Menjadi ‘Survivor’ Patah Hati, Termasuk dari Teman yang Positif tapi Beracun

Menjadi ‘Survivor’ Patah Hati, Termasuk dari Teman yang Positif tapi Beracun

Ilustrasi (Image by Khusen Rustamov from Pixabay)

Media sosial kita penuh dengan kebahagiaan, tanaman cantik dengan pot-pot mahal, jalan-jalan ke gedung-gedung tua di Eropa, reuni di restoran paling ciamik, atau berbagi cerita tentang prestasi terkini.

Sebab itu, ketika ada yang berbagi perasaan yang bukan kebahagiaan, masyarakat net dengan mudah memberi cap macam-macam: lebay, bucin, caper, dan cap-cap negatif lainnya. Kita terbiasa melihat yang senang-senang saja.

Mengapa kita begitu sulit menjadi nyata di media sosial? Mengapa kita tidak bisa memeluk perasaan-perasaan yang seharusnya normal saja? Patah hati, gelisah, cemburu, sedih, kecewa, seharusnya bisa diterima sebagaimana masyarakat menerima kebahagiaan. Sebab kita tidak melulu harus merasa bahagia.

Kita sering kali bereaksi tidak ramah kepada kawan yang sedang patah hati, misalnya. Terutama dalam pertemanan laki-laki. Menyatakan perasaan-perasaan sakit dan sedih sering kali dianggap sebagai sesuatu yang lemah dan tidak mendapat tempat di masyarakat.

Kita tidak pernah diajarkan bagaimana caranya memeluk emosi, menghadapi hubungan, menghadapi patah hati, dan menghadapi depresi. Manusia tidak memiliki buku manual untuk menghadapi hal-hal tersebut. Kalau curhat sama orang tua pun, seringnya cuma disuruh banyak berdoa dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Baca juga: Saran untuk Milenial yang Instagramnya Kurang Bergengsi

Menghadapi teman yang sedang patah hati, sering kali yang keluar dari mulut kita adalah kata-kata positif tapi beracun:

“Yaelah begitu doang, lebay amat.”

“Udah, nanti juga lupa.”

“Gak usah depresi, olahraga, senang-senang, atau ngapain kek.”

Iya betul, berolahraga dapat meningkatkan serotonin, sehingga kita dapat lebih bahagia. Iya betul, bertahun-tahun setelah patah hati, seseorang akan melanjutkan hidup dan lupa dengan patah hatinya. Namun, perasaannya saat itu juga nyata dan tak seorang pun berhak mengecilkan sakit yang sedang ia rasakan.

Tentu saja, si patah hati juga selalu berkata pada dirinya, “Harus move on”, “Get over it”, “Let it go”, dan lain-lain. Kalau semudah itu, Shakespeare nggak akan bisa bikin 154 soneta yang mengguncang dunia percintaan.

Perpisahan dengan pasangan, apakah itu pacaran atau perkawinan, tentu sulit. Keduanya sudah saling mempengaruhi kehidupan dan gaya hidup. Perpisahan ini bisa jadi mencetuskan kecemasan terhadap perpisahan atau separation anxiety.

Baca juga: Bunuh Diri Bukan Cuma Perkara Iman, sebab Ada yang Bunuh Diri Atas Nama Iman

Separation anxiety merupakan masalah mental yang sering ditemukan, terutama pada anak-anak yang baru berpisah dari orang tuanya. Namun, masyarakat kita masih enggan membahas persoalan-persoalan terkait penyakit mental.

Di Indonesia, tercatat lebih dari 150 ribu kasus kecemasan terhadap perpisahan terjadi pada anak-anak setiap tahunnya. Namun, belum ada yang mengungkapkan data pada orang dewasa.

Sebab itu, tidak lebay kalau kamu putus dari pacar atau bercerai, lalu merasa tidak sehat secara fisik. Kecemasan terhadap perpisahan juga bisa berwujud gejala fisik seperti sakit kepala, sakit tenggorokan, dan mual.

Setidaknya ada lima fase yang harus kita lalui agar bisa move on dengan sukses. Pertama, menerima apa yang terjadi. Penerimaan adalah langkah paling sulit. Untuk mengakui bahwa hidup kita berubah, bahwa orang tersebut mengambil cintanya dan berlalu, memang tidak mudah.

Penerimaan juga berarti kita harus mulai melupakan pertanyaan “kenapa begini”, “ini tidak adil”, “aku tidak mau begini”. Tentu saja perasaan-perasaan itu normal, tetapi menerima bahwa saat ini keadaan sudah berubah dan kamu tidak baik-baik saja adalah langkah paling penting.

Fase kedua adalah ketahui bagaimana caranya menjaga diri. Mungkin kamu harus menjauhi teman-teman yang positif beracun dan lebih banyak bertemu teman yang memahami sakitnya hati kamu. Kamu pun harus memperhatikan kesehatan fisik, jangan lupa makan dan memperhatikan kebersihan serta kesehatan tubuh.

Baca juga: Sebab Menikah itu Menyempurnakan Separuh dari Gengsi Sosial

Dalam fase ini, jangan sampai jatuh kepada hal-hal nyaman yang bersifat sementara, misal minum-minum dan belanja berlebih sampai harus ngutang pakai kartu kredit karena nggak mampu bayar tunai. Kamu pantas dan layak untuk melakukan hal yang kamu mau dan membuatmu nyaman, namun pastikan hal-hal tersebut tidak memberi lebih banyak masalah di masa depan.

Fase ketiga adalah berduka untuk sembuh. Perpisahan adalah kematian dari banyak rencana-rencana masa depan. Tentu saja, kita berhak betul untuk sedih. Dalam banyak kasus, duka dari perpisahan sama beratnya dengan duka terhadap kematian.

Namun, yang perlu kita ingat, kita berduka bukan untuk kembali ke masa lalu. Intensi kesedihan harus diarahkan menuju kesembuhan. Jika terus menerus teringat mantan, maka gunakan kenangan-kenangan tersebut sebagai panduan apa yang ingin kita lakukan di masa depan. Tentu saja, tanpa si mantan.

Artikel populer: Baiklah, Sekarang Kita Bicara Cinta dengan Logika Kepemilikan

Fase keempat adalah melepaskan diri dari mantan. Apapun yang dia lakukan bukan lagi urusan kita dan apapun yang kita lakukan bukan lagi urusan dia. Untuk pasangan yang sudah berbagi hidup sangat lama tentu hal ini sulit. Sebab itu, kita butuh bantuan fase kelima: bangun kembali identitas diri dan kepercayaan.

Saat ini, kamu bukan lagi pacarnya atau suaminya si A. Saat ini, kamu adalah diri kamu yang sebenar-benarnya. Tahukah kamu siapa dirimu yang sebenarnya? Kamu yang sesungguhnya selalu terlepas dari fase hidup yang sedang kamu jalani atau status yang kamu miliki. Ketika kamu menemukan dirimu, maka akan lebih mudah untuk fokus mengembangkan diri sendiri.

Terakhir, akun media sosialmu adalah milikmu. Kalau teman-teman di media sosial membuatmu merasa buruk ketika kamu berbagi tentang perasaan-perasaan yang nyata, atau tidak mendapatkan dukungan yang kamu butuhkan, kamu mungkin bisa berhenti main media sosial. Atau, berhenti berteman dengan mereka di media sosial.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.