Ilustrasi. (Image by SeaReeds from Pixabay)

Sheila on 7 menulis lagu tentang patah hati. Ed Sheeran menulis lagu tentang mantan kekasih. Banyak artikel di internet yang membuat daftar berisi 50 atau 100 lagu terbaik yang layak menemanimu selepas putus cinta. Namun, di atas semua fakta tersebut, Taylor Swift telanjur dicap sebagai penyanyi yang paling banyak menulis lagu dari kisah cinta masa lalunya.

Kamu mungkin mengenalnya dari lagu “Style” yang konon berkisah soal Harry Styles. Atau, “Back to December” yang kabarnya dibuat untuk Taylor Lautner. Atau, lagu yang dirilis ulang dalam versi 10 menit “All Too Well”, yang dipercaya merupakan karya tentang cerita cintanya dengan Jake Gyllenhaal. Yang mana saja lagu yang pertama kali kamu dengar, coba telaah informasi ini: ada lebih banyak lagu Taylor Swift yang bukan berisi tentang patah hati atau mantan pacar.

Baca juga: Survivor Patah Hati, Termasuk Ditinggal Pas Lagi Sayang-sayangnya

Contoh acak bisa kita sebut di sini. Di album Speak Now, misalnya, hanya ada 6 lagu patah hati dari total 17 lagu (Back to December, Dear John, The Story of Us, Haunted, Last Kiss, dan If This Was A Movie).

Dalam Fearless (Taylor’s Version), perbedaannya bahkan lebih besar: ada 9 lagu patah hati dari total 26 lagu (The Other Side of the Door, White Horse, You’re Not Sorry, Forever & Always, You All Over Me, Mr. Perfectly Fine, We Were Happy, That’s When, dan Don’t You).

Lantas, kenapa Taylor Swift harus diberi cap sebagai penyanyi dan penulis lagu yang hanya mengisahkan cerita soal mantan pacarnya?

Baca juga: Pacaran Lama-lama Terus Putus, Rugi Nggak sih?

Jawaban sederhana: Kita lebih banyak mendengar lagu-lagu tentang kegagalan cintanya. Apalagi, Taylor Swift berhubungan dengan pria-pria yang namanya tak kalah besarnya. Beberapa di antaranya sudah disebut di awal tulisan, termasuk John Mayer, Joe Jonas, dan Calvin Harris.

Dalam suatu kesempatan, Swift menyebutkan bahwa ia mengaburkan identitas orang yang ia kisahkan dalam lagunya. Tentang siapa lagunya bercerita, selama ini hanya merupakan spekulasi para pendengar. Bagi Swift, lagu-lagunya adalah ‘miliknya’ bertahun-tahun lalu, tetapi menjadi ‘milik publik’ saat ini.

Untuk alasan itulah, ia enggan menyebut untuk siapa lagu ini ditulis. Setiap orang yang mendengar lagu-lagu patah hatinya pasti memikirkan seseorang di kepalanya, dan tepat begitulah yang Swift inginkan. Meski terdengar naif, itu pula yang mendorong beberapa orang menulis tentang pengalaman cintanya yang gagal.

Baca juga: Memangnya Bisa Ya Jatuh Cinta Tanpa Alasan?

Kamu mungkin membaca beberapa puisi, esai, artikel, twit, atau caption berbau kesedihan dari seseorang yang baru saja mengakhiri hubungannya atau terpaksa menghentikan jalinan asmaranya. Banyak buku yang lahir dari sakit hati, kecewa, dan luka. Nyatanya, karya-karya semacam itu tidak semata-mata lahir sebagai upaya sindir-menyindir, melainkan cara paling dekat untuk menyembuhkan diri sendiri dengan mengeluarkan ‘racunnya’ satu per satu. Royalti, sih, cuma bonus.

Apakah menulis perihal mantan dan hubungan yang gagal harus selalu diidentikkan dengan perilaku playing victim, seperti yang kerap dituduhkan pada Taylor Swift?

Sebuah cerita selalu punya lebih dari satu sudut pandang. Hanya karena kita mendengar dari sebuah perspektif, bukan berarti perspektif tersebut harus diberi cap “lebay”, “dramatis”, atau “mencari pembenaran”.

Artikel populer: Plus Minus Mencintai Pasangan Ala Marx dan Sartre

Begitu pula dengan pihak yang tak bersuara; ia tak selalu sepenuhnya benar atau sepenuhnya salah. Dalam hal menulis pengalaman cinta, aturannya sama seperti bagaimana cinta itu pernah terjalin: tidak ada yang sempurna, baik kamu, saya, atau kita yang pernah terikat status.

Jadi, lagu, tulisan, atau karya apa pun yang dibuat seseorang yang baru terluka tidak sepenuhnya harus kamu kritik atau ejek. Apalagi, jika ia sudah berusaha keras menutupi identitas yang terlibat di dalamnya dan hanya sedang merayakan lukanya sendiri.

Beberapa orang memang melepaskan sesuatu – atau seseorang – dengan cara yang unik, termasuk mengingatnya lekat-lekat lebih dulu. Selagi ia tak mengusik privasi, menguntit, menyebarkan fitnah, mengirim ancaman, atau perilaku tak menyenangkan lainnya, kenapa pula harus kamu ganggu prosesnya?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini