Drama It's Okay to Not Be Okay (Netflix)

Ada kalanya generasi kekinian mengalami gangguan kecemasan. Sebelum tidur baca doa, tapi justru malah nggak tidur-tidur sampai pukul tiga pagi karena memikirkan masalah. Sebenarnya isu kecemasan ini bisa dijawab dengan sebuah drama Korea hanya dengan judulnya saja: It’s Okay to Not Be Okay. Tak mengapa jika tidak baik-baik saja.

Kita tidak perlu mengikuti anjuran Anji untuk “jangan lupa senyum hari ini”. Sebagai manusia yang punya beragam bentuk emosi, ada hari ketika senyum saja sulit. Tidak mengapa untuk cemberut hari ini.

Seruan untuk jangan bersedih dan selalu cengengesan seperti yang digaungkan Anji, justru bisa melukai perasaan mereka yang sedang ada masalah. Apa salahnya bersedih? Bersedih saja masih disalahkan, nanti malah tambah sedih. Sebab bersedih itu perlu dan penting. Jadi, sempatkanlah untuk bersedih. Agar kelak bisa bergembira dengan telak.

Baca juga: It’s Okay jika Tak Punya Keluarga yang Okay

Dalam drakor It’s Okay to Not Be Okay, tokoh utamanya berprofesi sebagai penulis buku anak-anak. Walaupun bergelut dalam dunia anak, penulis ini tidak ramah dengan anak. Terlihat ketika ada anak perempuan yang minta foto dengannya, ia justru membuat si anak menangis dan lari ketakutan.

Apakah judul It’s Okay to Not Be Okay adalah pemakluman untuk karakteristik tokoh utamanya yang terkesan nggak oke? Sebagai idola, dia seharusnya menjaga personal branding seperti figur publik pada umumnya. Alih-alih pencitraan bersikap baik kepada fans, dia malah tampil galak dan menakutkan. Secara tersirat, dia pun mengaku sebagai psikopat kepada seorang perawat.

Genre drakor ini memang psycho yang memiliki tema healing romance dengan topik kesehatan mental. Berkisah tentang seorang perawat di bangsal psikiatris yang bertemu dengan penulis yang memiliki gangguan kepribadian karena trauma masa kecil. Di sini, keduanya intens tatap-tatapan mata demi menghabiskan durasi dramanya yang mencapai satu jam setiap episode.

Baca juga: Benang Merah Kematian Goo Hara, Sulli, dan Perempuan di Negeri Ini

Goals-nya sang perawat bisa menyembuhkan luka psikis sang penulis dengan sentuhan cinta. Cinta yang tak hanya menyatukan, tetapi juga memulihkan luka. Idealnya sih sembuh dulu, lalu berkomitmen menjalin hubungan. Soalnya kalau salah satu pihak masih sakit, dipaksa berasmara, malah jadi toxic relationship.

Tokoh perawat punya kakak yang spesial (berkebutuhan khusus). Sang kakak kebetulan mengidolakan si penulis buku yang psikopat tadi. Sang perawat pun berjanji kepada kakaknya, “Nanti aku minta tanda tangan penulis idolamu itu, hyung!” Benar saja, perawat itu dapat tanda tangan dari sang penulis, tapi digores pakai pisau.

Kendati kepribadiannya tampak tidak baik-baik saja, sang penulis terbilang sukses di bidangnya karena memang karyanya sungguhlah keren. Di episode pertama, sang penulis sempat membacakan dongeng berjudul “Anak Laki-laki yang Penuh Ketakutan” untuk anak-anak di rumah sakit jiwa.

Baca juga: Menjadi ‘Survivor’ Patah Hati, Termasuk dari Teman yang Positif tapi Beracun

Dongeng tersebut berkisah tentang bocah yang selalu mimpi buruk. Mimpinya berisi kenangan traumatis di masa lalu. Memori yang ingin dilupakannya itu justru terus-menerus mengganggunya. Seiring waktu, anak lelaki itu tumbuh dewasa. Walaupun tak bermimpi buruk lagi, ia justru tidak bahagia sedikit pun.

Usut punya usut, ternyata anak lelaki itu membuat perjanjian dengan penyihir (simbol toxic positivity). Ia minta tolong kepada sang penyihir untuk menghapuskan kenangan buruknya. Supaya hidupnya lebih positif. Sebagai imbalannya, sang penyihir berhak mengambil jiwa anak itu di waktu yang dijanjikan.

Ketika menagih janji kepada sang anak lelaki, penyihir pun menjelaskan bahwa kenangan buruk itu pelengkap hidup manusia. Rasa sakit, penyesalan, merasa terluka dan terbuang itu manusiawi.

Orang yang tumbuh bersama dengan kenangan-kenangan itu akan menjadi lebih kuat dan bersemangat dan mudah menyesuaikan diri. Orang seperti itu yang bisa mendapatkan kebahagiaan.

Artikel populer: Manusia Tidak Dirancang untuk Bahagia, Jadi buat Apa Mengejar Kebahagiaan?

Dongeng di atas mewakili judul drakor It’s Okay to Not Be Okay ini. Memiliki kenangan buruk tidaklah buruk. Pernah terluka di masa lalu bukanlah hal yang ganjil. Merasa tidak baik-baik saja justru sesuatu yang baik.

Ketika seseorang menghilangkan salah satu perasaannya, misalnya kesedihan, ia justru tidak bisa mengalami perasaan yang sebaliknya, yaitu kegembiraan. Bagaimana bisa seseorang mengenal kebahagiaan hakiki, jika tidak pernah sedih sebelumnya?

Animasi Inside Out pernah menggambarkan hal tersebut ketika karakter Joy mengalienasi Sadness sampai akhirnya keduanya terbuang. Membuat Riley si anak manusia yang kehilangan rasa sedih dan senang menjadi heartless. Di akhir cerita, barulah Joy sadar bahwa peran Sadness sangat penting bagi keberlangsungan hidup Riley di lingkungan sosialnya.

Kesedihan diperlukan manusia dalam mengekspresikan perasaannya. Tidak perlu mati-matian menyembunyikannya. Supaya lingkungan tahu bahwa seseorang sedang tidak baik-baik saja dan butuh bantuan. Tapi nggak toxic positivity.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini