The Boys (Amazon Prime Video)

Ketika pandemi dan bioskop masih belum boleh buka, beragam film diundur penayangannya. Atau, ditayangkan hanya di kota-kota yang sejak awal patuh menerapkan protokol kesehatan.

Jika tahun lalu bioskop diisi film superhero dari Marvel dan DC, tahun ini kita masih bisa nonton film superhero, tapi di aplikasi streaming nonton, seperti Netflix dan Prime. Netflix mempersembahkan The Umbrella Academy, sementara Prime menantang dengan The Boys.

The Umbrella Academy menyajikan aksi keluarga superhero yang memiliki family issues. Sedangkan The Boys mempertontonkan penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power) ala superhero. The Boys mengambil sudut pandang berlawanan dari arus utama waralaba superhero.

Jika pada umumnya superhero adalah sosok sakti mandraguna pelindung masyarakat dan penyelamat alam semesta, The Boys menawarkan premis sebaliknya. Adalah The Seven, kelompok superhero yang jadi antagonis dalam serial ini. Sementara, jagoannya adalah komplotan buron yang diinisiasi seorang suami yang istrinya diperkosa dan dibunuh oleh salah seorang superhero kesohor.

Baca juga: Spider-Man?? Pahlawan Super atau Pahlawan Puber?

Pada episode pilot saja sudah disuguhi dengan adegan seorang superhero pelari cepat menabrak warga sipil hingga tewas di tempat. Superhero yang seharusnya menolong warga justru menimbulkan masalah baru. Berhubung sang penumpas kejahatan itu mengeluarkan kartu sakti “nggak sengaja”, ia terbebas dari sanksi apapun.

Kelompok Seven yang isinya seperti grup superhero parodi Justice League punya sisi gelapnya masing-masing. Pemimpinnya adalah Homelander yang punya citra ala Captain America, tetapi kekuatannya Superman punya. Queen Maeve layaknya Wonder Woman yang tidak punya independensi karena jadi korban toxic masculinity dan kapitalisme dalam korporasi Vought International, perusahaan yang menaungi para superhero Seven.

Sementara, A-Train adalah speedster seperti The Flash yang ketergantungan obat terlarang dan membuatnya menggila sampai memakan korban jiwa. The Deep sang manusia ikan tak ubahnya tiruan Aquaman, tetapi fishy dan nekat melecehkan superhero perempuan pendatang baru bermana Starlight.

Kemudian, ada Black Noir yang misterius. Untuk sekarang, sisi gelap Black Noir yang ketahuan hanya kostumnya yang serba hitam seperti Batman. Tapi, kalau bagian telinganya dikasih sayap logo motor Jepang, bisa kayak Gundala Putra Petir versi Joko Anwar.

Baca juga: Cara Asyik Merayakan Putus Cinta ala Harley Quinn, Mantan Kekasih Joker

Vibe menonton The Boys seperti sensasi mengikuti telenovela Money Heist, penonton berharap para penjahat bisa mencapai tujuannya. Lalu, tambahkan pertumpahan darah ala Game of Thrones. Hampir tiap episodenya ada tokoh yang terbunuh. Momen terbaiknya ketika tokoh utama bisa menghancurkan sang superhero.

Superhero di sini menunjukkan bahwa kekuatan tanpa tanggung jawab adalah kezaliman. Benar kata Uncle Ben di film Spider-Man. Itulah yang diperlihatkan oleh Homelander yang dikenal sebagai sosok suci tanpa cela. Tampan, kuat, rendah hati, suka menolong, dan rajin menabung. Namun, di balik pencitraan media, Homelander punya noda dan dosa juga.

Homelander pernah membiarkan pesawat jatuh, alih-alih menolong penumpangnya. Padahal ia bisa terbang, jadi bisa saja bolak-balik menggotong satu per satu awak dan penumpang ke area aman, tetapi ia mager. Yang ada dia menyuruh penumpang tenang, lalu ia pergi menyaksikan mereka meregang nyawa. Lantas, kepada media, ia berkata bahwa insiden tersebut bakal terus terjadi, jika dirinya tidak masuk ke jajaran militer. Ya elah, fear marketing.

Baca juga: Nonton Drakor Kingdom tentang Politik di Tengah Wabah, Cocok Banget nih!

Homelander juga pernah membunuh seseorang, lalu merekayasa orang lain yang melakukannya. Alhasil, ada yang jadi buron untuk kejahatan yang tidak dilakukannya. Efek gaslighting dari kalangan manusia biasa saja sulit diredam, ini superhero tak tertaklukkan yang melakukan gaslighting. Sudah pasti banyak orang percaya.

Selama ini, Homelander yang manusia super melawan para penjahat dari kalangan manusia biasa tanpa kekuatan apa-apa. Tidak imbang. Seperti anak pejabat tinggi negara nge-prank online shop penipu. Tidak salah sih, tetapi bukankah sudah ada Kominfo dan senjata andalannya UU ITE yang ditujukan untuk menumpas kejahatan di ranah siber?

UU ITE malah lebih sering digunakan oleh figur publik yang tersinggung dengan lawan debatnya di media sosial. Pasal karet sengaja dimanfaatkan oleh mereka yang punya power untuk membungkam suara-suara yang berseberangan.

Artikel populer: Membayangkan Sinetron Azab Hingga AADC Berlatar Pandemi Corona

Memang sih, tidak semua yang kuat bertindak seenaknya. Ada juga yang kuat dan berhati mulia. Kalau di serial The Boys, ada Queen Maeve dan Starlight. Sayangnya, mereka harus bungkam juga karena masih kalah dengan dominasi Homelander.

Namun, Starlight menunjukkan bagaimana melawan pelecehan seksual. Walaupun Starlight mengidolakan The Deep sejak dulu, ia tetap tidak terima ketika dilecehkan oleh sikap sang manusia ikan yang eksibisionis itu. Hingga akhirnya, The Deep mendapatkan ganjarannya sampai diasingkan dari The Seven.

Untuk melawan pelaku abuse of power, sebenarnya kita tidak perlu punya power yang sama. Seperti yang dilakukan Starlight kepada The Deep. Buktinya, jagoan di The Boys tetap bisa menjadi pembasmi superhero korup. Caranya, dengan menetralkan ‘power‘ yang dimiliki si pelaku biar nggak ‘abuse‘ lagi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini