Ilustrasi perempuan (Photo by cottonbro from Pexels)

Mencibir tubuh perempuan yang dianggap tidak sesuai ‘standar kecantikan’ seakan tak ada habisnya. Tidak hanya dilakukan oleh laki-laki, sesama perempuan juga masih sering nyinyir.

Sebelum ada ocehan seorang influencer perempuan soal ‘polusi visual’, kita bisa saksikan bagaimana tubuh perempuan terus-terusan dirisak, dipermalukan di hadapan publik. Bukan cuma di Indonesia, tapi di seluruh dunia.

Masih ingat unggahan Fahrani, pemeran dalam film Radit dan Jani, yang sempat ramai di Instagram? Unggahan yang penuh komentar nyinyir bin julid dari nitijen soal tato dan tindik di tubuh Fahrani. Para warganet ini menilai Fahrani terlalu bebas mengekspos tubuhnya. Mereka menganggap Fahrani tidak menarik lagi untuk dipandang. Hanya menjadi polusi mata, kata mereka.

Untungnya, Fahrani adalah orang yang merasa merdeka akan tubuh dan jiwanya, jadi beragam komentar toksik mungkin hanya dianggap sebagai sampah. Tapi, bagaimana jika terjadi pada orang lain, misalnya saya, yang rentan terhadap perlakuan tersebut?

Seriusan deh, kemerdekaan atas tubuh sendiri ternyata penting banget. Bisa membangun kepercayaan diri dan jiwa yang lebih sehat.

Baca juga: 3 Hal Penting Agar Kamu Tak Menjadi Pelaku Body Shaming

Selama ini, banyak perempuan yang menganggap bahwa mereka tak lagi punya hak atas tubuhnya sendiri, terutama setelah menikah. Mau potong rambut saja takut dimarahin suami, mau pakai baju dengan model tertentu saja harus seizin suami. Alasannya karena tubuh dan hidupnya sudah menjadi milik suami. Apa-apa mesti lapor. Lah, itu rumah tangga atau rumah tahanan?

Di media sosial juga sama, orang-orang yang bahkan tak dikenal secara personal suka mengatur-atur penampilan orang lain. Berusaha ingin mengontrol tubuh seseorang, terutama perempuan, yang sering kali diawali dengan cibiran.

Semisal, pada apa yang dialami Fahrani tadi. Ada yang bilang bahwa pantas saja peraih Piala Citra untuk Aktris Terbaik FFI 2008 tersebut tak lagi main film karena penampilannya sudah tak sedap dipandang mata. Itu bukan hanya mengecilkan kemampuan akting Fahrani, tapi jelas menempatkan dia sebagai objek belaka.

Di dunia hiburan sendiri, cara pandang ala male gaze tersebut memang masih kental. Memposisikan perempuan sebagai subordinat, apakah enak dipandang atau tidak, tentunya sesuai dengan pandangan laki-laki patriarkis.

Baca juga: Tara Basro dan ‘Body Positivity’ sebagai Perlawanan yang Revolusioner

Meski sudah banyak konten, entah film atau lainnya, yang mengangkat tokoh perempuan, tapi tetap saja male gaze begitu dominan. Male gaze ini semacam pandangan laki-laki yang menganggap perempuan sebagai objek seksual. Hanya untuk menyenangkan penglihatan si lelaki hetero.

Semisal di film superhero, mulai dari Wonder Woman, Captain Marvel, Mulan, hingga Sri Asih dari Jagat Bumilangit tetap menjadi gambaran nyaris sempurna ala male gaze. Perempuan-perempuan yang dianggap cantik dan bertubuh molek, seolah kekuatan mereka belum cukup super tanpa itu.

Bukan, bukan menihilkan perempuan menjadi superhero, tapi peran male gaze di industri ini begitu besar. Lagi-lagi, perempuan dijadikan objek sensualitas. Perempuan yang berkulit terang, cantik, seksi, good looking menurut gambaran para lelaki.

Celakanya, banyak perempuan yang terpapar pikiran seperti itu. Tak heran, muncul ocehan soal ‘polusi visual’ dari seorang influencer perempuan tadi, dan para nitijen yang menganggap Fahrani tidak menarik lagi, karena tubuhnya dipenuhi tato.

Baca juga: Bercinta dengan Tubuh Sendiri, Kenapa Tidak?

Di Hollywood, Megan Fox pernah mati-matian bertahan di industri film dengan berusaha menyodorkan kemampuan aktingnya kepada para sineas. Namun, para sineas tetap saja menganggap Megan sebagai seorang aktris yang cantik dan seksi.

Ketika bermain di film Transformers, meski karakter Mikaela Banes yang diperankan oleh Megan Fox cukup kuat, yakni seorang perempuan yang paham mekanik (dunia yang didominasi oleh para lelaki), Megan tetap menjadi objek belaka – sebagai pemanis dan pelengkap film, karena ia hanya perlu terlihat ‘cantik dan seksi’.

Just be sexy.” Itu jawaban yang diterima oleh Megan Fox ketika bertanya – harus menjadi siapa, apa, dan bagaimana – kepada Michael Bay, sutradara film Transformers.

Megan sendiri mengakui bahwa pada akhirnya ia tidak nyaman karena hanya dilihat sebagai simbol seks, bukan sebagai seorang yang mampu berakting. Protesnya kepada Michael berujung pada pemecatan Megan dari proyek film Transformers berikutnya.

Yang aneh, berita-berita di beberapa media, terutama di Indonesia, menyebutkan bahwa Megan Fox dipecat karena (konon) ucapannya yang menyebut Michael Bay seperti Hitler dalam mempekerjakan dirinya dalam proyek film Transformers. Ucapan itu membuat Steven Spielberg sang produser eksekutif tersinggung hingga menyuruh Michael untuk memecat Megan, meski belakangan Spielberg membantahnya.

Artikel populer: Di Balik Cibiran soal Ketiak Hingga Selangkangan yang Menghitam

Sebenarnya perkara Michael Bay yang hanya melihat Megan Fox sebagai simbol seks bisa dilihat saat mereka terlibat dalam film Bad Boys II. Dalam film tersebut, Megan yang kala itu masih berusia 15 tahun diminta untuk memakai bikini dan high heel setinggi 6 inci, lalu disuruh menari di bawah air terjun. Sudah pakai bikini, masih dibikin basah kuyup pula. Kayak gini masa mau dibilang Megan sebagai subjek? Apa namanya kalau bukan objek?

Makanya, saat Megan protes kelakuan Michael Bay di film Transformers, Megan sempat mendapat surat yang menyebutkan bahwa seharusnya ia bersyukur bisa diajak terlibat dalam film tersebut. Jika tidak, Megan dinilai bisa apa sih, selain jadi bintang film porno.

Duh, segitu parahnya male gaze.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini