Kenapa Menyelamatkan Nyawa 13 Orang Lebih Menarik daripada 200 Orang?

Kenapa Menyelamatkan Nyawa 13 Orang Lebih Menarik daripada 200 Orang?

Ilustrasi (Jeremy Bishop via Unsplash)

Belum lama ini, kita gegap gempita menyambut keberhasilan penyelamatan 12 pemain bola dan seorang pelatihnya yang terjebak di gua Thailand.

Seluruh dunia dari berbagai kalangan masyarakat berusaha mengirim bantuan, ahli penyelaman gua dari Inggris, anggota Angkatan Udara Amerika, hingga kelompok spesialis bertahan hidup dari Jepang untuk bergabung dengan militer Thailand. Sementara, media memberitakan informasi terkini hampir tiap jam, langsung dari lokasi kejadian.

Banyak cerita sampingan pun bermunculan, petani yang rela lahannya dibanjiri air yang disedot dari gua, penyelam Inggris yang pertama kali menemukan rombongan, hingga undangan menonton piala dunia. Semuanya menarik perhatian kita, dan mengundang banyak klik.

Pada pekan yang sama, kita juga mendengar kabar banjir di Jepang. Setidaknya lebih dari 200 orang meninggal dunia akibat banjir, longsor, dan gelombang panas. Meski media juga rajin memberitakan, gaungnya tak sebanding dengan penyelamatan di Thailand. Padahal, keduanya sama penting, bahkan korban jiwa di Jepang sampai ratusan.

Mengapa kita tak sama tertariknya membaca berita soal banjir Jepang, seperti saat kita tertarik dengan berita penyelamatan di gua Thailand? Mengapa kita lebih emosional dan berempati ketika membaca cerita penyelamatan 13 orang daripada 200 orang?

Seorang peneliti bernama Paul Slovic percaya bahwa korban tunggal atau dengan jumlah yang sedikit akan lebih mudah diidentifikasi oleh otak, sehingga lebih mudah memunculkan rasa simpati dan empati. Dengan demikian, kita akan lebih mudah kasihan, peduli, dan jadi ingin berbuat sesuatu untuk menolong.

Sementara, otak kita sulit mendorong empati dan rasa kemanusiaan ketika dihadapkan dengan statistik jumlah korban. Karena itu, korban dalam jumlah yang besar hanya akan dianggap sebagai kumpulan angka-angka yang tak bermakna. Teori yang sangat terkenal ini diberi nama teori Efek Korban.

Kajian lain yang dilakukan Slovic, Finucane, dan McGregor juga menemukan bahwa perasaan lebih berpengaruh dalam proses pengambilan keputusan daripada analisis logika. Hal ini mungkin menjelaskan kenapa kadang-kadang kita mengambil keputusan yang sangat tidak rasional.

Hal inilah mengapa kita sering melihat pengemis beroperasi dalam jumlah kecil sembari menonjolkan penderitaan. Misalnya, dengan membawa anak kecil yang kurus tak terawat atau menunjukkan kedifabelan. Sangat jarang ada pengemis yang secara rombongan meminta-minta di jembatan penyeberangan.

Teori ini juga kadang dipakai oleh sebagian organisasi yang meminta kita untuk berdonasi di jalan-jalan. Coba perhatikan, sebagian dari mereka mungkin membawa gambar anak-anak atau menggunakan narasi yang mengedepankan kisah perseorangan.

Strategi jalanan ini memang terbukti sangat efektif, ketika digarap serius oleh kelompok penggalang dana.

Misalnya, foto seorang bocah pengungsi Suriah mampu meningkatkan donasi ke palang merah sebanyak 100 kali lipat lebih besar dibandingkan pekan-pekan sebelumnya.

Terobosan donasi ini dipertahankan selama lima minggu sejak kali pertama foto tersebut diterbitkan. Jumlah donasi kepada palang merah baru mencapai angka normal pada minggu keenam.

Persoalannya, empati untuk korban tunggal sulit dieskalasi. Menggunakan narasi korban tunggal untuk digunakan dalam kejadian bencana yang lebih besar, tidak akan meningkatkan sumbangan terhadap korban lain.

Stephan Dickert bahkan menemukan bahwa menggunakan angka statistik sebagai fakta tambahan dari narasi korban tunggal justru akan mengurangi empati, yang berakibat pada berkurangnya sumbangan kepada korban tunggal.

Selain itu, penelitian selanjutnya oleh Janet Kleber menemukan bahwa jumlah korban dianggap terkait dengan efektivitas donasi. Masyarakat yang ingin menyumbang atau minimal ingin peduli khawatir, jika bantuan yang mereka berikan tidak akan membuat perubahan signifikan atau tidak akan dapat menyelamatkan semua korban.

Persepsi ini membuat sumbangan untuk korban dengan jumlah yang lebih banyak, seolah-olah tidak efektif. Dengan hanya satu korban yang terlibat, ada peluang lebih besar untuk membantu semua.

Hal ini juga terkait dengan kecenderungan manusia untuk menjadi pahlawan. Kalau korbannya lebih sedikit, maka kemungkinan untuk menyelamatkan semua korban akan lebih besar. Dengan demikian, kita sebagai penolong, lebih mungkin menjadi pahlawan.

Lalu, bagaimana dengan korban yang bukan manusia?

Jenni dan Loewenstein menggunakan contoh penyelamatan tiga paus abu-abu remaja yang terjebak di Alaska saat bermigrasi untuk menunjukkan bahwa teori efek korban juga berlaku untuk non-manusia.

Mirip dengan cerita 12 remaja pemain bola dan seorang pelatihnya di Thailand, upaya penyelamatan ketiga paus remaja pada 1988 tersebut berhasil mendorong upaya dari seluruh dunia.

Bahkan, Amerika Serikat dan Uni Soviet yang saat itu sedang terlibat dalam perang dingin bahu membahu untuk menyelamatkan ketiga paus, yang disebut-sebut sebagai kisah penyelamatan terbesar pada abad itu.

Hal tersebut dapat terjadi lantaran korban – tiga paus remaja – berada dalam jumlah kecil, sehingga mudah diidentifikasi oleh rasa kasihan, terutama ketika foto ketiga paus mulai didistribusikan oleh media massa.

Kampanye penyelamatan paus berfokus pada perasaan positif, sehingga para penyumbang dana penyelamatan paus merasa telah menjadi bagian dari solusi, dan pada akhirnya juga telah menjadi pahlawan.

Ternyata kita narsis juga yah..

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.