Ilustrasi (Photo by Ivan Samkov from Pexels)

Wacana tentang munculnya era new normal di masa pandemi ini rasanya makin nyata saja. Gagasan ini memang tampak sangat mustahil jika kita membayangkannya pada awal tahun. Tapi sekarang coba lihat: bagian mana lagi dari hidupmu yang tidak terpaksa berubah?

Padahal, jangankan new normal dalam masa corona, lah wong new normal yang muncul di tengah hubungan antar manusia saja sudah ketahuan harus kita hadapi walau sedikit bikin gondok, kok, yaitu: new normal dalam dunia perpesanan instan!

Dalam gempuran kampanye physical distancing, komunikasi secara online menggunakan aplikasi pesan instan semestinya menjadi andalan. Meski banyak orang-orang aneh yang nge-chat cuma dengan huruf “P, P, P” kayak orang mau kampanye partai, komunikasi via aplikasi ini semakin lama semakin… penuh tantangan.

Jika sebelumnya banyak orang yang setuju bahwa pesan teks jauh lebih disukai ketimbang telepon yang mendadak, bersiaplah memahami tren yang satu ini: semakin sering menunda-nunda balas pesan instan.

Kamu mungkin mendapatkan pesan WA dari temanmu di pagi hari dan hanya kamu lihat sekilas dari kolom notifikasi yang bisa kamu hapus dengan sekali slide. Harimu bakal panjang dan kamu merasa sedang tak punya waktu untuk merespons pesan temanmu dengan segera. Tidak apa-apa, pikirmu. Toh, kamu bisa membalasnya nanti siang saat waktu luangmu banyak dan kamu bebas berbincang dengannya.

Tapi, tahu-tahu, dua minggu sudah berjalan dari hari pertama kali kamu menerima pesan WA tersebut!

Baca juga: Kangen Pacar Mau Kencan, tapi ‘Physical Distancing’, Gimana?

Menunda membalas pesan memang menyebalkan, khususnya bagi si penerima. Saya pernah uring-uringan saat seorang kawan tidak membalas pesan dengan segera, padahal statusnya sedang online. Pertanyaan saya tidak dijawab dan terpaksa menunggu sampai ia benar-benar siap membalas pesan tersebut.

Tapi di lain sisi, menunda membalas pesan adalah cara terbaik untuk menekan perasaan takut. Saya pernah bertengkar dengan seseorang via WhatsApp dan membalas pesannya cukup panjang; kata-kata yang nekat saya ucapkan kala itu terasa sangat nyata dan kelewat berani sampai-sampai membuat saya memutuskan mematikan notifikasi WhatsApp dan tak peduli pada semua pesan yang masuk. Kenapa?

Karena saya takut dan belum siap membaca balasan dari orang tersebut. Padahal, sikap ini memberikan dampak yang tak adil pada pesan-pesan lainnya, yang baru saya baca setelah saya berhasil mengendalikan diri, lengkap dengan kalimat andalan “Maaf baru balas”.

Perpesanan singkat memang dibuat menyerupai percakapan langsung untuk tetap menghubungkan orang-orang. Namun, sebagaimana teknologi ini didesain untuk menjadi instan, ia juga mudah membuat kita mengabaikan satu sama lain tanpa kita sadari. Misalnya, dengan menghindari membalas pesan secara langsung dan menjadikan kalimat “Maaf baru balas” bukan lagi sebagai permintaan maaf yang tulus, melainkan kalimat wajib yang bakal semakin sering kita jumpai dalam era new normal karena semakin banyak pesan yang masuk.

Baca juga: Nggak Langsung Balas Chatting, Kasar Nggak sih?

Ya, puluhan notifikasi dan pesan yang menumpuk, baik di WhatsApp ataupun kotak DM di Twitter dan Instagram, kadang-kadang bukan hasil dari kepopuleran diri. Semuanya adalah pesan orang-orang yang belum dibalas dan sedang menunggu respons. Seperti yang saya sebutkan, saya pernah kesal karena seorang kawan tak segera membalas, tapi berikutnya justru saya menjadi pelaku yang kesusahan berhenti dari pola perilaku seperti ini.

Ada banyak alasan, selain takut, yang menjelaskan kenapa seseorang enggan membalas pesan dengan segera. Saya rasa kamu pun tak menikmati pesan yang bicara soal kerjaan di hari libur yang sedang kamu nikmati, bukan?

Di sisi lain, permintaan tolong seseorang juga membuatmu berhenti membuka kotak pesan karena tiba-tiba memaksamu untuk bertanggung jawab pada suatu hal, padahal kamu sedang tidak ingin terikat. Lebih sederhana lagi, kamu mungkin memang hanya sedang tidak ingin bicara, termasuk lewat pesan instan.

Menjelaskan perilaku di atas, sebagaimana dikutip dari Solvingprocrastination.com, orang-orang memang cenderung menunda melakukan sesuatu karena beberapa hal, di antaranya takut gagal, takut memenuhi ekspektasi yang dibebankan, kecemasan berlebihan, kesulitan berkonsentrasi, kehilangan motivasi untuk menyelesaikan pekerjaan (dalam hal ini adalah membalas pesan), bahkan depresi. Tapi nyatanya, kunci dari penundaan membalas pesan ini ada di tangan masing-masing orang: kontrol diri sendiri.

Baca juga: Seberapa Bohongnya Orang di Aplikasi Kencan? Temukan Jawabannya

Sebuah studi tahun 2007 di Amerika menyebutkan para pengguna ponsel menyukai betapa alat komunikasi ini memudahkan mereka dalam interaksi yang konsisten saat mereka sedang ingin berkomunikasi…

… sekaligus bisa ‘dimatikan’ sewaktu-waktu saat mereka sedang tak ingin berhubungan dengan siapa pun.

Studi lainnya, pada tahun 2015, menunjukkan rata-rata pesan masuk ke sebuah surel bisnis dalam sehari adalah 88 pesan, tapi hanya dibalas sebanyak 34 pesan pada hari yang sama. Maksud saya, yah, siapa juga yang nggak bosan harus balas 88 pesan dalam sehari? Dapat 34 pesan saja sudah alhamdulillah.

Artinya, kita berhak mengelola aplikasi perpesanan dengan cara kita sendiri. Saat ingin membalas pesan, balaslah segera. Jika keadaan sedang tidak memungkinkan, ambil lah waktu secukupnya dan tentukan kapan sebaiknya pesan tersebut dibalas dan dibahas, serta bagaimana pesan tersebut dihadapi.

Saya pernah menumpuk pesan karena perasaan cemas dan takut yang berlebihan, sampai-sampai saat akhirnya akan membuka pesan-pesan tadi, saya harus menelepon orang terdekat saya untuk meminta dukungan dan meyakinkan saya bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Artikel populer: Heran ya, Kenapa Cowok Enteng Banget Nulis Komentar Mesum?

Beberapa orang memberi toleransi waktu pada dirinya sendiri untuk mengabaikan pesan orang lain, misalnya dua menit hingga dua minggu. Kotak DM di Instagram juga memberi jarak waktu empat minggu untuk sebuah pesan asing diterima di kolom request. Jika tak mendapat respons dari penerima, pesan tadi akan otomatis dihapus, tepat seperti cara kerja kotak spam di akun surel kita. Cara-cara ini bisa kita adaptasi untuk mengurangi tumpukan pesan yang harus dikacangin setiap hari, kan?

Pada akhirnya, ponsel, termasuk aplikasi WhatsApp dan kotak DM di aplikasi lain, memang memungkinkan kita berhubungan secara instan dan mudah. Sayangnya, hal ini juga tak menghindari kita pada kemungkinan untuk diabaikan dan mengabaikan setiap kali pesan dikirimkan.

Tapi, menghindari ketakutan dan tanggung jawab secara terus-menerus tak akan membawa kita ke mana-mana, bukan?

1 KOMENTAR

  1. sebenarnya sih gan…orang jaman sekarang mungkin sudah terbiasa dengan yang serba instan…pernah suatu ketika, saya sebagai seorang sales mendapatkan komplain dari customer….tapi untuk tau jawaban dari WA customer, saya harus koontak ke banyak orang dulu untuk tau akar permasalahannya. sedangkan customer ngotot harus dijawab cepat…terkadang spt itu sih kendalanya…kadang kita belum siap, namun pertanyaannya sudah muncul..haha…alhasil sekarang slalu saya balas…sebentar ya pak/bu

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini