di atas, kita bisa melihat bahwa orang tidak menyukai perempuan yang cerewet dan tidak menyukai perempuan dengan nafsu besar, sehingga mereka menggunakan kata “betina”. Lah, memangnya kenapa jika perempuan cerewet dan memiliki nafsu yang besar?

Baca juga: Mengapa Perempuan Sering Bikin ‘Thread’ tentang Pengalaman Kekerasan Seksual

Dari situ, kita bisa tahu bahwa orang yang menggunakan kata “betina” merasa kenyamanannya terusik. Biasanya, orang yang menggunakan kata “betina” untuk merujuk perempuan adalah lelaki misoginis yang tidak suka dengan eksistensi perempuan mengekspresikan diri apa adanya.

Lelaki misoginis seperti itu berupaya mengontrol perempuan. Ketika mereka gagal, mereka memanggil perempuan dengan sebutan “betina”. Bagi saya, panggilan “betina” menunjukkan bahwa saya berhasil membuat status quo dan privilese lelaki misoginis terusik.

Kata “jantan” memiliki konotasi positif, sementara kata “betina” dikaitkan dengan konotasi negatif dari dua kalimat tadi. Standar ganda, bukan??

Pada kenyataannya, perempuan yang bersuara dan melawan akan mendapatkan sederetan panggilan. Dan, perempuan yang memiliki nafsu seksual besar akan terus mengalami perundungan. Bukankah nafsu tersebut hak seksual setiap manusia ya? Perempuan juga punya nafsu, apa itu berarti perempuan tidak boleh mengakui nafsunya sendiri?

Baca juga: Ketika Perempuan Curhat Jadi Korban Fakboi

Kompleksitas kata “betina” sama halnya dengan kata “bitch”. Kata “bitch” sendiri memiliki arti anjing betina. Dipanggil “bitch” juga bisa menjadi kata hinaan bagi sebagian orang. Tetapi, bagi sebagian perempuan lain, mereka merebut kembali kata “bitch”. Mereka bangga menggunakan kata “bitch”, karena mereka tidak akan membiarkan lelaki mengontrol dan mengatur-atur hidupnya.

Hingga akhirnya, mereka merebut kembali kata “bitch” sebagai akronim dari “Babe In Total Control of Herself” atau “Being In Total Control, Honey”. Bahkan, ada pula media daring yang menamai dirinya Betches dan artikel mereka semua isinya tentang perlawanan.

Jika kamu cari di internet, banyak perempuan yang berani mengklaim kembali kata “bitch” dan menggunakannya dalam budaya populer. Bahkan, terdapat deretan buku yang memakai kata “bitch” pada judulnya.

Aktivis perempuan, Gloria Steinem juga menyerukan perempuan untuk menggunakan kata “bitch”. Sebab perempuan menjadi takut untuk asertif dan cenderung mengambil peran pasif dan submisif. Sedangkan lelaki yang berani asertif malah dipuji. Ini kan juga standar ganda.

Bitch” pun bisa menjadi kata untuk mendeskripsikan pertemanan perempuan yang asyik dan seru.

Baca juga: Sebab Guyonan Seksis Pejabat adalah Pandemik

Tentu bukan kata “bitch” saja yang diklaim kembali. Kata “queer” asalnya juga dari sebuah panggilan hinaan terhadap orang homoseksual yang pertama kali digunakan oleh the Marquess of Queensbury pada 1894. Tentu ada yang tersinggung, ada yang tidak. Kata “queer” sendiri artinya aneh dan tidak normal. Namun, kata “queer” diadopsi oleh komunitas LGBT pada tahun 1990 dalam semangat gay pride untuk melawan kekerasan terhadap homoseksual.

Kini, kamu bisa menemukan sederetan orang dengan bangganya menyebut mereka “Queer”, bahkan kamu bisa menemukan ilmu pengetahuan queer atau queer studies. Kamu juga bisa melihat judul acara bernama Queer Eye.

Bagi saya, dipanggil “betina” memiliki arti perlawanan. Saya memang tidak mengizinkan lelaki mengatur saya. Dan, jika kata “betina” disematkan kepada saya, memang mau apa? Saya memang betina. Saya memang melawan dan tidak akan tunduk.

Kamu bisa saja ingin menghina hanya karena saya melakukan hal yang tidak disukai oleh banyak orang, yaitu lantang bersuara. Namun, memutuskan untuk menghina seseorang menunjukkan bahwa kepercayaan dirimu sendiri sebagai lelaki itu lemah.

Artikel populer: Pengalaman Pertama Pakai Menstrual Cup, Melawan Stigma Bikin Kendor Vagina

Memanggil perempuan dengan sebutan “betina” hanya karena tidak mengikuti konstruk sosial yang menyudutkan perempuan, justru menunjukkan karaktermu yang asli, yaitu misoginis, seksis, dan tentu aja penganut patriarki.

Kita tidak perlu takut mengusik orang lain hanya karena mengekspresikan diri apa adanya. Tidak tunduk mengikuti konstruk sosial yang diciptakan masyarakat patriarkal. Perempuan memiliki kebijaksanaan yang luar biasa. Dengan kebijaksanaan itu, lahirlah perjuangan untuk kehidupan yang lebih baik.

Jika harus dipanggil “betina” karena memperjuangkan hak, maka panggil lah saya “betina”. Tenang saja, saya tidak ada keinginan untuk menjadi istri idaman para lelaki misoginis kok. Toh, mereka juga tidak akan mampu bertahan dengan perempuan yang berani ekspresikan tuntutan isi nurani dan akal.

Berani Ekspresikan Tuntutan Isi Nurani dan Akal = BETINA.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini