Ilustrasi. (Photo by Raamin ka on Unsplash)

Di antara muslimah yang tidak memiliki keyakinan teguh terhadap jilbab, pasti ada saja yang pernah mengajukan pertanyaan, “Aku lebih cantik pakai jilbab atau nggak pakai jilbab, sih?”

Sesama hamba yang lemah iman, ditambah pengetahuan saya yang tidak menganggap jilbab sebagai perlambang moralitas, saya akan menjawab sekenanya karena itu bukan pertanyaan wawancara kerja: “Sama aja, sih.” Itu adalah jawaban paling aman.

Tapi, bukan main sulitnya kalau si penanya menuntut kepastian. Dan, setelah terpaksa menjawab salah satu opsi, masih saja ada pertanyaan lanjutan, “Masa sih? Tapi ada yang bilang pipiku kelihatan tembem kalau pakai jilbab.” Atau… “Beneran? Soalnya, ada yang bilang aku keliatan cakep kalau pakai gamis.”

Rupanya konsekuensi dari jawaban manapun bisa menciptakan problem dilematis bagi seorang perempuan yang terobsesi dengan kategori cantik lahiriah.

Mau dijawab “Sama aja, sih. Sama-sama nggak cantik”, tapi kok jahat sekali. Tahu sendiri lah bahwasanya penampilan kerap menjadi trigger utama insekyuritas diri. Mungkin itulah mengapa industri kecantikan dan perawatan diri adalah industri yang tangguh, bisa pulih sepenuhnya – dua tahun usai krisis 2008. Meski dihantam pandemi dan cukup terguncang, McKinsey memprediksi industri ini tetap punya prospek gemilang.

Baca juga: Di Balik Jilbab yang sedang ‘Hype’

Jadi, kalau perkara cantik, produk kecantikan atuh yang bisa meyakinkan, bukan komentar teman. Pertanyaan begitu sulit dijawab karena jelas berbeda dengan pertanyaan macam “Lebih cantik pakai bando atau nggak?”

Tidak seperti bando kepala, jilbab menjadi sarana simbolik dari kontestasi berbagai gagasan dalam konteks masyarakat kita. Selain dianggap sebagai representasi simbolik keimanan seseorang, jilbab juga dianggap sebagai representasi simbolik dari pilihan ideologis seseorang. Selebihnya, pragmatisme belaka.

Pragmatisme dalam berjilbab yang dimaksud kalau kita mengenakan jilbab sekadar untuk memenuhi kebutuhan pragmatis, tidak didasari keyakinan syariah atau idealisme apapun. Ya kayak foto caleg perempuan di baliho. Jilbabnya semacam properti.

Atau misalnya, seorang SPG di gerai kosmetik dengan image branding islami, terlepas dari keimanan ataupun pilihan ideologisnya, ia akan rela mengenakan jilbab demi mematuhi aturan marketing. Persis seperti seorang yang melamar posisi sebagai resepsionis sebuah hotel, harus menyanggupi aturan melepas jilbab saat bekerja. Manajer gerai kosmetik islami dan manajer hotel itu sama, sama-sama mempersoalkan jilbab sebagai daya tarik kapital.

Baca juga: Akun Dakwah tapi Suka Julid ke Perempuan, Akutu Nggak Bisa Diginiin!

Di sisi lain, Arab Saudi yang ultrakonservatif itu kabarnya sedang menuju alam modern akibat dari revolusi budaya demi sekuritas ekonomi nasionalnya. Sementara itu, masyarakat kita masih saja senang memperdebatkan berjilbab atau tidak, dan syar’i atau tidaknya. Apa itu artinya pilihan berjilbab atau tidaknya seorang muslimah punya dampak besar terhadap struktur politik, ekonomi, dan budaya? Sehingga topik itu akan selalu dianggap relevan untuk didebat?

Saya menghargai kalau ada orang yang berkeras meyakini pengetahuan bahwa rambut perempuan muslim adalah aurat yang wajib ditutupi. Tapi, apakah dengan tergerainya rambut seorang muslimah di publik akan merusak tatanan nilai kemanusiaan di masyarakat, sehingga pantas diolok-olok sisi keimanannya?

Saya pun menghargai pilihan tidak berjilbab seseorang karena alasan kenyamanan atau keleluasaan cara berpikir. Tapi, perlu diakui juga bahwa anggapan muslimah sejati yang mengenakan jilbab lebar dan cadar cenderung tidak toleran, tidak open minded, dan tidak punya visi revolusioner dalam beragama itu tidak selalu benar. Sekalipun jika anggapan itu beberapa menjadi nyata, bukan berarti mustahil untuk mengubah pemikirannya tanpa perlu mengubah pilihan busananya, kan?

Baca juga: Hijab di Indonesia dan Mengapa Masih Jadi Kontroversi

Kontestasi gagasan tentang jilbab ini pun lambat laun bukan hanya wacana agama dalam idealisme radikal lawan liberal. Bukan lagi hanya tentang sebagian orang yang menganggap berjilbab adalah satu dari kewajiban muslimah taat dan sebagian lainnya menganggap jilbab sebagai opresi. Seorang muslimah progresif tidak akan sepakat dengan anggapan jilbab sebagai piranti penutup aurat semata, apalagi simbol opresi.

Muslimah progresif yang melek pemikiran akan menegaskan bahwa jilbab mereka adalah simbol perlawanan terhadap industri fesyen dan kecantikan yang hegemonik. Seorang gadis yang berjilbab lebar dan bercadar, tidak melakukannya hanya karena doktrin perempuan wajib menjaga aurat, akan tetapi semangat revolusioner menolak industri busana dan makeup. Tujuan mulianya bukan hanya berbakti kepada Tuhan, tapi juga menyetarakan citra penampilan perempuan.

Dengan begitu, para muslimah progresif ini menemukan makna simbolik berjilbab dan bercadar secara tepat dalam konteks kapitalisme pasca fordisme. (Biar kesannya serius, wqwq…)

Sayangnya, muslimah progresif tidak akan memenangkan gagasan demikian dalam alam raya kapitalisme. Jelas, mereka keok berhadapan dengan promosi syar’i industri fesyen dan kosmetik. Sederet brand butik fesyen syar’i dan brand kosmetik syar’i akan selalu memenangkan hati muslimah kelas menengah Indonesia dengan wacana agama dalam balutan kecantikan.

Artikel populer: Berhijrah Bukan Berarti Menjadi Hijaber-hijaber Snob

Kelompok liberal pun bisa mengulang-ulang semboyan “Auratku adalah urusanku” untuk menentang perundungan terhadap perempuan yang memilih melepas jilbab. Namun, apakah semboyan itu mampu menyelamatkan perempuan dari jerat idealitas ketubuhan yang dibangun industri? Hmm… saya yakin, Jason Ranti pun akan meragukannya.

Berjilbab atau tidak, banyak muslimah yang sama-sama berusaha memijiti pipi agar terlihat tirus, memoles kulit muka agar tetap halus, dan menjabani apapun kiat-kiat untuk meningkatkan citra cantik lahiriah. Berjilbab atau tidak, perempuan bisa sama terobsesinya mengejar daya tarik fisik.

Pertanyaan “Cantik pakai jilbab atau lepas jilbab?” adalah representasi nyata dari alam bawah sadar perempuan yang terperangkap dalam idealitas ketubuhan. Memberi jawaban atas pertanyaan itu jadi membingungkan, karena pada dasarnya jilbab bukan aksesoris kecantikan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini