Ilustrasi pandemi Covid-19. (Photo by Matilda Wormwood from Pexels)

Darius Sinathrya selfie saat memandangi istrinya, Donna Agnesia, yang sedang tidur. Seluruh Indonesia turut hanyut dalam romantisme. Untuk pasangan yang sudah menikah hampir 15 tahun, romantisme pasangan ini seakan tidak pernah luntur. Keduanya begitu sering saling memuji. Sesuatu yang sering kali membuat sedih para komentator yang berasal dari latar belakang broken home.

Ngomong-ngomong, saya pun termasuk suami yang sering tidur belakangan, seperti Darius. Dulu pas masih aktif kuliah tatap muka yang notabene kelas malam, tiba di rumah pukul 22.30. Kemudian, istri beranjak tidur. Tentu saja ada momen menatap wajah istri lekat-lekat ketika ia tertidur. Pada dasarnya yang dirasakan oleh Darius adalah fenomena umum dari suami-suami yang mensyukuri pasangan hidup dari Tuhan.

Sayangnya, itu dulu…

Baca juga: Ini Penyebab Varian Delta Begitu Dominan, Mampukah Vaksin Melawan?

Itu makanya suka kesal sama orang-orang yang membercandai virus corona pada Januari dan Februari tahun lalu. Candaan itu mengubah banyak hal. Virus itu tetap masuk Indonesia, negeri yang katanya memiliki perizinan yang sulit. Virus itu tetap menginfeksi orang-orang yang makan nasi kucing. Virus tersebut tetap merusak banyak paru-paru, walaupun kita semua sudah berdoa.

Penyakit akibat SARS-CoV-2 ini memang sembuh sendiri pada banyak kasus, tapi juga mematikan pada jumlah yang tidak sedikit. Ada teman, seorang ibu muda beranak dua, dipanggil Tuhan karena Covid-19. Ada suami teman yang meninggal dalam kesendirian dengan infeksi serupa karena posisinya mereka sedang dalam long distance marriage (LDM). Yah, belakangan ini setiap hari ada kabar duka.

Baca juga: Vaksin Covid-19 Mana yang Terbaik?

Kita tidak bisa lagi bercanda ketika fasilitas kesehatan dalam kondisi menuju kolaps, eh salah, tapi ((( OVER-KAPASITAS ))). Over-kapasitas itu berdampak pada nyawa begitu banyak orang, tanpa pandang bulu. Ada tukang becak, pegawai negeri, mahasiswa, hingga wakil rakyat. Dari kabar duka yang tiada henti itu saja kita sebenarnya sudah tahu bahwa penanganan Covid-19 tidak dapat didefinisikan sebagai terkendali. Lebih tepatnya malah terkendala.

Terkendala karena pada awalnya kebanyakan bercanda. Bercanda kita setahun lalu ternyata dampaknya sangat panjang…

Istri saya kebetulan pekerja rumah sakit. Tentu masalah kapasitas rumah sakit dan betapa rentannya nasib tenaga kesehatan (nakes) selama pandemi berdampak langsung kepadanya dan keluarga, termasuk saya sebagai suami. Ia adalah seorang clinical pharmacist yang juga terjun langsung ke pasien. Otomatis memiliki risiko paparan yang cukup tinggi, walaupun tidak setinggi rekan-rekan yang bekerja spesifik pada perawatan pasien Covid-19.

Faktanya, lebih dari seribu tenaga kesehatan kita meninggal akibat Covid-19, menurut data Lapor Covid-19 per awal Juli 2021.

Baca juga: Varian Loki dan Varian Baru Virus Corona

Sejak awal pandemi, kami sengaja tidur terpisah demi menjaga anak semata wayang dari potensi tertular virus, yang mungkin dibawa emaknya dari rumah sakit maupun dari transportasi umum. Pisah ranjang itu sempat berhenti beberapa waktu, terutama sejak istri dan saya mendapat vaksinasi. Akan tetapi, lonjakan kasus belakangan ini membuat suasana kembali tidak karuan. Ujung-ujungnya pisah ranjang lagi.

Bahkan kali ini lebih ekstrem. Selain pisah ranjang, istri selalu mengenakan masker saat di rumah. Jadi, boleh dibilang, dia pakai masker benar-benar sepanjang hari. Di RS pakai, di jalan juga, di rumah pun demikian.

Maka, sebagai suami, pada akhirnya tidak bisa lagi seperti Darius Sinathrya – memandang mesra istri yang sudah tidur duluan. Sesuatu yang sontak bikin netizen meleleh dan terbawa perasaan. Lha gimana, tidurnya saja di tempat terpisah sebagai bagian dari manajemen risiko rumah tangga, mengingat pandemi tahun ini kemungkinan transmisinya dari orang-orang terdekat. Tidur terpisah yang didasari rasa cinta dan upaya untuk melindungi anggota keluarga sebaik-baiknya.

Artikel populer: Jika Selebgram, Youtuber, dan TikToker Gelar Live Streaming Disuntik Vaksin

Ini adalah hari-hari yang sulit karena virusnya sudah sedemikian dekat dengan kita. Apalagi, bagi nakes yang berangkat dan pulang dengan transportasi umum, potensi penularannya rangkap. Belum lagi, banyak orang yang percaya sama dokter Lois maupun orang-orang yang tiba-tiba bermazhab ‘toxic positivity‘.

Ini adalah hari-hari ketika kita seharusnya justru lebih dekat dengan orang tua, istri, suami, anak, dan orang-orang terdekat lainnya. Ini justru adalah saat-saat para suami seharusnya lebih banyak menghabiskan waktu untuk memandangi pasangannya kala terlelap, karena kita benar-benar tidak tahu apa yang akan terjadi dalam 1-2 hari kemudian pada masa survival semacam ini.

Jadi, bagi yang punya privilese, segera lakukan sesering-seringnya karena tidak semua orang sempat dan memungkinkan untuk melakukan itu.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini