Meramal Nasib YouTubers, jika KPI Awasi Konten Digital

Meramal Nasib YouTubers, jika KPI Awasi Konten Digital

Ilustrasi (Photo by Leon Bublitz on Unsplash)

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) berniat mengawasi konten digital seperti Facebook, YouTube, bahkan Netflix. Kontan saja, wacana ini dikecam netizen sampai bikin petisi segala. Netizen bersatu tak bisa dikalahkan!

Pegiat penyiaran justru menilai KPI sudah keluar jalur. Sebab, KPI itu ranahnya di penyiaran yang menggunakan frekuensi publik (broadcast), yakni televisi dan radio. Sementara, konten digital masuk ke ranah broadband alias pakai bandwidth di internet.

Kenapa KPI mau-maunya merambah ke dunia digital? Bukannya itu justru nambah-nambah kerjaan doang? Padahal, masyarakat sedang membutuhkan KPI untuk fokus membenahi mutu industri pertelevisian di Tanah Air.

Apakah karena di Netflix ada kartun Spongebob Squarepants? Ada Sandy si tupai – temannya Spongebob – yang tempo hari berbikini, lalu di-blur oleh stasiun TV berkat aturan KPI? Apa belum puas memburamkan bikini kartun tupai di TV sampai harus dikejar ke Netflix juga?

Jadi ingat sebuah peribahasa: “Sepandai-pandainya tupai berbikini, pasti akan disensor juga”.

Baca juga: Apa-apa Porno, Mungkin Itu Cuma Pikiranmu Saja

Lantas, bagaimana nasib para kreator konten di YouTube, jika KPI betulan mengawasi dunia digital? Bisa-bisa mereka kayak Sandy dan Shizuka di TV: diburamkan nasibnya, eh kontennya.

Kimi Hime dan YouTubers Gaming Lainnya

Sasaran pertama mungkin Kimi Hime. Setelah tempo hari berurusan dengan Kominfo, YouTuber gaming ini bisa-bisa bermasalah dengan KPI di kemudian hari. Konten-konten Kimi Hime sedang main gim dengan pakaian mini bakal masuk zona sensor, karena dianggap terlalu vulgar sejak dalam thumbnail.

Begitu juga dengan judul-judul video Kimi Hime yang ‘clickbait. Terpaksa deh, harus diganti agar lebih sopan sesuai standar KPI: “Setelah Main PUBG dan Mobile Legend, Jangan Lupa Mengerjakan PR dan Bantu Ibu Cuci Piring”, misalnya.

Nasib serupa kemungkinan juga dialami YouTubers gaming lainnya, terutama mereka yang hobi berkata kasar sebagai reaksi ketika main gim. Setiap mereka berkata kotor, harus disensor. Kalau sepanjang video mereka berkata kotor, otomatis penonton fokus menyaksikan permainannya saja dalam keadaan sepi. Nggak ada gunanya lagi mode mute alias ‘bisukan’.

Baca juga: Menjadi ‘YouTubers’ yang Dihujat Netizen, tapi Dikagumi Presiden

Mak Beti

Arif Muhammad adalah sosok di balik tokoh Mak Beti yang kerap mejeng di kolom trending YouTube. Selain jadi Mak Beti, Arif juga memerankan semua tokoh rekaan yang ditayangkan di sketsa komedi di kanal Youtube miliknya. Sebut saja Beti, Wak Selow, Wak Keling, dan wak-wak lainnya yang ceritanya tinggal di Medan sana.

Bakat Arif yang bisa akting menjadi puluhan karakter dalam satu sketsa ini bisa saja dipermasalahkan oleh KPI. Pasalnya, Arif melakukan crossgender ketika memerankan sosok Mak Beti dan wak-wak lainnya. Mau nggak mau, Arif harus berhenti jadi Mak Beti dan mencari pemeran perempuan untuk tokoh nyentrik itu.

Di televisi, laki-laki tidak boleh menyerupai perempuan. Aturan KPI ini sempat bikin mogok karier pelawak Srimulat Tessy yang notabene biasa tampil pakai rok dan dandanan menyerupai perempuan. Tessy pun kehilangan job di televisi.

Jika KPI merambah ke YouTube, Arif Muhammad yang kerap pakai daster mungkin bakal senasib dengan Tessy. Dan, semua yang berkarakter seperti itu akan menjadi ‘Tessy’ pada waktunya.

Baca juga: Mari Buktikan Siapa Sebetulnya yang Menang, TV atau YouTube?

Maell Lee

Di YouTube, boleh saja Maell Lee sesumbar sebagai manusia terkuat di bumi bukan kaleng-kaleng, anti-nuklir, tahan bacok, bulletproof, waterproof, dan seterusnya. Namun, ketika KPI betulan mengawasi YouTube, Maell Lee bisa jadi sosok yang nggak ada gregetnya.

Selama ini, Maell terkenal karena jatuh dari motor. Justru, adegan jatuh itu bikin dia naik daun. Aksi nekat melibatkan skill stunt riding yang jadi andalannya bisa menghasilkan adegan kocak yang mengocok perut. Sama seperti film action, kadang penonton nggak peduli ceritanya, yang penting adegan aksinya.

Melihat penderitaan Maell Lee dan motornya, banyak penonton yang merasa terhibur. Namun, di mata KPI, adegan Maell Lee jatuh dari motor itu bisa dinilai berbahaya, apalagi kalau sampai ditiru anak kecil.

Di ranah televisi, sinetron seperti Anak Jalanan, Anak Langit, dan anak-anak motor lainnya sempat kena tegur KPI karena menyajikan adegan berkelahi. Bisa diprediksi Maell Lee pun bakal bernasib sama: disemprit karena terlalu berbahaya.

Artikel populer: Hal yang Lebih Penting daripada Fatwa Haram Main PUBG

Apa jadinya nasib manusia terkuat di bumi semacam Maell Lee jika KPI patroli di YouTube? Bisa-bisa sketsa Maell Lee bakal penuh dengan obrolan biasa antara tukang ojek dan masyarakat, tanpa adegan slapstick dengan stunt riding gila-gilaan. Alih-alih motor, ini malah omongan yang digas.

Sementara itu, konten yang aman adalah milik Atta Halilintar. Konten-konten Bang Atta disukai anak-anak. Melihat Atta pamer harta, anak-anak pun bisa termotivasi, sementara orang dewasa cuma bisa iri.

Selain Atta, konten Ria Ricis juga relatif aman dan digemari anak-anak. Jadi Kak Ricis mau pamit lagi nggak neh? Terus balik lagi gitu. Hehehe.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.