Perempuan yang Gagal Ta’aruf dan Kekonyolan Menjelang Nikah

Perempuan yang Gagal Ta’aruf dan Kekonyolan Menjelang Nikah

Ilustrasi (Photo by Estefania Solveyra on Unsplash)

“Sebentar lagi aku menikah, tetapi jerawat di wajah masih banyak, belum lagi jerawat yang tumbuh di punggung. Gimana ya cara menghilangkannya? Waktu pernikahanku sudah semakin dekat.”

Kata-kata itu terlontar dari sahabat saya di ujung telepon beberapa waktu lalu. Dia akan melepas masa lajangnya. Namun, dia merasa tidak percaya diri dengan apa yang ada.

“Kemarin si abang datang mengantarkan surat nikah, dia mengatakan bahwa jerawatku kok banyak sekarang. Terus aku langsung menimpali dengan mengatakan bahwa kalau abang tidak mau menikah denganku yang berjerawat ini, silakan menikah dengan perempuan lain! Mumpung pernikahan kita masih tinggal beberapa hari lagi,” lanjutnya.

Saya memang belum menikah, tetapi kok miris sekali mendengarnya. Apakah orang yang akan menikah pikirannya memang seribet itu? Harus tampil cantik sesuai standar orang kebanyakan, wajah kudu mulus tanpa jerawat, kulit harus kinclong seperti habis diamplas?

Kalau syarat menikah harus seperti apa yang saya sebutkan di atas, maka saya tidak akan menikah-menikah. Sebab, wajah saya berjerawat dan jauh dari kata cantik yang didefinisikan oleh banyak orang.

Tapi, apakah hal yang sama juga dirasakan oleh laki-laki yang akan menikah?

Dulu, masih pekat sekali dalam ingatan, ketika ibu pernah berkata kepada saya yang hendak mengoperasi sedikit benjolan di payudara. Dokter mengatakan bahwa benjolan itu dinamakan miom, semacam tumor jinak, yang harus diangkat. Jika dibiarkan, statusnya bisa berubah menjadi kanker.

Kemudian, saya memutuskan untuk mengoperasinya, meskipun pada awalnya ibu tidak menyetujui dengan alasan nanti tidak ada laki-laki yang mau menikah sama saya karena payudara saya sudah dijahit.

Bagi saya, ketakutan ibu tersebut konyol. Dia lebih takut anaknya tidak bisa menikah daripada kehilangan nyawa anaknya sendiri.

Lagi-lagi, saya bertanya, apakah perempuan ketika hendak menikah benar-benar dikehendaki harus begini-harus begitu, tidak boleh ada kekurangan sesuatu apapun, termasuk tidak ada jahitan di salah satu bagian tubuhnya?

Tuntutan untuk tampil cantik itu belum berakhir. Oleh ibu, saya selalu diingatkan bahwa perempuan itu harus bisa jaga badan, jangan sampai gemuk! Nanti kalau gemuk tidak ada laki-laki yang mau. Jangankan mau menikahi, melirik saja tidak.

Duh, Gusti… Kata-kata apalagi ini? Jadi perempuan kok ya tersiksa banget. Gak boleh begini, gak boleh begitu. Bete-bete ah.

Tapi, apakah laki-laki juga dinasihati begitu oleh ibu atau bapaknya?

Belum lagi syarat yang diajukan harus satu daerah, satu provinsi, dan semacamnya. Itu semakin menambah deretan panjang rukun nikah yang awalnya cuma lima (calon mempelai perempuan, calon mempelai laki-laki, wali nikah, dua orang saksi, serta ijab dan qabul).

Seperti apa yang saya alami belakangan ini, banyak yang datang ke saya, dalihnya sih ingin ta’aruf. Ketika awal-awal obrolannya enak, perkenalan. Setelah itu, mulai ke obrolan yang serius.

Terlebih, doi mengetahui saya S2, semangat ta’aruf-nya mulai mengendor. Ditambah lagi, saat saya menanyakan apakah setelah menikah nanti boleh bekerja di luar rumah? Dia mengatakan bahwa kalau bisa di rumah saja.

Mulailah bernegosiasi ini dan itu, lalu merembet ke persoalan lain. Akhirnya ta’aruf tidak bisa dilanjutkan, ada saya yang memutuskan dan ada si dia.

Bagi saya, hal di atas perlu dibicarakan sebelum menikah dengan calon pasangan, terutama soal pembagian peran dalam rumah tangga dan semacamnya. Jika tidak, nanti akan tumpah tindih.

Banyaknya tuntutan dan syarat ini-itu dari orang sekitar terutama oleh calon pasangan membuat saya berpikir ulang untuk menikah. Jika menikah hanya untuk memenuhi kebutuhan biologis, maka ketika kebutuhan itu telah terpenuhi, lalu apa?

Jika menikah adalah penyempurna agama, dan banyak orang berbondong-bondong untuk itu, lalu mengapa banyak juga yang bercerai? Entah bercerai karena alasan ekonomi, karena pasangan sudah tidak menarik lagi, karena pihak ketiga, dan alasan-alasan lainnya.

Jadi, setelah menikah, bercerai, terus apa?

Kata Socrates, “Apapun yang terjadi, menikahlah! Jika menikah dengan pasangan yang baik, maka hidupmu akan bahagia. Jika menikah dengan pasangan yang jahat, setidaknya kamu akan menjadi filsuf.”

Sekarang mari simak kata-kata Kierkegaard berikut ini:

Jika kau kawin, kau akan menyesal.

Kau tidak kawin, kau juga menyesal.

Jika kau mempercayai seorang gadis, kau akan menyesal.

Tidak percaya, kau juga akan menyesal.

Kau gantung diri, kau menyesal.

Tidak gantung diri, juga menyesal.

Kau gantung diri atau tidak gantung diri,

Kau akan menyesali keduanya.

Inilah tuan-tuan, puncak dari kearifan praktis.

Apapun alasannya, sekalipun dengan menikah, tidak akan menyelesaikan segala macam persoalan hidup. Setidaknya dengan menikah, mata rantai tunggal putra dan tunggal putri (baca: jomblo) bisa diputus. Persoalannya adalah sesudah menikah, lalu apa?

Masalah ini harus dipikirkan dari sekarang, jangan tunggu nanti sebelum semuanya terlambat. Namun, jika ingin tetap menikah, menikahlah! Jika ada yang bertanya mengapa ingin menikah, jawablah aku tidak tahu. Yang kutahu adalah aku butuh kamu. Itu saja.

15 COMMENTS

  1. mungkin mbak perlu perbaikan terhadap mindset pernikahan, banyak bacalah buku tentang wanita, kemuslimahan, contoh-contoh wanita dalam quran. karena laki2 sesungguhnya mencari pasangan hidup bukan mencari pesaing hidup. cheers

    • Cuih!! Nanya nanya hal yg sangat irrelevant dari topik terkait dgn maksud untuk merendahkan dan membungkam lawan argumen. Ga kelas banget. Di debat dong seluruh argumen nya mana yg bikin stuju ga stuju. Jgn pake jalan pintas “pasangan hidup itu apa ya??” “Kenyamanan itu apa ya??” “Cuci mobil itu ya”??

  2. wajar aja ya kalo gak nikah2, duh saya aja kesel baca artikel nya, dr tulisan2 yg anda buat, itu menggambarkan betapa egois dan keras sekali sifat anda.
    ditambah pengetahuan yg sangat minim tentang peran perempuan.

    saya sependapat dengan komentar diatas. laki2 itu cari pasangan hidup, bukan PESAING HIDUP.

    anlogy sederhana nya ya bu, ketika anda ingin menjual MOBIL anda, apakah anda akan MENCUCINYA terlebih dahulu atau tidak ketika pembeli ingin melihat2 ??
    yg laki2 cari sesungguhnya dalam pernikahan itu adalah KENYAMANAN, saya tidak yakin dgn sifat anda yg sebegitu keras kepala nya mampu membuat laki2 merasa nyaman.

    malah saya lihat anda gak butuh pemimpin. pimpin aja hidup anda sendiri, gk usah nikah. udah pintar kan ?

    cari tau lagi apa yg salah di diri anda. jika anda masih tetap suka menyombongkan diri, dan tetap kekeh tidak mau berubah demi orang lain, sebaiknya jangan menikah dulu.
    karna perceraian itu adalah sesuatu yg sangat memalukan.

  3. Emmm. Yang komennya oposisi ini apa udah pada nikah?
    Saya juga belum nikah si.
    Tapi orang tua saya kerja dua2nya dan oke2 aja sampe tua tuh.
    Emang salah ya? Perempuan punya titel yang lebih tinggi.
    Ibu saya s2 sedangkan ayah saya s1.
    And everything is alright.

  4. “Tapi, apakah laki-laki juga dinasihati begitu oleh ibu atau bapaknya?”

    Kalau mau bner bner 100% setara bgitu, peran nya jg harus 100% setara. Cewe ga cuma nunggu lamaran aja tp jg cari itu pasangan, kan mau setara?? Cowo jg ga harus susah susah nyiapin mas kawin dan biayain sluruh resepsi, cewe jg harus ikutan, kan mau setara?? Ada hak ada tanggung jawab. Kalau ente mau nya ada di posisi yg “dimanja” dan “diempanin”, ente cuma tinggal dandan yg cantik aja, udah beres, enak kan?? Atau jgn jgn udah mau nya diempanin tp ga mau rawat diri jg?? Itu namanya bukan feminis, tp org yg mau nya cari untung dari ideologi feminis. Istilah inggris nya “have cake eat cake”. Jd mau take control jd dominan tp di bebani segala tanggung jawab nya atau hepi hepi aja jd submissive??? Kek nya ga banyak org yg ngerti konsep sederhana kek gini. Banyak cewek feminis (palsu) bilang “ih ko cowo ga dandan jg”. Ya peran gender nya beda sama ente pekok!! Kalau cowo jd submissive jg ya kita bakalan dandan. Nanti para feminis akan teriak “hancurkan peran gender!!” Yakin bisa idup dalam masyarakat tanpa peran gender?? Narasi yg sering di dengungkan third wave feminism ini.

    • Kayanya Kakak belum pernah merencanakan acara pernikahan ya? Karena yang saya temui malah yang biayain (mayoritas) resepsi itu keluarga mempelai perempuan lho.

    • Pemimpin dan dipimpin? Gak sekalian aja pelayan dan tuan? Haduhh kasian sekali anda ini. Sombong teriak sombong. Tak sadar diri

  5. Menikah itu karena niatnya.. kalo laki dan perempuan menikah karena ibadah dan ikhlas menjalankan Insya Allah akan baik kedepannya.. menikah ato gak, kita gak akan pernah tahu bagaimana hidup kita kedepannya dan masalah apa saja yang akan kita hadapi .

    Karena mbaknya muslimah.. ane yakin mbaknya tau bagaimana kriteria laki2 yg baik untuk dinikahi berdasarkan agama Islam serta hikmah2 dari pernikahan

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.