Ilustrasi musik (Image by Free-Photos from Pixabay)

Belakangan, banyak obituari tentang Didi Kempot yang sering kali menyebutkan bahwa campursari adalah warisan sang maestro. Jujur, saya ragu. Bukan soal aspek kemaestroannya, tapi aliran musiknya.

Pada awal milenium kedua, musik campursari pernah populer dan setara dengan genre musik nasional lainnya. Namun, seiring pesatnya industri musik pop, campursari tampaknya gagal meregenerasi seniman pop star seperti Manthous.

Ketika Didi Kempot memulai debutnya, kesalahan produser dari label rekaman adalah mem-branding karya-karyanya sebagai genre campursari. Alhasil, banyak orang mengira campursari itu ya lagu-lagu populernya Didi Kempot tanpa mengenal identitas asli campursari.

Campursari itu campuran tangga nada pentatonik (diperoleh dari instrumen gamelan) dan diatonik (diperoleh dari instrumen modern). Namanya saja campursari, mencampurkan intisari. Dalam lagu-lagu Lord Didi, nggak ada bunyi gamelan, ia memilih keroncong dangdut alias congdut sebagai jalur kreativitasnya. Seandainya diperdengarkan lagu campursari sesungguhnya, belum tentu sadboys dan sadgirls bisa menikmati, meskipun tembangnya bisa lebih nglarani ati.

Baca juga: Didi Kempot ‘Membangunkan’ Soekarno dari Kubur

Tak ada yang salah dengan pilihan aransemen musik, selama ia tidak menanggalkan identitas kedaerahannya, ia layak disebut seniman tradisional.

Lagi pula, yang namanya kesenian, ia senantiasa berkembang tak hanya dari segi industri, tapi juga dari segi kreasi. Musisi tradisional Jawa nggak cuma melulu menghasilkan musik berjenis campursari. Waldjinah mengembangkan keroncong campursari, NDX A.K.A mengembangkan hip-hop koplo, Sujiwo Tejo mengaransemen musik balada dengan syair langgam Jawa, Kiai Kanjeng mengaransemen klenengan dipadu instrumen musik band, dan Jogja Hip Hop Foundation mengaransemen hip-hop dipadu instrumen gamelan.

Semua komposer tersebut membuat lagu beridentitas kedaerahan, walau memadukannya dengan corak musik modern. Sebab itu, sebaiknya kita nggak mengenal lagu Jawa hanya campursari one and only.

Ngomong-ngomong, kenapa sih musisi-musisi Jawa niat banget memasukkan unsur etnis dalam berkesenian? Kalau lagunya menuai popularitas kan bisa memunculkan sentimen etnis dengan wacana dominasi musik populer oleh Jawa.

Hmmm… nggak gitu juga sih, bro. Unsur etnis dalam berkesenian bukan semata-mata untuk menonjolkan atribut identitas, melainkan kesadaran terhadap peran musik sebagai sarana komunikasi masyarakat.

Baca juga: Ternyata Lagu Peradaban .Feast Lebih Keras dari Musik Metal?

Bagaimanapun, musik serupa kolom opini dalam partitur nada. Sebuah lagu menyampaikan refleksi, nasihat, tragedi, maupun peristiwa – bukan derita cinta semata. Itu juga menjadi ciri khas tembang-tembang tradisional Jawa, dan saya yakin tembang-tembang dari semua daerah. Sebab, musik tradisional lahir dari hasil kebudayaan masyarakat setempat, bukan dari referensi tangga lagu radio, penghargaan Grammy atau playlist paling hits di platform musik digital.

Cobalah simak dengan santai lagu-lagu Jogja Hip Hop Foundation. Dalam lirik-liriknya, band asal Yogyakarta ini menyampaikan ajakan, seruan, sindiran, dan rerasan terkait hal-hal yang dekat dengan pengalaman masyarakat dan jelas ditujukan untuk masyarakat setempat (yang paham bahasanya).

Misalnya, salah satu lagunya berjudul Jogja Ora Didol. Lagu tersebut merupakan kritik terhadap pembangunan Kota Yogyakarta yang menuai krisis lingkungan. Jelas, lagu tersebut didedikasikan untuk masyarakat dan Pemda Yogyakarta.

Baca juga: Dengarkanlah, Wahai Kaum Indie Snob, Telah Datang Peringatan yang Nyata Bagimu

Dengan demikian, tak ada urgensi agar musiknya populer ke kalangan yang lebih luas, kecuali semata untuk referensi dalam musikalitas. Musisi-musisi yang terobsesi lagunya harus populer di kalangan luas itu, mungkin mereka yakin pesan dalam lagunya begitu penting untuk didengar oleh seluruh umat.

Jadi, nggak perlu ada sentimen etnis dalam berkesenian dong ya. Yang bangga sama Glenn Fredly nggak hanya orang Maluku, begitupun yang mengapresiasi Didi Kempot nggak hanya orang Jawa. Siapapun bangga dan mengapresiasi musisi dari kualitas karya dan dedikasinya terhadap kesenian, bukan latar belakang identitas kesukuannya.

Kalau kita bangga dengan musikalitas musisi lokal, kita toh bisa turut mempopulerkannya. Nantinya, kita juga bisa kembangkan genre musik folk berupa folk Jawa, folk Sunda, folk Ambon, folk Minang, dan seterusnya. Jadi, bukan hanya ada folk-pop, folk-rock, indie-folk, dan electric-folk.

Lagi pula, namanya juga f-o-l-k. Secara harfiah saja kan artinya rakyat, sinonimnya people, ya pastilah musik folk sejatinya merujuk pada konteks kebudayaan masyarakatnya. Sebuah portal musik menjelaskan bahwa istilah musik folk mulanya berasal dari Inggris, dimana dahulu petani-petani menyebarkan cerita dan legenda melalui sarana lagu lantaran buta huruf dan nggak bisa menulis buku.

Artikel populer: Obrolan dengan Ukhti-ukhti Penikmat Musik Punk

Maka, dengan mengembangkan genre folk yang merujuk pada musikalitas etnis, kita juga bisa mengenal bentuk kebudayaan kelompok masyarakat tertentu. Pun, karena musik-musik rakyat alias folk diproduksi oleh masyarakatnya sendiri dan dipopulerkan di acara-acara adat, kawinan, dan sunatan. Ia layak masuk kategori indie. Itu jika memang indie alias independen merujuk pada corak produksi dan distribusi karya.

Sebagai generasi pencinta musik indie alternatif, nggak ada salahnya sih kalau kita mengagumi karya-karya .Feast, Hindia, maupun Rhoma Irama. Salahnya adalah ketika kita terputus dari kekayaan seni dan budaya yang mengakar di habitat sosial sendiri. Warisan seagung itu kok malah ditinggalkan?!

Saya pun merasa berdosa. Selama ini sudah berlagak indie, tapi lupa sama warisan kesenian tradisional daerah sendiri.

2 KOMENTAR

  1. Sebetulnya unsur gamelan di musik Didi Kempot itu ada kalau dengar musiknya yang dulu-dulu, bahkan dia pernah nyanyi banyak lagu dalam Bahasa Indonesia. Kenapa jadi Jawa banget, simpel menurut saya, niche market. Berapa banyak sih musisi yang bisa mengisi permintaan komoditas itu ? Tidak banyak. Itulah juga kenapa dia bisa jadi superstar di Suriname. Kebudayaan sudah di industrialisasi jadi perbincangan produk kesenian tidak bisa lepas dari aspek ekonomi.

    Yang sekarang kenapa lebih merapat ke orkes melayu (dangdut), itu karena memang musik itu lagi laku di Jawa. Lagipula dalam teori kebudayaan, tidak ada satupun budaya yang bisa berdiri sendiri. Semua kebudayaan saling mempengaruhi. Tidak heran ada kesamaan bahasa antara jawa dan sanskrit misalnya, atau bahkan yang dekat, jawa dan sunda, bali, bahkan yang jauh seperti nias dan minahasa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini